Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 71 Aku tidak menyukainya


__ADS_3

"Sweety." Ucap kak Zean panik saat aku sudah memutar tubuhku dan kami saling berhadapan.


" Maaf aku pikir tadi Naura, dari belakang kalian terlihat sama, i'm so sorry."


" Naura?" Jawabku pura-pura tidak tau dengan kedatangan Naura.


" Heem, tadi dia kesini."


" Oh."


" Ayo masuk."


Aku mengikuti kak Zean masuk ke dalam rumahnya yang nampak sepi, aku duduk di sofa ruang kuarga sementara kak Zean pergi ke dapur mengambil minuman untukku.


" Mamy kemana?" Tanyaku penasaran setelah kak Zean duduk di sebelahku.


" Pergi ke rumah oma, beliau ingin melihat Sam."


" Oma?"Aku penasaran karena kak Zean belum pernah membahas tentang oma sebelumnya.


" Ibunya mamy." Jelas kak Zean singkat.


"Sama mbok Yem juga?"


" He.em."


" Masih marah sama aku." Tanyaku lagi karena aku sudah tidak tahan dengan sikap dingin kak Zean kepadaku


" Maybe."


" Yakin." Aku menggeser dudukku, menyisakan sejengkal jarak di antara kami.


" Aku nggak suka di bohongi."


" Aku kan sudah minta maaf." Aku kembali menggeser dudukku sehingga sudah tidak ada jarak lagi di antara kami.


" Masih marah?" Tanyaku sambil menatap wajah kak Zean.


" Ya." Jawabnya singkat, namun dia tidak berani menatapku.


" Sampai kapan?" Aku mencondongkan badanku ke arah kak Zean sehingga kak Zean reflek menarik tubuhnya ke belakang.


" kakak tidak suka berdekatan denganku?" Aku semakin mencondongkan badanku ke depan dan kak Zean semakin menarik tubuhnya ke belakang.


" Bukan begitu, hanya saja...."


" Hanya apa?" Aku mendekatkan wajahku lagi, semakin dekat dan kak Zean sudah tidak bisa bergerak lagi karena tubuhnya sudah membentur lengan sofa.


" Yakin tak ingin memaafkanku, padahal aku ingin memberi hadiah jika kakak mau memaafkanku." Aku menatap wajah kak Zean yang mulai memerah, rasakan sekarang, kamu fikir hanya kamu yang bisa melakukan hal konyol seperti ini agar bisa di maafkan.


" Hadiah?" Tanyanya dengan nafas yang mulai tersenggal.


" Ya, hadiah."


" Janji tidak akan berbohong kepadaku lagi."

__ADS_1


" Promise." Ucapku sambil mengulurkan jari kelingking, lalu kak Zean membalas tautan jari kelingkingku dan tersenyum, senyum yang sedari pagi sudah iya sembunyikan dariku.


" Mana hadiahku." Tagih kak Zean .


" Tutup matamu?" Perintahku dan kak Zean segera menutup matanya.


Aku mengambil jam tangan yang tadi ku beli dari dalam tasku, niat awalku ingin memberikan jam itu saat valentine nanti, tapi aku malah memberikannya hari ini. Biarlah, mau sekarang atau nanti, toh tetap kak Zean yang akan memakai hadian pemberianku.


" Buka matamu."


" Apa ini?" Tanya kak Zean setelah dia membuka matanya dan meraih kotak hadiah dari tanganku.


" Buka aja."


" Kamu membelinya untukku." Ucap kak Zean setelah membuka kotak kadonya.


" Ya. Kakak menyukainya." Tanyaku dengan antusian.


" Tentu, terimaksih. Tapi lain kali tak perlu membelikan sesuatu yang mahal, simpan uangmu untuk keperluanmu sendiri." Ucap Kak Zean sambil mengelus kepalaku.


" Tunggu aku mempunyai penghasilan sendiri kak, aku akan membelikan sesuatu yang mahal untuk kakak."


" Aku sudah tidak sabar menantikannya."


Kak Zean meletakan kotak jam tangan itu di atas meja lalu dia menarikku kedalam pelukannya.


" Maaf karena terlalu cuek padamu hari ini." Bisik kak Zean di telingaku.


" Maaf juga karena tidak jujur padamu kak." Ucapku lirih dan penuh penyesalan.


" Hemm."


" Aku lapar." Bisikku lagi.


" Memangnya belum makan?" Tanya kak Zean tanpa melepas pelukannya.


" Sudah tadi di Mall."


" Mall?" Dia melepaskan pelukannya dan kini berganti dengan menatap wajahku.


" Ya. Aku pergi nonton bersama teman-temanku."


