LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
PENDARAHAN !


__ADS_3

Nandin pulang dengan wajah sendu, sesampainya didalam rumah ia langsung berlari menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Bu sari yang melihat kejadian itu hanya mematung, melihat nyonya mudanya.


Nandin tergeletak diatas ranjang mewahnya itu, dengan mata lelah karena menangis.


Aditya mengerjakan semua pekerjaannya tanpa henti, bukan karena gila kerja! Ia menghindari istrinya, entah enggan berdebat atau berusaha memperbaiki moodnya.


Selesai mengerjakan rapatnya, Aditya pulang kembali ke kantornya, dan merebahkan diri diatas sofa di ruangannya itu.


Angin malam mulai menyapa, dan ia terbawa ke alam bawah sadar, sampai akhirnya terlelap karena kelelahan.


Sebangun nya dari tidur, Nandin tidak menemukan keberadaan suaminya itu. Ia pun mengangkat tubuhnya yang lelah dan turun kelantai pertama.


Bu Sari tampak sedang menyiapkan makanan diatas meja. "Bu, den Aditya tidur dimana?" tanya Nandin, sebari mendudukkan dirinya diatas kursi meja makan.


Bu Sari diam sejenak, "Maaf non, den Adit semalam tidak pulang." jawab Bu Sari, sedikit tidak nyaman, karena mengetahui Nandin tidak dikabari tuan mudanya itu.


"Nandin melirik Bu Sari. "tidak pulang Bu?" Nandin mengulang perkataan Bu Sari.


"Iya Non." jawab bu Sari kembali.


Nandin diam, dan seketika suasana menghening.


"Non, barangkali den Adit banyak kerjaan dan tidak memungkinkan untuk pulang, kan dia juga tidak pakai supir." ucap Bu Sari, menenangkan kegundahan nyonya mudanya itu.


Nandin berusaha memberikan senyum tipis pada Bu Sari, walau tidak mampu menutupi gerik tubuhnya yang tampaknya risau.


"Bu, aku mual. Bisa tolong buatkan jus saja?" pinta Nandin, ketika perutnya bereaksi setelah memasukan roti kemulutnya.


"Baik Non, bibi buatkan jus alpukat ya!" Seru Bu Sari.


Nandin pun hanya mengangguk, dan meletakan kepalanya diatas meja makan, menahan pening yang kerap muncul sering sekali.


"Non, ini jus nya. Apa Non tidak apa-apa?" tanya Bu Sari.


"Iya terimaksih Bu, aku baik-baik saja mungkin memang bawaan." Jawab Nandin.


Mendengar jawaban nyonya mudanya Bu Sari langsung tersentak kaget. "Non hamil?" serunya.


Nandin tersenyum dan mengusap perutnya yang masih rata itu.


"Ya ampun syukurlah, sekarang dirumah ini akan lebih berwarna, den Adit pasti sangat bahagia." ucap Bu Sari.


"Adit bahkan belum mengajariku, padahal aku sudah memberitahunya kemarin." jawab Nandin lesu.


"Mungkin den Adit menyiapkan sesuatu buat Non." ucap Bu Sari.


Mendengar jawaban Bu Sari, Nandin pun berpikir begitu.


"Yasudah sekarang Non makan yang banyak dan langsung istirahat, usia kandungan muda sangat rawan." Ucap Bu Sari.


Nandin pun mengangguk sambil tersenyum, laku meminum jus didepannya.


***


***


Aditya terbangun dari tidurnya, ia menatap langit-langit dikantornya, ini untuk pertama kalinya ia tidur dikantor itu.

__ADS_1


"Astaga bagaimana bisa aku tertidur disini. Lirih Aditya.


Sekretaris nya masuk dan melihat bosnya itu baru siuman.


"Pak, apa bapak tidur disini?" tanya nya.


Aditya hanya mengangguk. "Aku akan pulang dulu, kemungkinan hari ini aku akan libur. Besok baru masuk lagi." Jawab Aditya.


