
Hari ini setelah sarapan bersama kak Ega benar-benar mengantarkan aku pulang ke rumah ibu sedangkan ibu sudah pulang lebih dulu karena beliau harus ke kantor. Rasanya aku ingin sekali tetap di sini menemani kak Ega, tapi aku juga harus memberi waktu kak Ega untuk menenangkan fikirannya.
Setelah selesai mengemas pakaianku dan beberapa barang lainnya, aku menyeret koperku dan berhenti di tengan pintu kamarku, mengamati setiap sudut kamar yang setahun terakhir ini aku tempati.
Aku menuruni tangga satu persatu secara perlahan, pandanganku masih tak bisa lepas dari pintu kamarku yang telah tertutup rapat.
Di pertengahan tangga tiba-tiba saja aku tak bisa menahan air mataku lagi, sedih rasanya harus meninggalkan rumah ini dan bayangan akan kehilangan kak Ega sama sekali tidak lepas dari kepalaku.
Kak Ega membantuku memasukan koper ke dalam bagasi, aku masuk ke dalam mobil dan setelahnya kak Ega menyusul masuk dan menghidupkan mesin mobilnya.
" Kak."
" Kenapa?" Jawab kak Ega sambil memasang sabuk pengaman di badannya.
" Bisakah kita tetap tinggal disini?"
Kak Ega hanya menggelengkan kepalanya.
" Kak."
" Apa lagi Ndi?"
" Kakak akan terus menyayangiku kan?" Aku bertanya lagi kepada kak Ega dengan suara bergetar dan tanpa ku sadari air mataku sudah menetes.
" Semalaman kamu sudah bertanya seperti itu dan jawaban kakak tetap sama, kakak akan selalu menyayangi gadis kecil kakak ini, tidak akan ada yang berubah." Kak Ega memutar badannya lalu mengusap air mataku.
" Jangan menangis lagi atau kakak tidak akan menyusulmu pulang nanti."
Aku segera menghapus air mataku dan sebisa mungkin untuk menahannya agar tidak menetes lagi.
Perjalanan pulang kali ini terasa sangat berbeda, ada kak Ega di sebelahku tapi entah mengapa aku merasa kak Ega begitu jauh. Aku menatap lekat wajah kak Ega, ada guratan kesedihan di wajah tampannya dan senyum yang biasa dia kembangkan tak aku dapati lagi dari semalam.
Aku memutar kepalaku, pandanganku kini fokus pada rintik-rintik hujan yang mulai turun dan membasahi jalan. Aku tak menyukai hujan kali ini karena di tetesan pertamanya aku harus berpisah dengan kak Ega meskipun itu hanya sementara.
Sibuk dengan kesedihanku sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kak Ega sudah menghentikan mobilnya di area parkir sebuah pusat perbelanjaan.
" Tunggu sebentar disini, ada barang yang harus kakak ambil di dalam!" Kak Ega melepas sabuk pengamannya lalu keluar dan berlari masuk ke dalam mall.
Beberapa menit kemudian kak Ega keluar dan membawa paper bag di tanganya.
" Untukmu." Kak Ega memberikan papper bag itu kepadaku setelah dia masuk ke dalam mobil.
" Apa ini?" Aku meraih papper bag itu dan memangkunya, aku sama sekali belum ada niat untuk melihat apa isinya.
__ADS_1
" Hadiah ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, tetaplah jadi gadis kecil yang selalu membanggakan kakak. Maaf semalam kakak tidak sempat mengucapkannya."
Aku melepaskan sabuk pengamanku dan memeluk tubuh kak Ega yang terasa dingin karena terkena hujan saat dia mengambil hadiahku tadi. Kak Ega membalas pelukanku, dia menepuk pungggungku sebelum akhirnya dia melepas pelukanku dan mencium keninggku.
" Tidak mau lihat apa hadiahmu?"
" Mau."
" Bukalah."
Aku membuka papper bag yang ada di pangkuanku lalu merogoh isinya dan menemukan sebuah kotak di dalamnya. Aku membuka kotak itu dan tersenyum melihat sebuah jam tangan yang sudah aku idamkan dari beberapa bulan yang lalu.
" Dari mana kakak tau aku menginginkan jam ini?"
