
" Tunggu kakak." Seru kak Ega setelah aku keluar dari ruangannya.
" Prilatia." Teriak kak Ega sehingga mengundang perhatian dari orang-orang yang berada di rumahsakit.
Aku menghentikan langkahku saat beberapa perawat dan sfat rumahsakit mulai berbisik, meskipun marah aku tidak boleh egois dan merusak citra kak Ega di rumahsakit ini.
" Ikut kakak." Kak Ega menarik tanganku dan membawaku keluar dari rumah sakit.
" Masuk." Perintah kak Ega saat kami sudah berada di sebelah mobil kak Ega.
" Kakak bilang masuk." Teriak kak Ega lagi saat aku tak kunjung masuk ke dalam mobilnya.
" Oh jadi ini adik kecil yang kamu maksud, cantik juga." Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang kak Ega.
" Mau apa lagi anda disini?" Ucap kak Ega dengan nada penuh kebencian, kak Ega berbalik dan menyembunyikanku di balik punggungnya.
" Kenapa harus di tutup, mamah kan ingin berkenalan dengan gadis itu." Ucap seorang wanita yang mungkin usianya hampir sama dengan ibu.
" Mamah." Pekikku dari balik punggung kak Ega.
" Siapa dia kak?" Tanyaku lagi, aku menggeser kakiku sehingga bisa melihat jelas wajah wanita itu.
" Hay anak cantik, kenalin tante adalah..."
" Indhi masuk mobil." Bentak kak Ega yang membuatku tersentak, baru kali ini kak Ega membentakku, akupun menurutinya dan masuk ke dalam mobil lalu kak Ega menutup pintunya dengan keras.
Dari dalam mobil aku bisa melihat kak Ega dan ibu-ibu yang mengaku sebagai mamah itu tengah berdebat, kak Ega terlihat begitu frustasi, dia beberapa kali mengacak rambutnya sendiri, bahkan kak Ega sampai menunjuk wajah wanita itu.
Setelah beberapa saat berdebat, wanita itu akhirnya pergi, kak Ega masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras, dia beberapa kali memukul setir mobilnya, matanya memerah dan nafas yang tak beraturan menandakan kak Ega sedang tersulut emosi, aku memilih diam dan memperhatikan kak Ega. Aku belum pernah melihat kak Ega seemosi ini sebelumnya.
__ADS_1
" Sudah tenang?" Ucapku lembut saat aku rasa kak Ega mulai mengendalikan emosinya.
" Hmm."
" Apa Indhi boleh tau siapa dia?"
" Ibu kandungku." Jawab kak Ega lemah dan sontak membuatku terkejut, wajar saja kak Ega semarah itu saat bertemu dengan dia, jika aku jadi kak Ega aku mungkin akan memukulnya dan melampiaskan semua kekesalanku padanya.
" Kakak yakin dia ibu kandung kakak?"
" Heem, kami sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok."
" Lalu apa yang dia lakukan disini?"
" Dia ingin kakak kembali menjadi anaknya dan tinggal bersamanya."
" Jadi ini alasan kakak tidak pulang, kakak akan tinggal bersama ibu kandung kakak?" Tanyaku gusar.
" Maaf karena membentakmu tadi, kakak tidak bermaksud seperti itu." Ucap kak Ega penuh sesal, dia mentapaku dengan mata berkaca-kaca.
" Dan juga ini alasan kenapa kakak tidak pulang, wanita itu terus mengikuti kakak, kakak tidak ingin dia mengganggu kamu dan juga ibu kalau dia sampai tau dimana kalian tinggal." Jelas kak Ega dengan wajah sedihnya.
" Kakak takut kalian akan meninggalkan kakak." Ucap kak Ega dengan suara bergetar, dia beberapa kali menunduk dan mencoba menahan air matanya, namun akhirnya kak Ega tak kuasa menahan kesedihannya, air matanya berderai dan dia mulai terisak.
