Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 32 Kebetulan


__ADS_3

Hari ini hasil tryout yang pertama sudah keluar dan hasilnya sedikit mengecewakan di mata pelajaran Bahasa Inggris. Sepertinya aku harus mencari guru privat, di tempat les sebenarnya aku juga mengikuti mata pelajaran Bahasa Inggris tapi mungkin karena satu guru untuk beberapa murid jadi aku kurang memahami penjelasan guru, di tambah lagi aku memang sangat lambat untuk belajar bahasa asing.


Setelah makan malam aku masih membolak-balik kertas hasil tryout sambil beberapa kali menghela nafas. Mungkin lebih baik aku mendiskusikan tentang guru privat kepada kak Ega sekarang.


" Kak, aku boleh ya nyari guru privat?" Aku setengah berteriak sambil melompat-lompat menuruni tangga dengan kertas hasil tryout di tanganku.


Kak Ega menoleh ke arahku. Aku berhenti setelah melihat kak Dion sedang bersama kak Ega dan ikut menatap ke arahku.


" Ada kak Dion." Ucapku menahan malu karena kak Dion melihat tingkah konyolku.


" Iya." Ucap kak Dion sambil menahan tawanya.


" kamu butuh guru privat?" Ucap kak Ega setelah aku duduk di sebelahnya.


" He.eh, nilai Bahasa Inggrisku jelek. Mau minta di ajarin kakak tapi kakak-kan sibuk." Aku menyerahkan kertas yang sedari tadi aku bawa.


" Yang lain sudah bagus nilainya. Nanti kakak cariin guru Bahasa Inggris." Ucap kak Ega sambil melihat nikaiku.


" Biar aku aja gimana?" Tawar kak Dion.


Aku dan kak Ega menatap kak Dion bersamaan.


" Kalian nggak lupa kan kalau aku juga lulusan sastra Inggris." Tambah kak Dion.


Aku baru ingat kalau kak Dion kuliah dengan dua jurusan berbeda dan lulus secara bersamaan.


" Kamu kuliah dua jurusan?"Tanya kak Ega.


" Iya kak, ilmu komputer sama sastra Inggris."


" Waow." Ucap kak Ega kagum.


" Gimana, mau sama aku aja privatnya, dari pada aku nggak ada kerjaan?" Tawar kak Dion lagi.


" Boleh." Aku setuju dengan penawaran kak Dion.


" Buat biayanya berapa Yon?"Kak Ega menimpali.


" Astaga kak, apaan si pake bayar-bayar, aku ikhlas kok bantu Indhi." Tolak kak Dion.


" Nggak boleh gitu lah Yon, nggak usah sungkan tinggal bilang aja berapa!".


" Ya udah deh kalau kak Ega maksa. Gimana kalau bayarnya kak Ega traktir aku makan di luar setiap akhir pekan."

__ADS_1


" Oke, jadi deal ya."


***


Sudah hampir 2 minggu kak Dion menjadi guru privatku, dia datang ke rumah setiap hari setelah aku pulang sekolah , aku sangat bersyukur kak Dion mau membantuku, dia begitu sabar dan telaten mengajariku. Seperti pada perjanjian awal kami bertiga akan makan di luar setiap akhir pekan. Hari ini adalah akhir pekan yang kedua, kami berencana untuk makan di salah satu restoran yang tempatnya dekat dengan rumah sakit kak Ega. Aku dan kak Dion berangkat bersama dari rumah sementara kak Ega akan berangkat dari rumahsakit karena hari ini dia punya jadwal operasi.


Aku masuk terlebih dahulu saat kak Dion masih memarkirkan mobilnya, aku mencari kursi yang kosong dan tak sengaja melihat om Fajar dan pacarnya serta kak Natasha dan kak Zean yang sedang makan bersama.


" Indhi, kamu sama siapa." Tanya kak Viona setelah menyadari keberadaanku.


Kak Zean dan kak Natasha memutar tubuh mereka dan menatapku.


" Ayo gabung aja sama kita." Tawar kak Viona lagi.


" Udah dapet meja-nya." Terdengar suara kak Dion dari belakang-ku, sementara aku masih berdiri mematung.


" Oh sama Dion ternyata." Celetuk om Fajar.


" Kalian di sini?" Tanya kak Dion lalu menyalami teman-temannya.


" Mejanya penuh semua kak, kita cari tempat lain aja ya!"


