
" Kalau begitu ayo kita lakukan." Ucapku penuh penekanan.
" Apa maksudmu?"
" Menikah, bukankah itu yang kak Zean inginkan."
Kak Zean menatapku, ada keraguan dimatanya. "Kamu yakin?" Aku mengangguk dan berbalik menatapnya "Tapi sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan, apa kakak yakin sudah siap untuk menikah?"
" Ya, aku yakin." Jawabnya mantap.
" Apa kakak sanggup untuk menanggung semua kebutuhanku? Jika kita menikah aku adalah tanggungjawab kakak sepenuhnya." Aku menjeda kalimatku dan menarik nafas dalam. " Aku masih harus sekolah, aku masih harus kuliah kedokteran yang membutuhkan banyak biaya, kakak yakin sanggup menghidupiku tanpa bantuan finansial dari mamy dan dady?"
Kak Zean menunduk setelah mendengar ucapanku. "Tapi aku ingin terus bersamamu." Ucapnya lirih.
" Akupun begitu kak, aku tidak ingin jauh darimu, tapi ketahuilah hidup itu bukan hanya tentang cinta kak." Aku menarik tangan kak Zean dan menggenggamnya diatas pangkuanku. "Jadi untuk sekarang lebih baik kita menjalani yang sudah kita jalani, kejar impian kakak dan cintaku terus berada dibelakangmu kak, akupun akan mengejar mimpiku karena aku yakin cinta kakak terus bersamaku. Mari menikah setelah kita benar-benar siap, aku akan menunggu kakak, jadi aku harap kakak sabar untuk menungguku."
" Maaf."
" Kita kerumah sakit ya? Luka kakak harus segera diobati."
Kak Zean hanya mengangguk lemah, tak ada penolakan lagi darinya, aku kembali melajukan mobil kak Zean dan pergi kerumah sakit terdekat.
Di UGD kak Zean segera ditangani oleh dokter jaga, untungnya hanya luka memar biasa dan tidak perlu rawat inap, dokter hanya meresepkan salep untuk menghilangkan memar dikening kak Zean. "See, aku baik-baik saja kan." Ucap kak Zean setelah dokter memeriksa kondisinya.
"Tunggu disini sebentar, aku akan ke apotek untuk menebus obat."
" Tunggu." Kak Zean meraih tangaku, dia mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memberikannya kepadaku. "Kalau uangnya kurang, gesek saja kartunya." Aku meraih dompet itu dan pergi ke apotek.
Aku tersenyum saat membuka dompet kak Zean karena ada fotoku didalamnya. Setelah membayar aku kembali menghampiri kak Zean, aku tertegun saat melihatnya tengah tertidur pulas di atas brangkar rumah sakit. Aku berjalan mendekatinya dengan hati-hati, ku tatap wajahnya yang terlihat begitu lelah, seketika perasaan bersalah memenuhi rongga dadaku, seandainya aku sudah dewasa aku pasti tidak akan menolak ajakanmu untuk menikah kak, beruntungnya aku memiliki kamu yang begitu mencintaiku.
" Kenapa tidak membangunkanku?" Ucap kak Zean setelah hampir setengah jam dia terlelap.
" Aku nggak tega, kakak terlihat sangat lelah." Aku menatap wajahnya yang masih terlihat lesu dengan lebam dikeningnya. "Pulang sekarang?" Ajakku setelah kak Zean duduk.
"Hem"
__ADS_1
"Tunggu disini, aku akan mengambil mobil." Ucapku ketika kami berada di depan UGD.
Kak Zean keberatan dan menahan tanganku. "Aku ikut." Aku tersenyum dan meraih tanggannya, kami bergandengan hingga sampai diparkiran rumahsakit.
kali ini kak Zean tidak melarangku untuk membawa mobilnya. Aku melirik sekilas kearah kak Zean yang kembali tertidur, lalu aku fokus kembali pada jalan raya, sudah hampir jam 10 malam, ibu pasti sangat khawatir padaku karena belum pulang.
"Kak bangun." Aku mengguncang tubuh kak Zean dengan lembut.
Dia membuka matanya dan mengedarkan pandangannya sejenak. "Sudah sampai? Maaf aku ketiduran lagi." Ucapnya dengan suara serak.
" Ayo kita turun, aku harus pulang sekarang."
" Biar aku antar."
Aku menggeleng pelan. "Aku bisa naik taxi, lebih baik kakak istirahat." Tolakku dengan lembut. "Maaf besok aku tidak bisa mengantar kakak ke bandara."