Aku merubah posisi dudukku dan memeluk kak Ega. Seandainya kak Ega juga tau bagaimana ketakutanku jika kak Ega meninggalkan kami mungkin kak Ega tidak akan berfikir demikian, bagiku sedarah atau tidak, kak Ega tetaplah kak Ega, seseorang yang selama 16 tahun ini menjadi kakakku, seseorang yang selama dua tahun ini menjadi tumpuanku dan juga ibu, seseorang yang mengorbankan waktu dan hidupnya hanya demi aku dan ibu.
" Kenapa, kenapa dia harus datang lagi di kehidupan kakak, kenapa dia harus mengganggu hidup kakak lagi."
" Dulu dengan sadarnya dia meninggalkan kakak seorang diri dan sekarang dengan tidak tahu malu dia ingin kakak kembali bersamanya dan hidup bersama, bahakn isi surat itu masih tertulis jelas di ingatan kakak." Kak Ega meluapkan semua beban di hantinya yang selama ini dia tahan seorang diri.
__ADS_1
" Maaf." Ucapku lirih.
" Maaf karena membiarkan kakak melewati semua ini sendiri, maaf karena Indhi hanya memikirkan diri sendiri dan tidak mengerti kakak, seharusnya Indhi lebih bersabar lagi menunggu kakak pulang." Air mataku yang sedari tadi terbendung akhirnya mengalir dengan derasnya, niat hati ingin menenangkan kak Ega aku malah ikut menangis bersamanya, kini di dalam mobil ini hanya ada isakan di antara kami berdua.
" Jangan menangis." Kak Ega melepas pelukanku lalu dia menyeka air mata di wajahku.
" Beri kakak sedikit waktu lagi, kakak harus menyelesaikan masalah kakak dengan wanita itu, setelah semuanya selesai kakak akan pulang, jadi jangan pernah berkata jika kamu tidak akan menemui kakak lagi."
" Kakak tidak ingin memberi tahu ibu mengenai ibu kandung kakak?" Tanyaku di sela tangisku yang tersedu-sedu.
" Kakak ingin, tapi kakak takut ibu akan mengembalikan kakak kepada wanita itu."
" Nggak mungkin, ibu sangat menyayangi kakak, ibu tidak mungkin melepaskan kakak apa lagi mengembalikan kakak kepada orang yang telah menyia-nyiakan kakak."
" Tapi dari mana dia tau kakak adalah anaknya, bukannya ayah sudah mengganti nama kakak." Tanyaku penasaran.
" Entahlah kakak juga tidak tau, setelah kakak pulang mengantarmu waktu itu , dia menghubungi kakak dan ingin menemui kakak namun kakak menolaknya. Tapi setelah sampai di rumahsakit kakak justru melihat wanita itu berada di depan ruangan kerja kakak."
" Tapi akan lebih baik jika kakak berterus terang kepada ibu, biar bagaimanapun ibu berhak tau kak. Jangan pendam ini sendirian, berbagilah dengan kami kak, ada kami di samping kakak." Saranku kepada kak Ega.
kali ini gantian kak Ega yang menarikku ke dalam pelukannya, dia membelai kepalaku perlahan dan itu sangat menenangkan. Aku terkejut saat merasakan kak Ega mencium pucuk kepalaku, aku bingung harus bersikap bagaimana sekarang.
Aku melepaskan pelukan kak Ega, lalu bersandar pada kursi.
Aku yang sudah mulai tenang, tiba-tiba kembali merasa tak karuan saat aku melihat kak Zean tengah berdiri di parkiran mobil dan menatap tajam mobil milik kak Ega. Mungkinkah dia melihatku dan kak Ega berpelukan tadi.
Aku keluar dari mobil dan berlari menghampiri kak Zean namun tak berhasil, kak Zean lebih dulu masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya dengan kencang meninggalkan pelataran rumahsakit.
Aku mendegus kesal karena tak mengerti dengan sikap kak Zean, harusnya dia bertanya dulu padaku apa yang tengah terjadi, bukan malah lari seperti anak kecil yang tengah merajuk.
__ADS_1
BERSAMBUNG....