" Bagaimana kakak tidak tahu, kamu menempel fotonya di celengan ayam jagomu, pasti kamu sengaja kan melakukan itu supaya kakak membelikannya." Jawab kak Ega.
" Bukan begitu, aku menempelnya di sana agar aku semangat nabungnya kak. Tapi karena kakak sudah membelikannya berarti ayam jagoku akan aman sekarang."
" Kamu menyukainya?"
" Hmmm, sangat sangat menyukainya. Terimakasih kak."
" Baguslah kalau kamu menyukainya."
Setengah jam berlalu mobil kak Ega sudah berhenti di halaman rumah ibu. Kak Ega turun terlebih dahulu lalu membuka bagasi dan menurunkan koper milikku.
Aku turun dan menunggu kak Ega di depan pintu rumah. Kak Ega berjalan mendekatiku sambil membawa dua koper di kedua tangannya.
" Masuklah, kakak harus segera kembali ke rumahsakit!"
" Kakak tidak masuk dulu."
" Kakak buru-buru, ada urusan yang harus kakak selesaikan." Tolak kak Ega.
Kak Ega kembali mengelus rambutku lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri di depan pintu rumah ibu. Aku membuka pintu setelah mobil kak Ega menjauh.
" Biar bibi yang bawa non." Bi sumi meraih kedua koperku lalu membawanya menuju kamarku.
" Ibu ke kantor bi?" Tanyaku setelah sampai di kamar.
" Iya non, tapi katanya pulang cepat hari ini. Ada tamu yang mau datang."
" Siapa bi?"
__ADS_1
" Kata nyonya si salah satu clientnya, makannya bibi di suruh masak banyak hari ini."
" Tumen sekali ibu membawa klientnya makan di rumah?" Gumamku dalam hati.
Setelah membongkar isi koperku dan memindahkan semua baju ke dalam lemari, bi Sumi pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Setelah bi Sumi pergi aku memutuskan untuk mandi lagi karena badanku terasa lengket dan membuatku tidak nyaman.
Selesai mandi aku mengganti pakaianku, aku hanya memakai celana pendek dan tank-top. Setelah mengeringkan rambut, aku merebahkan tubuhku di kasur yang sudah setahun ini aku tinggalkan. Aku memejamkan mataku dan tanpa sadar aku tenggelam dalam mimpiku.
**
Aku terbangun karena merasa haus dan saat aku membuka mataku ternyata hari sudah gelap. Aku menatap jam yang berada diatas meja sebelah tempat tidurku, sudah jam 7 malam rupanya. Lama sekali aku tidur hari ini , mungkin karena semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Aku turun ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa aku makan, aku menguap dan merentangkan tanganku saat menuruni tangga. Aku menghentikan langkahku saat aku melihat seseorang sedang menatapku dengan senyum di wajahnya.
" Ze."
" Ganti bajumu dan ikut makan malam bersama kami." Perintah ibu yang akhirnya menyadarkanku.
Aku memutar tubuhku dan berlari ke dalam kamarku. Aku mengamati pakaian yang aku kenakan tadi dan merutuki kebodohanku karena tak menyadari ada orang lain di rumah ini.
" Cepat Ndi, nanti makanannya dingin." Teriak ibu dari dapur.
Setelah mengganti baju yang layak pakai aku segera turun dan bergabung dengan ibu. Aku menarik kursi di sebelah ibu dan duduk berhadapan dengan kak Zean.
" Kenalin ini nak Zean, dia salah satu client ibu." Ucap ibu mengenalkan tamunya kepadaku.
" Indhi sudah kenal bu, sangat kenal." Jawabku yang membuat ibu terkejut.
" Benarkah begitu. Dari mana kalian bisa saling kenal."
" Pak Zean ini wali kelasku bu."
" Oh ya, kebetulan sekali ya nak Zean. kalau Indhi macam-macam di sekolah segera kabari ibu ya nak."
" Indhi anak yang baik kok bu, kesalahannya cuma satu." Ucap kak Zean menggantung.
" Apa yang Indhi lakukan nak?" Suara ibu terdengar khawatir.
" Dia pencuri bu."
Be****rsambung
__ADS_1