Kak Zean tidak menanggapi perkataanku, dia justru menarik tubuhku dedalam pelukannya, aku membenamkan wajahku didada kak Zean yang beraromakan vanila, mengingat besok kami sudah harus berpisah lagi, tanpa dikomando air mata ini mengalir dengan derasnya dan aku mulai terisak dipelukan kak Zean.
Kak Zean mengelus punggungku, lalu dia mencium pucuk kepalaku. "Jangan menangis, kamu bilang aku harus mengejar mimpiku dan kamu akan menunggu." Ucapnya pelan yang membutku semakin terisak. "Sial, kenapa dia mengulangi perkataanku dan rasanya begitu menyakitkan."Umpatku didalam hati.
Aku masih enggan turun dari mobilnya, rasanya tidak rela harus berpisah darinya sekarang. Dengan terpaksa aku akhirnya keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh kak Zean. "Aku pulang sekarang kak , hati-hati untuk penerbanganmu besok, hubungi aku kalau mau berangkat."
"Kamu mau pergi begitu saja, tidak ingin memelukku." Ujar kak Zean, dia merentangkan kedua tangannya diudara. Tanpa aba-aba aku segeramasuk kedalam pelukannya lagi. Lama kami saling memeluk, melepaskan semua ketidakrelaan yang tengah kami rasakan.
Aku melepaskan pelukannya, kak Zean menundukan kepalanya agar bisa melihat wajahku, diangkat daguku lalu dia menghadiahi kecupan dibibirku. Sebuah kecupan yang berganti menjadi lum*tan, kami saling mengecap tanpa memperdulikan sekitar. Kak Zean melepas pagutannya, bibirnya kini berpindah dikeningku, lama dia mengecup keningku, hingga dia terpaksa harus menyudahinya ketika taxi pesananku datang.
Aku melambaikan tanganku dan segera masuk kedalam taxi sebelum aku kembali menangis dan tidak merelakan keberangkatannya.
****
Hampir jam 11 malam saat aku sampai dirumah, aku melihat ibu tengah mondar-mandir didepan rumah kami, aku turun dari taxi dan segera berlari menghampiri ibu.
" Dari mana saja kamu, lihat ini sudah jam berapa?" Seru ibu begitu aku berada didepan rumah.
Aku menunduk, menyesali perbuatanku karena sudah membuat ibu khawatir. " Maaf bu, aku harus mengantar kak Zean kerumahsakit, dia kecelakaan."
__ADS_1
" Astaga, lalu bagaimana keadaannya?" Ucap ibu dengan nada khawatir, dia bahkan melupakan amarahnya kepadaku.
" Untungnya dia baik-baik saja bu, maaf membuat ibu khawatir."
Ibu menghampiriku dan memegang pundaku. "Sudah, masuklah, kamu pasti lelah."
Aku hanya mengangguk dan mengikuti ibu masuk kedalam rumah, beliau masuk kekamarnya dan aku naik menuju kamarku. Aku langsung kekamar mandi begitu sampai dikamar, badanku begitu lengket, aku ingin segera mandi.
Selesai mandi, aku terlelap, aku begitu lelah, bahkan akan mengabaikan rasa lapar diperutku saking mengantuknya.
**
Ponselku terus berdering, aku memaksakan mataku untuk terbuka dan merain ponsel yang berada di atas meja.
" Halo."Ucapku tanpa tau siapa yang tengah menelfonku.
" Aku dibawah, keluarlah."
Aku membulatkan mataku begitu mendengar suara kak Zean, aku melempar ponselku dan keluar dari kamarku dengan berlari.
Saat aku membuka pintu kak Zean sudah ada di depannya dengan penampilan yang sudah rapi.
" Kakak akan berangakat sekarang?"
" Ya." Ucapnya sembari mengelus rambutku.
" Aku ingin melihatmu sebelum pergi. Sekarang aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik, aku pasti akan sangat merindukanmu sweety." Kak Zean memelukku sebentar, lalu dia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku yang masih kucel.
" Aku pergi."
Aku menatap kepergian kak Zean, dia sudah masuk kedalam taxi, lidahku kelu sehingga aku tak bisa mengucapkan sepatah katapun hingga taxi yang ditumpangi kak Zean pergi meninggalkan halaman rumah ibu.
Pergilah, kejar mimpimu, aku disini menunggu dengan cintaku.
BERSAMBUNG....
__ADS_1