
" Indhi." Ucap kak Ega lirih tanpa membuka matanya.
" Aku mencintaimu, sangat."
Kak Ega merancau lagi, mungkin karena demam sehingga dia mengigau dan mengira aku wanita yang di cintainya.
Aku berlari turun ke dapur untuk mengambil baskom berisi air hangat yang akan ku gunakan untuk mengopres kak Ega. Aku juga mengambil roti di atas meja dan air mineral lalu mencari Paracetamol dari kotak obat dan membawanya kembali ke kamar kak Ega.
Aku dengan telaten mengompres dahi kak Ega dan keringatnya mulai bercucuran. Hampir satu jam tapi demam kak Ega tak kunjung turun. Aku mencoba untuk membangunkan kak Ega lagi tapi dia masih enggan membuka matanya. Bagaiaman caranya memberikan obat jika membuka mata saja dia tidak mau.
Aku membuka selimut yang menutupi kak Ega karena keringatnya semakin banyak. Saat aku menyingkapnya, sekujur badan kak Ega sudah basah terkena keringat dan aku harus segera mengganti pakainnya.
Aku mengambil kaos dan celana dari dalam lemari kak Ega, saat aku menarik baju tak sengaja aku menjatuhkan sebuah amplop yang tersimpan di bawah tumpukan baju milik kak Ega. Amplop bewarna coklat itu terjatuh di lantai dan isinya berserakan. Aku berlutut dan meraih satu per satu kertas yang berserakan. Aku mulai penasaran saat aku melihat amplop putih bertuliskan nama sebuah laboratorium. Aku meraih amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas yang masih terlipat. Aku membukanya dan terkejut melihat tulisan di bagian paling atas surat tersebut, HASIL IDENTIFIKASI DNA.
Aku membacanya perlahan, tertulis nama ayahku dan nama kak Ega disana. Selanjutnya aku tidak mengerti karena isinya seperti rumus kimia.
Aku melompati bagian itu, mataku tertuju pada tulisan bercetak tebal di bagian paling bawah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Pramono sebagai ayah biologis dari Kevin Ega Irvantara adalah 0 %.
Aku menitikan air mata setelah membacanya dan tidak menyangka kak Ega sampai melakukan tes DNA.
Aku kembali membacanya dari atas, berharap jika hasilnya akan berubah dan kak Ega tetap menjadi kakak kandungku.
Aku mendekatkan kertas itu ke wajahku, mengamatinya dengan seksama saat aku melihat bulan dan tahun pengambilan sampel DNA tersebut.
Tubuhku bergetar saat mengingat jika tahun itu sama dengan tahun kematian ayah dan bulannya, satu bulan tepat sebelum kematian ayah. Berarti selama ini kak Ega sudah tau kebenarannya, lalu kenapa kak Ega berbohong kepada kami? Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kak Ega menutupi kebenaran jika dia mengetahuinya sejak dua tahun yang lalu?
Aku kembali memasukkan surat itu kedalam tempatnya lagi dan memasukan amplop kedalam lemari kak Ega lagi, meletakannya di posisi awalnya, aku harap kak Ega tidak menyadari jika aku telah menemukan aplop itu.
***
" Kak, bangun, kakak harus ganti baju. Baju kakak basah." Aku berusaha membangunkan kak Ega lagi.
" Ndi."
" Iya ini aku. Kakak bisa bangun?"
" Hmm."
Aku membantu kak Ega untuk duduk, lalu membantunya melepas kancing kemeja yang dia kenakan.
__ADS_1
" Dari kapan kakak demam?" Tanyaku setelah berhasil melepas kemejanya. Kini kak Ega hanya memakai singlet berwarna putih.
" Dari siang tadi." Jawab kak Ega lemah.
" Kakak sudah makan?"
Kak Ega hanya menggeleng.
" Makan ini, setelah itu minum obat!" Aku mengambil roti yang ku bawa tadi dan menyerahkannya kepada kak Ega.
" Minum." Ucap kak Ega yang hampir tak terdengar olehku.
Aku megambil air dari atas meja dan membantu kak Ega untuk meminumnya.
" Tunggu sebentar kak, aku akan mengambil air hangat lagi."
Aku turun untuk mengambil air hangat yang akan ku gunakan untuk mengelap badan kak Ega yang penuh dengan keringat.
Aku kembali dan melihat kak Ega masih belum menghabiskan rotinya.
" Kenapa tidak di habiskan?"
" Pahit."
" Hmm."
