Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 25 Aku menemukanmu


__ADS_3

Setelah memastikan gadis kecil itu sampai di rumahnya aku kembali lagi ke restoran karena kedua orang tuaku masih berada di sana, mereka pasti mencariku karena tadi aku pergi begitu saja setelah acara makan siang bersama.


" Where are you from?"Tanya dady setelah melihat kehadiranku.


" Cari angin." Jawabku singkat.


" Kamu pasti abis ngejar anak gadis yang tadi makan sama kita kan ?"Tanya mamy penasaran.


" Enggak mam, aku cuma keluar cari angin aja." Aku mengelak.


" Nggak usah bohong sama mamy, mamy perhatiin kamu dari masih di kampus selalu memperhatikan gadis itu, apalagi pas lagi makan siang tadi mamy lihat kamu selalu curi curi pandang ke arah gadis itu." Jawab mamy sambil tersenyum meledek-ku.


" Your girlfriend?"Tanya dady yang ikut penasaran juga.


" No dad, just friend."


" Mamy sama dady nggak larang kamu buat pacaran lagi Ze, tapi ingat jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi." Ucap momy.


" Habis ini mamy sama dady langsung ke bandara, kamu yakin belum mau ikut pulang ke California?" Imbuh momy.


" Kenapa cepet banget si mam, baru kemarin kalian sampai, masa udah mau balik lagi?" Merengek seperti anak kecil yang enggan berpisah dengan orangtuanya.


" Kami nggk bisa lama-lama ninggalin kerjaan di sana Ze, mamy harap kamu ngerti ya."


" Kamu yakin masih mau di sini?" Momy bertanya lagi.


"Iya mom, Ze masih mau di sini. Kalian ke bandara naik apa, Ze aja yang anterin ya?"


" Mamy udah pesen taxi Ze, bentar lagi pasti datang taxinya. Kamu di sini baik baik ya sama si mbok!"Mamy memelukku


Setelah berpelukan dan mengucapkan beberapa kalimat perpisahan taxi yang di pesan kedua orang tuaku akhirnya datang. Aku mengantar mereka sampai mereka masuk ke dalam taxi, mamy beberapa kami melambaikan tangan ke arahku sebelum akhirnya taxi yang mereka tumpangi menjauh dari restoran.


Aku masuk ke dalam mobil dan berniat untuk pulang ke rumah. Hari ini sangat melelahkan, rasanya aku ingin segera mandi dan tidur sepuasnya, menggantikan malam-malam yang terlewati tanpa tidur nyenyak karena sibuk dengan naskah skripsi. Belum sempat menghidupkan mesin mobil, ponselku berdering, aku mengambilnya di saku celanaku. Tumben Fajar nelfon, biasanya dia hanya akan mengirim pesan, gumamku dalam hati dan segera mengangkat panggilannya.


" Kenapa?" Jawabku tanpa basa-basi.


" Indhi ada sama kamu nggak?" Tanya Fajar dari seberang sana.


" Indhi. No, what happened?" Tanyaku balik


" Katanya dia pergi dari rumah, aku kira pergi sama kamu."

__ADS_1


" Kata siapa?"


" Kakaknya Indhi kesini, nyariin dia, katanya dia pergi dari rumah, abis adu mulut sama nyokapnya".


Mendengar penjelasan Fajar aku langsung mematikan panggilan telefonnya. Aku panik dan khawatir memikirkan kemana perginya gadis itu padahal sudah sore begini.


Aku menyusuri jalanan, mendatangi semua tempat yang mungkin dia datangi tapi nihil. Aku masih belum menyerah untuk mencari keberadaannya, sampai tak sengaja aku melintas di depan kampusku, aku menepikan mobilku di sisi jalan yang tidak terlalu ramai. Apa dia pergi kesana, tapi mana mungkin dia berani kesana sendirian, tapi nggak ada salahnya kan kalau aku memeriksanya.


Aku turun dari mobil dan bergegas pergi ke tempat itu karena sebentar lagi matahari sudah akan tenggelam, sepanjang jalan aku tak berpapasan dengan seorangpun, aku mulai ragu untuk melanjutkannya tapi sudah kepalang tanggung, aku sudah setengah jalan, kalau dia tak di sana anggap saja aku datang untuk melihat sunset disana.


Nafasku terengah-engah, aku beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas. Aku sampai di atas bukit bertepatan dengan tenggelamnya matahari dan aku mendapati sosok yang tengah aku cari sedang duduk seorang diri mengamati sang surya yang kembali ke peraduannya.


