Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 22 Setelah sekian lama


__ADS_3

Tak terasa lima bulan telah berlalu semenjak pertemuan terakhirku dengan kak Zean. Setelah malam itu, aku tak penah mendengar kabar apapun darinya. Aku sempat beberapa kali mengirim pesan kepadanya namun tak kunjung mendapat balasan dari kak Zean. Aku juga pernah beberapa kali bertanya kepada om Fajar, katanya dia sedang sibuk menyiapkan sidang srikpsinya. Akhirnya aku menyerah, aku berhenti pada sesuatu yang bahkan belum aku mulai.


Beberapa bulan ini aku masih di sibukkan dengan sekolah dan beberapa les tambahan. Menjadi siswa tingkat akhir di SMP , menguras banyak waktu dan tenagaku, sampai tak ada ruang untuk memikirkan perasaanku.


Aku duduk di depan cermin meja riasku, aku menatap lekat gelang pemberian kak Zean yang masih saja melekat di pergelangan tanganku. Sampai hari ini, setelah ratusan hari terlewati aku masih belum mengerti kenapa kak Zean menghilang begitu saja. Aku kerap bertanya pada diriku sendiri, di mana letak salahku? Terakhir kami bertemu, aku pikir kami semakin dekat, tapi ternyata dugaanku salah, hanya aku yang merasa dekat dengan dia dan tidak sebaliknya.


Hari ini aku akan menghadiri acara kelulusan om fajar, sebenarnya aku sudah menolak tapi bukan Arum namanya jika tidak bisa memaksaku untuk pergi. Akhirnya dengan sedikit berat hati aku mengiyakan ajakan Arum untuk menemaninya. Aku sedikit khawatir, bukan tidak mungkin di sana aku akan bertemu dengan kak Zean kan.


Aku merapikan dres berwarna peach yang menjuntai sampai di atas lutut. Aku menyisir rambutku dan membiarkannya terurai.


" Kak di mana bunganya?" Aku bertanya kepada kak Ega yang masih berada di kamarnya.


" Di atas meja makan." Jawab kak Ega setengah berteriak.


Aku menuruni tangga dan menuju dapur. Aku menggelengkan kepala saat melihat buket bunga anyelir berwarna merah muda di atas meja..


" Kakak." Aku berteriak.


" Apa?"Ternyata kak Ega sudah berada di belakangku.


" Aku kan mintanya warna merah, bukan merah muda kak!"


" Memang apa bedanya si, sama-sama anyelir kan?"


" Beda maknanya kak, merah itu untuk persahabatan kalau merah muda itu untuk kasih sayang." Terangku sedikit kesal.


" Ya udah tinggal beli lagi aja!"

__ADS_1


" Udah ah, sayang uangnya." Aku mengalah pada akhirnya.


Aku berpamitan kepada kak Ega, aku sengaja berangkat telat agar tidak terlalu lama di sana. Aku naik taxi yang sudah di pesan oleh kak Ega. Tadinga kak Ega bersikeras ingin mengantarku, tapi aku menolaknya karena kak Ega baru saja pulang dari rumah sakit, dia pasti lelah dan butuh istirahat.


Aku turun dari taxi dan melihat Arum sudah menungguku di depan pintu gerbang kampus.


" Kenapa lama banget sih?"Protes Arum.


" Memangnya sudah mulai?" Aku balik bertanya.


" Udah dari tadi, ayo buruan!"


Arum menarik tanganku dan kami berjalan menuju aula tempat wisuda di laksanakan. Aku menolak saat Arum mengajakku masuk, aku lebih memilih menunggu di luar ruangan.


Hampir satu jam menunggu, aku melihat om Fajar, Arum dan kedua orang tuanya keluar dari aula. Aku menghampiri mereka dan memberikan buket bunga anyelir kepada om Fajar dan mengucapkan selamat kepadanya.


Tak berselang lama aku melihat kak Zean keluar dari aula bersama dua orang yang pasti adalah kedua orangtuanya.


