
POV AUTHOR
Setibanya di sekolah Ega segera menemui kepala sekolah diruangannya, dia mengetuk pintu sebelum akhirnya sipemilik ruangan membukakan pintu.
" Ada yang bisa saya bantu?" Tanya kepala sekolah yang memang tidak mengenal Ega sebelumnya.
" Saya kakaknya Indhi." Jawab Ega singkat.
Ibu kepala sekolah segera mempersilahkan Ega untuk masuk karena memang dia tengah menunggu wali dari Indhi. Saat Ega masuk ternyata Naura dan papahnya sudah berada di sana. Ega menatap lekat wajah gadis yang telah menyebabkan adiknya terluka, gadis itu hanya menunduk dan meremas tangannya sendiri.
" Silahkan duduk pak." Ibu kepala sekolah mempersilahkan Ega duduk, kemudian dia juga bergabung dengan tamunya.
" Jadi kamu yang sudah melukai Indhi dua kali?" Cetus Ega penuh amarah, dia menggertakan giginya, berusaha untuk menahan emosinya.
" Apa maksudnya dengan dua kali pak?" Tanya ibu kepala sekolah tak mengerti.
" Beberapa bulan yang lalu, anak ini juga melukai adik saya, wajahnya di gores dengan cutter dan kakinya terkilir, hampir tiga minggu adik saya harus berjalan menggunakan tongkat."
Ibu kepala sekolah menutup mulutnya karena terkejut dengan penuturan Ega, dia juga menatap Naura lekat, tak percaya gadis pendiam seperti Naura bisa berbuat hal sejahat itu kepada temannya.
" Dan sekarang kamu berusaha melukainya lagi, Indhi harus di operasi gara-gara kamu." Bentak Ega.
" Kenapa anda menyalahkan putri saya, adik anda jatuh sendiri." Elak papah Naura menepis tuduhan Ega.
" Banyak teman-teman mereka yang menyaksikan kejadiannya, anak anda yang sudah mendorong adik saya hingga terjatuh." Seru Ega, wajahnya mulai merah padam karena emosinya yang membuncah.
"Tenanglah pak, kita bisa membicarakannya dengan baik-baik." Lerai ibu kepala sekolah.
" Dulu adik saya sudah memaafkannya dan tidak melaporkan anak ini ke sekolah karena adik saya percaya dia akan menyesali perbuatannya, tapi ternyata adik saya salah, anak ini tidak berubah sama sekali, kali ini saya tidak akan tinggal diam." Seru Ega, dia tidak mengindahkan perkataan kepala sekolah.
" Anak anda melakukan tindakan kriminal hanya karena tidak mau tersaingi oleh adik saya, seharusnya anda sebagai orang tua merasa malu karena gagal mendidik anak anda." Imbuh Ega sebelum mengakhiri kalimatnya.
" Adik anda yang curang dan menipu teman-temannya, saya dengar adik anda memacari gurunya agar nilainya bagus kan, anak saya adalah anak yang pintar, dia tidak akan kalah jika adik anda tidak curang." Papah Naura menatap Ega dengan tajam.
__ADS_1
" Di sekolah ini bukan hanya anak anda yang pintar, banyak murid lain yang lebih pintar dari anak anda dan salah satunya adalah adik saya." Seru Ega tak terima Indhi di sebut curang.
" Tapi benar kan adik anda menjalin hubungan dengan wali kelasnya?" Ucap Papah Naura dengan angkuh, dia menyeringai seolah telah memojokkan Ega.
Ega membeku karena semua yang di ucapkan laki-laki itu benar adanya, Indhi dan Zean memang menjalin hubungan.
" Memang benar mereka menjalin hubungan, tapi pak Zean selaku pihak yang bersangkutan sudah mengundurkan diri dan untuk masalah curang saya rasa pak Zean tidak melakukannya, Indhi memang anak yang berprestasi, para guru juga setuju jika Indhi mendapat nilai bagus karena usahanya bukan karena pak Zean curang." Ucap ibu kepala sekolah mencoba menengahi mereka.
" Kalau begitu kita lakukan tes ulang, saya ingin tau apakah adik anda benar-benar pintar atau dia sebenarnya hanya pintar merayu gurunya agar mendapat nilai bagus." Cela Papah Naura yang membuat Ega semakin geram.
" Apa maksud anda." Seru Ega tak terima.
Ditengah perdebatan mereka pintu kembali terbuka dan dua wanita yang hampir seumuran masuk bersamaan.
" Ibu." Ucap Ega setelah melihat ibunya masuk dan menghampirinya.
" Dokter Kevin." Panggil wanita yang masuk bersama ibunya.
" Kamu mengenalnya?" Tanya Papah Naura kepada wanita itu yang ternyata adalah istrinya.