"Aku menemukanmu".


Langit senja yang berwarna jingga, hamparan bunga matahari yang mekar dengan indahnya, semilir angin yang menggoyangkan ilalang-ilalang serta seorang gadis cantik yang duduk menengadah memandangi sang surya nampak seperti sebuah lukisan nyata.


" Cantik ya?" Tanyaku saat aku sudah berada tepat di belakang gadis itu.


Gadis itu kaget dan menoleh ke arahku. Matanya terlihat sembab dan gurat kesedihan nampak jelas di wajahnya.


" Kamu ngapain disini?" Tanyanya sambil menghapus air matanya.


" Bukannya aku yang harusnya nanya kaya gitu, kamu ngapain di sini sendirian?"


" Jadi bukan urusan kamu juga kan aku ada di sini." Jawabku dan mengembalikan kalimatnya.


Dia terdiam dan kembali fokus melihat sunset, aku masih berdiri di belakangnya dan melihat dia beberapa kali menggosok lengannya sendiri. Dia masih memakai dres yang dia kenakan tadi siang, dres yang sempat membuatku terkagum kerana menambah keanggunan si pemakainya. Aku melepaskan jaketku dan memakaikan di punggungnya lalu aku duduk di sebelahnya dan ikut serta menonton pertunjukan yang sedang Tuhan tayangkan.


" Are you okay?"Aku memberanikan diri untuk bertanya setelah dia mulai terlihat tenang.


" Hmm." Singkatnya.


" Boleh aku tau alasan kamu di sini?"


" Aku hanya ingin sendiri, itu saja."


" Apa aku mengganggu?"


Dia menggangguk.


" Maaf ya sudah mengganggu, kalau begitu aku pergi saja, hati-hati pulangnya, kadang ada babi hutan di tempat ini." Aku berdiri tapi tak bersungguh-sungguh ingin meninggalkannya.

__ADS_1


" Jangan." Dia menahan tangan kiriku sambil menunduk.


" Kamu bisa berbagi denganku." Tawarku lalu duduk lagi di sebelahnya.


" Kenapa kamu menangis?"Aku mengusap air mata di wajahnya.


" Lagi pengin nangis aja."


" Apa ini karena aku, karena sikapku tadi siang?"


Dia hanya menggelengkan kepalanya dan masih diam membisu.


" Katamu aku harus jadi orang asing jika bertemu denganmu lagi, anggaplah aku orang asing sekarang, berbagilah denganku, tidak baik memendam semuanya sendiri".


" Aku...." Dia masih ragu melanjutkan ucapannya.


" It's okay, nggak usah di paksa kalau kamu memang nggak mau cerita."


" Aku benci sama ibu.?"


" Why?"


Dia menceritakan semua yang dia alami, perubahan sikap ibunya setelah ayahnya meninggal, kesulitan yang ia rasakan karena harus menuruti semua keinginan ibunya, kesedihan karena harus melupakan cita-citanya, dan kesepian yang ia rasakan karena kesibukan ibu dan kakaknya.


Setelah mengeluarkan semua keluh kesahnya, dia mengembuskan nafas, sepertinya hatinya mulai lega.


" Bagaimana, bukankah lebih baik berbagi dengan orang lain?" Tanyaku lagi setelah dia menyelesaikan ceritanya.


" Iya, terimakasih."


" Aku juga sama seperti kamu, aku kesepian. Kedua orangtuaku sibuk dengan bisnis mereka, dari kecil aku sudah terbiasa hidup tanpa mereka. Kamu beruntung masih memiliki kakak, sedangkan aku, hmmm aku hanya tinggal bersama pengasuhku selama ini. Apalagi sekarang mereka memilih untuk tinggal di California."


" Benarkah?"Jawabnya dengan suara serak khas orang habis menangis.


" Ya. Semua orang punya kisah sedih mereka dan..."


Aku menjeda kalimatku dan menatap wajahnya..


" Nggak baik anak cantik pergi dari rumah dalam keadaan marah. Dan kamu juga nggak boleh benci sama ibu kamu, beliau pasti punya alasan kenapa melarang kamu jadi arsitek seperti mereka. Kamu berhak marah kok, manusiawi namanya, tapi untuk membenci sepertinya kamu harus berfikir ulang."


Aku mengusap rambutnya dan perlahan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Menangislah lagi jika masih sedih, keluarkan semuanya, bebaskan hatimu dari amarah dan kebencian, tapi setelahnya berjanjilah untuk tidak pernah memangis lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2