Aku kembali membantu kak Ega untuk meminum obatnya. Setelah itu aku menyuruh kak Ega melepas singletnya. Aku sedikit ragu saat akan menyeka tubuh kak Ega, darahku berdesir saat aku menatap dada bidang milik kak Ega. Ada apa dengan diriku, apa mungkin hasil tes DNA itu mulai mempengaruhi perasaanku kepada kak Ega. Ini tidak boleh terjadi, selamanya kak Ega adalah kakakku, kakak kandungku.
Pada akhirnya aku tetap menyeka tubuh kak Ega yang basah dan membantunya memakai kaos yang baru.
" Tidur lagi, aku akan menemani kakak disini."
" Hmm."
Kak Ega kembali merebahkan tubuhnya, aku mengambil kursi dan membawanya ke samping tempat tidur kak Ega.
Aku duduk di kursi itu dan mengamati kak Ega yang sudah terlap kembali. Setengah jam berlalu aku kembali mengecek suhu kak Ega dan demamnya masih belum turun.
Aku kembali mengompres kak Ega berharap demamnya akan segara turun. Sudah lewat tengah malam dan demamnya malah semakin tinggi. Kak Ega mulai menggigil dan aku bingung harus bagaimana.
Aku meraih ponselku dan membuka mesin pencarian, mencari tau cara mengatasi orang yang mengigil. Aku membaca satu persatu poin yang tertulis di sana, hampir semuanya sudah aku lakukan, hanya tinggal satu poin yang belum aku coba yaitu pelukan.
__ADS_1
Aku menggerutu sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Resep macam apa ini, berpelukan akan meredakan demam.
Aku meletakan ponselku saat kak Ega kembali menggigil sambil merancau tidak jelas.
" Dingin." Ucap kak Ega.
" Kakak kedinginan?"
" Dingin Ndi, dingin."
Aku menarik selimut sampai leher kak Ega tapi tak berhasil menghangatkan kak Ega, badannya semakin menggigil, bahkan giginya mulai gemeretak.
Tak ada salahnya aku mencoba tips yang aku baca tadi, aku naik ke atas ranjang kak Ega dan masuk ke dalam selimutnya. Dalam hati aku terus menyakinkan diriku, ini kak Ega dia kakakku, dia tidak akan berbuat macam-macam, dia tidak akan menyakitiku.
Aku memposisikan badanku, salah satu tanganku menyusup kebawah kepala kak Ega, menyadari itu kak Ega membalik badannya dan melingkarkan tangannya di pinggangku sementara kepalanya menyusup di leherku.
Hampir setengah jam berlalu dan kak Ega sudah tidak menggigil lagi tapi demamnya masih tinggi. Aku mulai mengantuk dan tanpa sadar aku tertidur dengan posisi memeluk tubuh kak Ega.
****
Aku terbangun saat merasakan seseorang mengelus pipiku, aku mengurungkan niatku untuk membuka mata saat mendengar kak Ega mulai berbicara.
" Sejak kapan kamu jadi secantik ini." Ucap kak Ega sambil membelai pipiku.
" Aku harap ini mimpi dan aku tidak pernah bangun."
" Kau tau, aku sangat menderita menahan semua ini sendirian, aku harus membohongi perasaanku, aku harus berusaha keras untuk mengendalikan perasaanku."
" Maafin kakak Ndi, maafin kakak yang tidak bisa menepati janji kakak untuk menjadi kakak yang baik untukmu, maafin kakak karena kakak tidak bisa mengahapus perasaan ini, maafin kakak karena kakak mencintaimu."
Aku menggeliat dan mebalik tubuhku sehingga aku membelakangi kak Ega, air mataku mulai menetes dan aku tidak ingin kak Ega tau jika aku sudah bangun dan mendengar semua ucapannya. Sekarang malah aku yang berharap jika semua ini hanya mimpi dan aku ingin segera bangun, aku berharap apa yang aku dengar hanya sebuah lelucon dari kak Ega.
Kak ega mengusap rambutku lalu dia mencium kepalaku. Setelah itu aku mendengar kak Ega turun dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku menghela nafas dan membuka mataku perlahan. Aku menyesali setiap kata yang aku ucapkan dulu, aku sering bercanda jika kak Ega bukan kakakku maka aku akan menjadi kekasihnya dan sekarang Tuhan seperti sedang mengabulkan leluconku dan aku tidak mengharapkan itu.
Bersambung....
Hye semua apa kabar hari ini, semoga kalian semua segat ya..
Di part ini dan beberapa part ke depan mungkin aku akan lebih banyak menulis ttg kisah kak Ega dan Indhi..
__ADS_1
Semoga kalian tidak bosan ya dengan ceritaku..
Terus dukung aku ya, jangan lupa like dan vote karya recehku ini agar aku semakin semangat lagi ❤❤❤