Sekretaris nya hanya mengangguk.


Aditya berusaha merapikan bajunya, karena dibawa tidur menjadi sangat lusuh.


Ia pergi ke parkiran mencari letak mobilnya di parkir.


***


***


Tama keluar dari kamarnya, "Kak, sulit sekali bertemu denganmu setelah kakak pulang dari Britania!" Ucap Tama, begitu melihat kakaknya di meja makan.


""Ada apa, bukankah ada telpons kenapa kamu tidak menggunakannya?" jawab Nandin.


"Apa ada terjadi sesuatu?" tanya Tama, membuat Nandin meliriknya.


"Sesuatu yang akan membuat bahagia, sebentar lagi Tama akan punya keponakan." ucap Bu Sari


Tama membelalakan matanya "Kakak hamil?" cetus Tama.


Nandin hanya mengangguk dan tersenyum ke arah adiknya itu.


***


Aditya sampai dirumah, dan segera memasuki rumahnya itu, melihat Nandin yang sedang menyantap sarapannya Aditya hanya meliriknya sedikit, lalu melanjutkan langkah kakinya ke arah tangga.


"Aku cape, jangan ajak berdebat!" jawab Aditya.


Nandin yang melihat suaminya masih berbicara ketus ia hanya diam tak bergeming!


Namun tangannya dengan sigap membuka kaus kaki yang masih dikenakan suaminya itu! Sedangkan Aditya melanjutkan tidurnya.


Nandin keluar dari kamarnya itu, dan duduk di sofa lantai dua! Dengan merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit.


Seketika pikirannya melambung tinggi, memikirkan apa yang terjadi dengan Aditya, laki-laki yang ia rasa sangat mengenalnya dengan baik, Aditya yang selalu konsisten, dewasa, dan menenangkan jika ada masalah.


Ini sudah berhari-hari dan hampir satu minggu Aditya tetap menutup mulut, dan memalingkan wajahnya!


Angin yang berhembus di ruangan itu, juga membuat Nandin tertidur kembali, ditambah letih yang sudah intens karena hormon kehamilannya.


***


***


Riko menghabiskan waktunya kembali di Indonesia setelah membatalkan penerbangan nya ke Australia saat pulang dari Britania.


Tampak ia banyak menghabiskan waktunya dikamar, dan juga berolahraga, karena ia sudah mengambil cuti dari pekerjaannya di rumah sakit! Hening adalah suasana yang tersirat di rumah keluarga Mahardika.


Ibu Dokter Riko itupun, tak sanggup bertanya tentang kehidupan putra semata wayangnya itu, akibat tertipu niat busuk Seila.


Bahkan saat makan bersama Riko tidak membuka mulutnya sama sekali, dan orangtuanya mengerti.

__ADS_1


***


***


Aditya terbangun dari tidurnya, suara gemuruh diperutnya membuatnya terpaksa mengangkat tubuh indahnya itu. Lalu berjalan keluar kamar, langkahnya terhenti begitu melihat istrinya tertidur diatas sofa, hatinya yang masih terbakar api cemburu seminggu lalu saat di Britania, membuatnya tetap dalam pendiriannya, memberikan pelajaran sampai Nandin jera. Padahal gadis itu benar-benar tidak tahu Riko akan datang ke negara itu.


Aditya tetap melanjutkan langkahnya menuju meja makan untuk mengisi amunisi.


***


***


Dua Minggu berlalu, entah apa dan bagaimana! Sepasang insan itu masih tetap berdiam-diam. Sampai pada akhirnya Nandin ingin tahu mengapa Aditya bahkan tidak antusias ketika dia hamil. Bahkan tidak pernah menelponnya sama sekali.


Hari ini adalah jadwal Nandin pergi ke Dokter kandungan, untuk melakukan USG guna melihat perkembangan bayinya. Ia pun terpaksa harus pergi sendiri, tanpa ditemani Aditya.