" Sini aja Yon gabung sama kita tuh masih ada kursi kosong." Tawar om Fajar sambil menunjuk dua kursi yang kosong.


" Tadi kak Ega ngabarin aku, kalau dia nggak bisa dateng karena ada operasi darurat."


Akhirnya aku menyetujui tawaran om Fajar dan bergabung bersama mereka.


Aku menarik kursiku dan duduk di sebelah om Fajar, sementara kak Dion duduk di depanku dan bersebelahan dengan kak Zean. Dari tempat dudukku aku bisa dengan leluasa melihat kak Zean yang duduk tepat di seberang sana.


Aku menatap kak Zean yang juga sedang menatapku. Aku selalu bertekad untuk melupakan kak Zean tapi setiap kali aku melihatnya aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menatapnya, aku juga selalu kesal setiap melihat kak Zean bersama kak Natasha.


Pesanana kami datang bersamaan, ternyata mereka juga baru sampai di restoran ini. Aku memasan nasi goreng kambing dengan ekstra dua telur di atasnya sedangkan kak Dion memesan nasi goreng bebek cabe hijau.


Aku memotong telurku dan memberikan bagian putih telur kepada kak Dion begitupun kak Dion sebaliknya memberikan bagian kuning telurnya kepadaku. Dua minggu selalu bersama membuatku semakin dekat dengan kak Dion, pembawaannya yang dewasa membuatku nyaman berdekatan dengan kak Dion, aku bahkan sudah menganggapnya seperti kakak-ku sendiri dan bahkan kami melakukan ritual pertukaran telur seperti yang biasa aku lakukan dengan kak Ega.


" Jadi sekarang patner tukeran telurnya udah ganti ya?"Oceh om fajar yang ternyata memperhatikan kami.


" Sejak kapan kalian dekat?" Tanya kak Natasha dengan suara juteknya.


" Sejak aku jadi guru privatnya." Jawab kak Dion.


" Oh ya." Kak Zean menimpali dengan raut wajah yang terlihat kesal.

__ADS_1


" Hmm, setiap hari aku datang ke rumah-nya dan mengajarinya bahasa asing. Kadang aku menjemputnya dari sekolah dan kami juga selalu makan siang bersama." Imbuh kak Dion yang sepertinya sengaja menjelaskannya dengan begitu detail.


" Wah, romantisnya." Ucap kak Viona yang semakin membuat wajah kak Zean terlihat kesal.


" Pantas saja Indhi nggak pernah main ke rumah lagi, tenyata sudah ada yang nemenin setiap hari." Ucap om Fajar sambil melirik kak Zean.


Aku hanya diam saja mendengar ocehan mereka, aku menyelesaikan makananku dan pamit untuk ke toilet.


Saat aku keluar dari toilet tiba-tiba tanganku di cekal oleh seseorang dan ternyata kak Zean yang sudah menunggu di depan toilet.


" Kamu memakai gelangnya." Ucap kak Zean saat melihat gelang pemberiannya melingkar di tanganku.


" Ada apa kak?"


" Kalung itu, kenapa bisa ada padamu. Bukannya kak Ega membeli kalung itu untuk pacarnya?"Kak Zean bergumam lirih dan aku kurang jelas mendengar apa yang dia ucapkan.


" Kenapa dengan kalungnya?" Aku memegang kalung yang menghis leherku.


" Cantik." Jawabnya singkat dan membuat wajahku memanas.


" Ada perlu apa kakak disini?"Aku kembali ke topik awal pembicaraan.


" Aku... Aku habis dari toilet juga."


" Oh, aku duluan kak, pasti kak Dion menungguku."


" Kenapa, kamu khawatir dia akan meninggalkanmu.?"Nada suara kak Zean meninggi.


" Ya." Jawabku singkat.


" Apa kamu menyukainya?"


" Bukan urusan kakak."


" Jadi kamu menyukainya."


" Tentu saja. Gadis mana yang tidak menyukai kak Dion, dia sangat perhatian dan juga tidak plin-plan."


" Berhenti mengurusi urusanku kak, kamu nggak berhak." Imbuhku lagi.


Aku meninggalkan kak Zean yang masih berdiri mematung. Bagus Indhi, semua yang kamu lakukan sudah benar, jangan menyesal karena sudah berkata kasar kepada kak Zean. Inilah akhirnya, aku harus segera menuntaskan perasaanku kepada kak Zean.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2