" Oh jadi ini anak haram yang selama ini kamu cari." Ucap Papah Naura dengan kasar, dia bahkan menunjuk wajah Ega dengan jarinya.
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengan hinaan papah Naura, tetapi tidak dengan Ega yang sudah mengenal wanita itu dari jauh-jauh hari.
" Berani sekali anda menghina anak saya." Seru ibu tak terima putranya di hina. lalu dia menatap wanita yang berada di depannya yang dia yakini jika wanita itu adalah ibu kandung Ega.
" Memang benar kan dia anak haram yang anda pungut dipinggir jalan." Papah Naura kembali mengeluarkan kata-kata kotornya.
" Mas hentikan." Ujar istrinya lirih, namun laki-laki itu tidak menggubris ucapan istrinya, dia memandang Ega dan menatapnya penuh hina.
Ibu berdiri dan berusaha menyerang papah Naura yang sudah melewati batas, namun Ega menahannya, dia ikut berdiri lalu memeluk ibunya.
" Tenang bu, kita disini untuk masalah Indhi, ibu jangan terpancing dengan omongan orang itu " Bisik Ega menenangkan ibunya.
__ADS_1
" Baiklah setelah Indhi sembuh kita akan melakukan tes ulang, tapi sebelumnya saya akan melaporkan anak anda kepolisi." Gertak Ega setelah dia menenangkan ibunya dan mereka kembali duduk.
Naura yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat kepalanya dan metapa Ega penuh penyesalan, matanya berkaca-kaca, dia tidak percaya masalahnya akan sejauh ini, sementara papah dan mamahnya juga terkejut dengan ancaman Ega.
" Tenanglah pak Kevin, kita bisa membicarakannya secara kekeluargaan." Ucap ibu kepala sekolah yang sedari tadi memilih diam.
" Maaf bu keputusan saya sudah bulat, lagipula mereka tidak bisa di ajak bicara baik-baik." Jawab Ega yakin.
" Vin mamah mohon jangan laporkan Naura ke polisi, dia adikmu. Lagi pula dia masih dibawah umur" Pinta mamah Naura.
" Maaf adik saya hanya Indhi dan saya juga tidak sudi memiliki adik kriminal seperti dia."
" Pelaku penganiayaan dapat dijerat dengan pasal 76C jo, pasal 80 ayat (1) Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 35/2014”)." Ega membacakan pasal yang dia lihat di ponselnya.
" Tapi dia bukan adikmu, sedangkan Naura jelas-jelas adik kandungmu, kalian keluar dari rahim yang sama." Mamah Naura masih belum menyerah, dia mencoba mendapatkan simpati Ega dengan memperjelas hubungan mereka.
" Bagi saya Indhi satu-satunya adik saya dan ibu satu-satunya ibu kandung saya. Saya tidak akan memaafkan anak anda, jadi berhentilah mengulik masa lalu, saya sudah tidak hidup disana lagi dan saya tidak pernah mengenal anda."
" Ibu, saya mohon kepada anda untuk tidak melaporkan putri saya." Pinta mamah Nuara kepada ibu Indhi.
" Keputusan saya dan putra saya sudah bulat, kami akan melaporkan anak anda." Tolak Ibu Indhi yang membuat mamah Naura meradang.
" Dia bukan putra anda, dia anak saya, saya yang melahirkannya." Ujar mamah Naura setengah berteriak.
" Dia memang tidak lahir dari rahim saya, tapi saya menyayangi dia sama seperti saya menyayangi anak kandung saya. Semua wanita bisa melahirkan tapi tidak semua wanita bisa menjadi ibu yang baik." Sindir Ibu Indhi.
" Dan satu lagi jangan pernah mengganggu putra saya, bukankah anda dulu tidak menginginkannya, aneh rasanya jika anda tiba-tiba datang dan mengakui putra saya sebagai anak anda."
" Tapi dia memang anak saya, kami sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok."
" Hubungan ibu dan anak tidak hanya tentang darah, darah kami mungkin berbeda tapi kami saling menyayangi satu sama lain, kami saling membutuhkan satu sama lain, itulah yang disebut hubungan ibu dan anak dan mungkin anda tidak mengerti tentang hal itu, karena anda tidak pantas di sebut sebagai seorang ibu."
" Ibu kepala sekolah, mohon maaf atas keributan yang kami lakukan, setelah Indhi sadar mari kita melakukan ujian ulang seperti permintaan mereka, kami juga akan tetap membawa kasus ini ke ranah hukum, kami rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kami bicarakn, saya permisi."
__ADS_1
Ibu meraih tangan Ega dan menuntunnya keluar dari ruangan itu, sementara orangtua Naura menatap getir kepergian mereka, mereka tidak menyangka jika putri kesayangan mereka akan berakhir di penjara karena perbuatannya.
BERSAMBUNG.....