Lara Cintaku

Lara Cintaku
EXTRA PART


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan lewat tengah malam saat Indhi terbangun dari tidur panjangnya. Ibu dan Ega bisa bernafas lega saat Indhi mulai membuka matanya dan menggerakkan ujung jarinya.


"Sudah bangun?" Tanya Ega lembut.


Indhi hanya mengedipkan kedua matanya karena tubuhnya masih lemah. Sementara ibu hanya diam menahan air matanya, ibu tak mampu berucap apapun, segala syukur tak henti-hentinya dia ucapkan karena putrinya telah kembali sadar.


***


Setelah dua hari dirawat keadaan Indhi sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang hari ini. 3 hari sudah Ega mengambil cuti dan waktunya ia gunakan untuk menemani Indhi dirumahsakit.


Ega tengah mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang, sementara ibu tengah menyuapi Indhi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan sesaat kemudian dua gadis cantik masuk dengan senyum diwajah mereka.


"Kalian datang." Tanya Ega ditengah kesibukannya memasukan barang-barang kedalam tas.


"Hem."Jawab Dita singkat.


Kedua gadis itu melewati Ega dan segera memeluk sahabatnya yang sedang duduk diatas ranjang pasien.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Arum seraya menatap wajah Indhi yang masih pucat.


"Sudah lebih baik."


"Kami sangat mengkhawatirkanmu, jangan pernah lakukan hal itu lagi, mengerti!" Seru Arum, sementara Dita hanya diam, wajahnya diliputi penyesalan.


"Maaf." Ucap Indhi lemah. "Dit." Indhi menatap sahabatnya yang sedari tadi hanya diam, padahal biasanya Ditalah yang paling berisik diantara mereka. Indhi tau Dita sedang merasa bersalah kepadanya karena dialah yang membantu Indhi mendapatkan obat itu, ditambah Arum sudah menceritakan tentang kemarahan kakaknya setelah tau jika Dita yang membelikan obat itu untuk Indhi. "Maafin aku Dit, aku tidak bermaksud.."


Dita menggeleng dan segera memotong kalimat Indhi. "Harusnya aku yang minta maaf, gara-gara aku kamu jadi seperti ini, maafin aku Ndi." Ucap Dita dengan mata berkaca-kaca.


"Semua ini bukan salahmu Dit, aku yang salah, aku tidak bisa berfikir jernih, maafin aku, aku janji nggak akan nglakuin hal itu lagi."


Arum dan Dita segera memeluk Indhi, ketiganya saling meneteskan air mata. Indhi menyesal karena telah membuat orang-orang terdekatnya menderita karenanya, Arum menangis terharu mendengar janji sahabatnya, sementara Dita, dia menangis karena beberapa alasan, menangis haru karena sahabatnya atau menangisi kisah cintanya.


****


Seminggu sudah setelah Indhi pulang dari rumahsakit dan kondisinya semakinmembaik. Pagi ini Indhi turun dan bergabung bersama ibu serta kakaknya yang sedang sarapan.


"Pagi." Sapa Indhi sambil menarik kursi lalu duduk disebelah Ega.


Ibu dan Ega saling menatap, mereka terkejut karena tiba-tiba Indhi turun dan bergabung bersama mereka untuk sarapan, selain itu penampilan Indhi juga sudah rapi.


"Pagi." Jawab Ega sambil tersenyum.


"Pagi nak. Sudah rapi sekali, Indhi mau kemana?" Tanya ibu dengan hati-hati.


"Kerumah sakit, hari ini Indhi mulai Co-***."


Ega menaruh sandwich yang tengah digigitnya, dia mengunyah sandwich itu dan menatap adiknya seolah tak percaya dengan yang didengarnya barusan.


"Kamu yakin, kamu bisa menundanya." Ucap Ega setelah menelan makanannya.


"Aku tidak ingin menundanya, aku ingin segera menjadi dokter, kak Zean juga berharap aku segera menjadi dokter."


Semua orang hening, Indhi kembali menyebut nama Zean, ibu dan Ega menatap Indhi sedih, mereka khawatir jika Indhi belum bisa menerima kenyataan pahit ini.


"Kalian tenang saja, aku baik-baik saja, aku sudah mengikhlaskan kak Zean, aku juga harus melanjutkan hidupku, kak Zean juga pasti berharap begitu."


Ibu segera berdiri dan memeluk putrinya yang tengah duduk itu. Melihat mereka Egapun ikut berdiri dan memeluk kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Pagi ini mereka sarapan dengan suasana haru.

__ADS_1


Setelah sarapan Indhi dan Ega berangkat bersama kerumah sakit karena Indhi menjadi Co-*** dirumah sakit tempat Ega bekerja karena rumah sakit itu termasuk center rumahsakit pendidikan. Sepanjang jalan Indhi hanya diam, Ega melirik dari ekor matanya, dia masih melihat dengan jelas kesedihan diwajah adiknya.


"Kau akan menemui dokter pembimbingmu?" Tanya Ega begitu mereka sampai dirumahsakit.


"Ya." Jawab Indhi singkat.


"Semangat ya." Ucap Ega seraya mengusap kepala adiknya dan tanpa mereka sadari dari kejauhan Dita tengah menatap keduanya.


Ega segera pergi keruangannya sementara Indhi pergi menemui dokter yang akan menjadi pembimbingnya. Indhi masuk kedalam sebuah ruangan, disana sudah ada 4 dokter muda yang akan melakukan Co-***.


Indhi segera bergabung bersama 4 orang itu, mereka tersenyum melihat kedatangan Indhi.


"Apa aku terlambat?" Tanya Indhi.


"Tidak, kami juga baru sampai." Jawab salah seorang gadis. "Siapa namamu, aku Rossa." Imbuh gadis bernama Rossa itu sembari mengulurkan tangannya kepada Indhi.