" Nonton? Kenapa tidak mengajakku."


" Salah siapa seharian seperti tidak mengenalku, lagi pula ada Naura tadi, jadi nggak mungkin kan kita ngajakin kakak?"


" Oh ya temen kamu itu kenapa si?" Tanya kak Zean ambigu.


" Kenapa apanya kak?"


" Tadi dia ke rumah, memberiku hadiah juga, katanya sebagai ucapan terimakasih karna waktu itu memberinya tumpangan."


" Benarkah, Kakak tidak menolak hadiahnya?" Tanyaku pura-pura seolah aku tidak melihat mereka berdua tadi.


" Awalnya aku menolak, tapi dia malah mengancam tidak akan pulang jika aku tidak menerimanya. Aku tidak menyukai gadis itu, jangan terlalu dekat dengannya ya."

__ADS_1


" Kenapa memangnya kak?"


" Aku tidak suka dia berpenampilan seperti kamu."


" Kak Natasha yang membantunya merubah penampilan."


" Natasha?" Ulang kak Zean seakan ingin menanyakan bahwa Natasha yang aku maksud adalah Natasha yang di kenalnya.


" Ya, your ex girlfriend?"


" Dari mana mereka kenal?" Kata kak Zean penasaran, kini tangannya sudah berpindah di wajahku, mengelusnya dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga.


" Kata Naura mereka kenal dari sosial media, kak Natasha yang mengajaknya berkenalan."


" Natasha bukan tipe orang yang akan berteman dengan seseorang yang tidak di kenalnya, apalagi dengan yang tidak sepantaran dengannya." Terang kak Zean yang membuatku semakin yakin jika kak Natasha sengaja mendekati Naura, tapi aku masih belum tau apa motifnya.


" Oh ya, lalu kenapa kak Natasha mendekati Naura dan menyuruhnya berpenampilan sepertiku?"


" Entahlah. Sudahlah tidak perlu memikirkannya, tadi katamu lapar, tapi di rumah tidak ada makanan."


" Hadiah apa yang Naura kasih?" Aku masih belum mau mengakhiri topik ini.


" Jam tangan juga."


" Boleh aku melihatnya?"


" Silahkan, aku menaruhnya di atas meja makan." Ucap kak Zean lalu dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke dapur, tanpa di komando aku mengekor di belakangnya.


Setelah di dapur, aku segera meraih kado dari Naura dan membukanya. Aku menggertakan gigiku saat melihat jam tangan pemberian Naura.


" Kak bukannya ini hampir sama dengan yang aku beli." Aku menunjuk jam tangan pemberian Naura dan aku semakin tidak menyukainya. Jadi tadi dia pura-pura sakit padahal dia pergi ke toko jam itu lagi dan bagaimana dia bisa memilih jam yang modelnya hampir sama. Dia benar-benar ingin meniruku rupanya.


" Oh ya, aku belum sempat membukanya."


" Boleh untukku."


" Ambil saja jika kamu menyukainya."


" Terimakasih kak." Aku mengangkat sebelah bibirku dan menciptakan sebuah senyuman yang penuh kebencian.


" Baiklah jika kamu ingin bermain denganku Nau, aku ingin tau sejauh mana kamu bisa melakukan itu." Gumamku dalam hati.


" Sweety, hanya ada mie instan di sini, kamu mau?" Tawar kak Zean dan kedua tangannya sudah memegang mie instan.


" Boleh." Makan apapun asal bersamamu pasti menyenangkan kak, dari pada aku harus makan di rumah sendirian lebih baik aku makan di sini sebelum pulang.


Aku duduk mengamati punggung kak Zean yang tengah sibuk dengan mie instannya dan membuatku teringat akan kak Ega, aku seperti melihat kak Ega versi lain saat sedang bersama kak Zean, mereka mempunyai sifat yang hampir sama, cara mereka memperlakukanku juga sama dan lihatlah sekarang kak Zean bahkan menjilat bekas minyak bumbu mie instan sama persis dengan yang sering kak Ega lakukan.


Seandainya sejak awal aku tak perlu tau tentang semuanya, pasti sekarang aku akan merasa sangat bahagia, memiliki kakak yang menyayangiku dan memiliki kak Zean yang juga mencintaiku.


Andai waktu bisa di ulang, aku akan menarik semua ucapan-ucapan leluconku, aku akan berdoa agar kak Ega tetaplah menjadi kakakku dan biarlah dia menemukan wanita beruntung itu.


Mulai sekarang aku harus lebih hati-hati dalam berbicara, benar apa yang di katakan orang-orang di luar sana bahwasanya ucapan adalah doa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2