Sesampainya di ruangan periksa, Nandin membaringkan tubuhnya dan Dokter mulai menempatkan alat untuk melihat perkembangan bayi itu. "Wah, bayinya sehat dan berkembang sempurna sesuai di usia kandungannya." ucap Dokter itu sebari tersenyum.


Mendengar ucapan Dokter itu Nandin ikut tersenyum, sebari melihat bulatan kecil dilayar monitor dimana bayinya akan tumbuh lebih besar kelak.


Rasa bahagia membuatnya menitikan air mata, ada jiwa lain yang tumbuh didalam dirinya itu sudah membuatnya sangat terharu.


Setelah melakukan pengecekan, Nandin berniat pergi ke kantor Aditya untuk memperlihatkan hasil USG nya.


***


***


Dokter Riko berniat pergi menemui Aditya, untuk mengklarifikasi kejadian saat di Britania. Iya merasa kehadirannya saat itu mengguncang hubungan rumahtangga sepupunya itu.


Namun saat hendak memasuki ruangan Aditya, Nandin pun sampai dan menuju kesana! Sontak kedatangan Nandin dan Riko yang bebarengan ini di anggap Aditya sebagai pertemuan rahasia.


Riko dan Nandin melangkahkan kakinya, memasuki ruangan seorang CEO di gedung itu. Sorot mata Aditya saja sudah memancarkan kemarahan.


Braakkkkk...! Suara gebrakan Aditya yang memukul meja terdengar menggema di ruangan itu, begitu Riko dan Aditya menutup pintu. Untunglah ruangan itu kedap suara dan tidak menimbulkan kebisingan keluar ruangan.


"Bagaimana bisa, kamu pergi tanpa izin. Tidak pamit padaku dan pergi dengan laki-laki lain." ucap Aditya dengan sorot mata yang mencekam.


Nandin semula kaget, dan tidak mengerti ucapan Aditya! Tapi setelah melihat tatapannya yang marah, Nandin mengerti bahwa suaminya salah paham terhadap Riko. Bahkan Nandin saja belum berbicara dengan Riko, karena hanya berpapasan saja datang dari luar.


Nandin mendekatkan tubuhnya, berusaha menjelaskan "ini tidak begitu Dit, aku tadi dari.." ucapan Nandin terpotong, Aditya sontak membuat tubuh gadis itu tersungkur kebelakang, karena dorongannya.


Suara jeritan terdengar dari mulut gadis itu, sebelum sampai akhirnya tubuhnya menghantam lantai marmer yang tadi diinjaknya.


Brakkk... tubuh mungil itu jatuh tepat disana.


Sorot mata Aditya berubah menjadi sedikit khawatir. Namun Riko lebih panik daripada Aditya. "Aditya." Teriak Dokter Riko.


Dokter Riko menghampiri Nandin, yang berusaha mengangkat tubuhnya, namun gadis itu tampak kesakitan.


"Din, kamu gak papa?" tanya Dokter Riko, berlutut sejajar dengan tubuh gadis itu.


Namun bibir Nandin bahkan tidak terbuka, airmata keluar dari mata cantiknya.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya, "Dit, tolong." lirih Nandin, hanya kata-kata itu yang ia lontarkan disela tangisnya, sedangkan tangannya dengan getir memegang perutnya.


Namun Aditya tidak bergeming sama sekali. Ia memalingkan tatapannya.


"Mas, tolong!" Nandin mencengkram baju Dokter Riko. Bibirnya membiru dan gadis itu hampir kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Dokter Riko mengangkat tubuh Nandin. Melihat darah yang menetes dari bahu gadis itu, membuat Dokter Riko panik bukan kepalang dan segera berlari keluar untuk membawa Nandin ke rumah sakit.


Kini tubuh Aditya sedikit membeku, kecemburuannya sudah tak terbendung. Sampai akhirnya kemarahan lah yang ada dijiwanya.


__ADS_2