Indhi tersenyum dan meraih tangan itu. "Indhi."


Mereka akhirnya saling berkenalan, selain Rossa, Indhi juga bekenalan dengan Hana serta Alvian dan Alvaro, mereka adalah kembar.


Lama menunggu akhirnya dokter pembimbing mereka datang. Mereka menatap dokter itu dengan seksama, sungguh diluar dugaan , mereka mengira jika dokter pembimbing mereka adalah dokter senior, tapi justru yang sedang berdiri didepan mereka adalah dokter muda yang begitu tampan.


"Selamat pagi." Sapa dokter pembimbing.


"Pagi dok." Jawab kelima dokter muda secara bersamaan.


"Perkenalkan saya dokter Ilham dari Spesialis Bedah Saraf, kelompok kalian akan dibagi menjadi 2 stase, stase besar dan stase kecil. Dan untuk hari ini dan 9 minggu kedepan kalian akan berada distase yang pertama, yaitu Bedah Saraf dan kebetulan saya yang akan bertanggung jawab atas kalian."


Mereka berlima hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dokter Ilham.


"Saya harap kelompok kalian menjadi kelompok yang solid dan saling membantu satu sama lain. Kalian sudah saling kenal?" Tanya dokter Ilham.


"Tapi saya belum mengenal kalian, silahkan perkenalkan diri kalian."


Mereka mulai memperkenalkan diri, dimulai dari Rossa, Hana dan kembar Alvian, Alvaro dan yang terakhir adalah Indhi.


"Perkenalkan nama saya Prilatia Lindhiani Pangestika, tapi dokter bisa memanggil saya Indhi."


"Indhi?"


"Ya dok?"


"Apa kita pernah bertemu?"


"Sepertinya tidak dok."


"Oh baiklah, kalian bisa istirahat sebentar, setengan jam lagi kita akan visit kekamar pasien." Ucap dokter Ilham lalu dia keluar dari ruangan itu.


Indhi yang sedari tadi menahan ingin buang air kecilpun segera keluar dari ruangan itu. Namun ternyata dokter Ilham masih berdiri depan ruangan itu. Indhi menunduk sopan dan melewati dokter Ilham, dia segera berlari menuju kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi Indhi kembali berpapasan dengan dokter Ilham.


"Indhi."


"Ya dok, ada yang bisa saya bantu."


"Kau sungguh tak mengenaliku? Kita pernah bertemu di Santa Monica, kau lupa?"

__ADS_1


Indhi membekap mulutnya begitu mengingat Santa Monica. "Kak Ilham" Seru Indhi setelah mengingat kembali momen saat dia tersesat di luar negeri.


"Kau sudah ingat, aku bahkan langsung mengenalimu saat melihatmu tadi."


"Maaf dok, saya pangling melihat dokter."


"Heem, mungkin karena aku semakin tampan sekarang."


Indhi hanya tersenyum simpul mendengar kelakar dokter Ilham, dia masih tidak percaya akan bertemu dengannya lagi setelah bertahun-tahun lamanya.


"Senang bertemu denganmu lagi." Ucap dokter Ilham.


"Saya juga senang bisa bertemu dokter lagi. Kalau begitu saya permisi dok."


Indhi berlalu meninggalkan dokter Ilham, sementara dokter Ilham menatap kepergian Indhi, dia menghela nafas panjang, seakan-akan sesuatu yang berat menghimpit dadanya.


*****


Waktu berlalu Indhi disibukkan dengan Co-Assnya, dalam seminggu dia biasanya jaga 3 sampai 4 kali, waktunya benar-benar dia habiskan dirumah sakit dan belajar.


Selama 9 minggu berada dibawah pengawasan dokter Ilham, Indhi merasa jika dokter Ilham selalu memperhatikannya. Kadang Indhi merasa canggung saat dokter Ilham tengah menatapnya. Semoga saja ini hanya perasaan Indhi saja.


Sore ini setelah jaga, mereka berlima berkumpul diruangan yang dikhususkan untuk mereka. Hari ini adalah hari terakhir mereka berada didepartemen Bedah Saraf, besok mereka harus pindah ke Spesialis Obgyn.


"Hufff,, akhirnya 9 minggu sudah terlewati." Ucap alvian seraya merenggangkan kedua tangannya.


"Aku sedih karena harus berpisah dengan dokter Ilham, dimana lagi aku menemukan dokter yang tampan seperti dia." Seru Rossa dengan wajah sedihnya.


"Tapi kayanya dokter Ilham naksir sama Indhi deh." Celetuk Hana membuat kami semua menoleh kearahnya.


"Jangan bikin gosip." Sergahku karena tidak ingin ada gosip nantinya.


"Aku rasa juga begitu." Timpal Alvaro.


"Tuh kan, bukan cuma aku aja yang mikir begitu, dari caranya menatapmu saja aku langsung tau kalau dokter Ilham tertarik padamu." Sambung Hana lagi.


"Terus aku bagaimana, hiks hiks."


"Mundur aja Ros, cari yang lain, kau yakin akan melewatkan kami." Goda Alvaro.


"Tidak terimakasih, lebih baik aku mencari yang lain. Dokter Kevin dari Sub-Bedah juga lumayan tampan."


"Jangan macam-macam dengan kakakku."


"Kakak?" Ucap mereka bebarengan.


"Ya, dia kakakku."


"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku adik ipar." Ucap Rossa dan mengundang tawa mereka.


"Jangan harap kau akan menjadi kakak iparku."


"Kau jahat sekali. Hemm indahnya hidupmu karena dikelilingi orang-orang tampan."


"Indah?" Batin Indhi.


Seandainya dia tidak pergi mungkin hidupku akan indah, begitu indah.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2