" Ndi. Indhi." Teriak Arum yang melihatku tengah melamun.


" Kenapa?" Tanyaku dan masih memperhatikan kak Zean.


" Kamu yang kenapa? Liatin apa si sampai pucet gitu mukanya?" Arum mengikui arah pandanganku dan melihat kak Zean.


" Ayo. Nggak usah di liatin. Makan ati entar. Mending ikut foto-foto aja!" Arum menarik tanganku dan berjalan ke arah keluarganya yang sedang mengabadikan momen kelulusan om Fajar. Rupanya ada kak Viona juga di sana. Aku menyapa kak Viona kemudian ikut berfoto dengan keluarga Arum.


Aku pamit pulang setelah acara foto-foto selesai, tapi tante Marisa melarangku dan malah mengajakku ikut ke restoran untuk merayakan kelulusan om Fajar. Aku tak bisa menolak ajakan tante Marisa, akhirnya aku setuju ikut dengan mereka. Aku, Arum dan kedua orangtuanya pergi terlebih dahulu ke restoran, sementara om Fajar akan menyusul setelah mengabadikan momen terakhir bersama teman-temannya.

__ADS_1


Tak lama om Fajar datang bersama beberapa orang yang aku kenal. Ada kak Viona, kak Dion, kak Natasha dan kak Zean.


" Hye Indhi, lama nggak ketemu, makin cantik aja." Sapa kak Dion sambil melambaikan tangan ke arahku.


Aku hanya tersenyum kepada kak Dion dan melambaikan tangan kearahnya dengan canggung.


Aku melirik ke arah kak Zean untuk beberapa saat. Kami benar benar seperti orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya. Kami sama sekali tak saling menyapa.


Tak lama kemudian datang sepasang suami istri yang menghampiri kak Zean, lalu kak Zean mengenalkan mereka kepada kami. Ya mereka adalah orang tua kak Zean dan akhirnya merekapun bergabung bersama kami.


Aku hanya terdiam mendengerkan pembicaraan para orang tua. Aku sedikit terkejut saat orangtua kak Zean mengatakan bahawa restoran ini adalah milik mereka.


Aku merasa bosan, apalagi melihat sikap kak Zean yang seolah tak mengenalku membuatku semakin ingin pulang. Selesai makan, aku pamit untuk pulang duluan karena hari sudah mulai sore. Kak Dion menawarkan untuk mengantarku pulang namun aku menolaknya dengan alasan aku mau mampir ke tempat lain dulu.


Aku keluar restoran sendirian dan menunggu taxi di pinggir jalan. Sudah beberapa menit berlalu tapi belum ada satupun taxi yang melintas di depanku. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku. Aku seperti pernah melihat mobil ini sebelumnyya dan ketika si pemilik mobil keluar aku baru ingat pernah melihatnya saat akan ke pantai waktu itu.


Jadi bisa kalian tebak kan siapa pemilik mobil ini. Yah, mobil miliknya, Ze.


" Mau aku antar?"Kak Zean mendekat ke arahku..


" Nggak. Terimakasih. Permisi." Aku menolak tawaran-nya dan segera pergi meninggalkan kak Zean.


Dasar orang aneh, baru beberapa menit yang lalu dia seperti orang yang tidak mengenalku, dan sekarang apa, ingin mengantarku pulang katanya. Kamu pikir cuma kamu yang bisa bersikap seenaknya seperti itu. Tiba-tiba datan lalu pergi, tiba-tiba bersikap baik lalu acuh lagi. Dasar manusia tak berperasaan. Kamu pikir aku hanya seorang gadis kecil yang bisa kamu permainkan kan. Aku terus berjalan sambil mengutuk semua sikap kak Zean kepadaku. Aku berhenti saat merasakan seseorang sudah mencengkal tanganku, aku berbalik dan melihat siapa yang sudah melakukannya.


" Ze."....


__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2