
Keesokan harinya, Tama siap-siap untuk bergegas ke sekolah. Nandin sudah duduk di meja makan begitu adiknya itu keluar dari kamarnya! "Hai kak," ucap Tama dan mendudukan diri di sebrang kakaknya duduk.
Nandin yang sedang meminum air putih langsung tersedak, kaget melihat adiknya membentuk gaya rambutnya seperti idol Korea. Adiknya yang pendiam bahkan selaku rapih, kini dihadapannya adiknya bergaya khas idol dari Korea Selatan. "Tam, kamu mau kemana?" tanya Nandin sebari sorot matanya membelalak.
"Sekolah lah kak," jawab Tama, acuh.
"Ini kamu kan, kamu gak sakit kan?" Nandin bangkit dari duduknya dan menghampiri adiknya, sebari menyentuh jidatnya.
"Ah, kakak apa sih, rambutnya rusak nanti!" Jawab Tama, sebari menangkis tangan kakaknya.
Nandin heran Tama menghindari sentuhannya, "Astaga, kamu udah gede, Sampe peduli sama penampilan," Nandin terkekeh sebari memegangi perutnya.
Bu Sari dan kedua asisten lainnya itu ikut tersenyum simpul, melihat Nyonya mudanya menggoda adik semata wayangnya.
Aditya turun menapaki anak tangga, dan langsung menghampiri istrinya, "Kenapa, ramai sekali pagi-pagi?" tanya Aditya, lalu mencium pipi istrinya.
"Ini liat, masa pubertas Tama sudah muncul."
Tama terlihat kesal dengan wajah nya yang mengkerut. "Wah, wah. Ternyata ada aktor di rumah kita," puji Aditya.
Nandin menaikan alisnya. Dan Tama berusaha menahan senyumnya karena pujian kakak iparnya ituh. "Sayang aku mau sarapan," ucap Aditya.
"Aku siapin ya."
"Gak usah suruh Rani dan Yuni ajah," jawab Aditya.
Nandin membelalakan matanya, "Kamu enggak apa-apa?" tanya Nandin memastikan, karena biasanya suaminya tidak akan mau jika ada orang lain yang mengganggu mereka.
Aditya mengangguk, "Tolong buatkan susu, sama telur dadar ajah," lanjutnya.
Nandin pun mengiyakan, dan menyuruh Asisten rumahtangga nya itu untuk menyiapkan.
Aditya dan Nandin pun duduk bersama bergabung dengan Tama di meja makan, "Tam apa kamu punya pacar?"tanya Aditya.
Tama menggeleng cepat. Lalu Aditya pun mengangguk.
"Tama berangkat dulu ya," Tama bergegas setelah menyalami kedua kakak nya itu.
Nandin melirik suaminya yang terus menatapnya begitu Tama pergi. "Kenapa sih?" tanya Nandin.
Aditya menyelinap kan rambut Nandin ke belakang telinga nya. "Tidur nyenyak?" Tanya Aditya.
Nandin mengangguk. Para Asisten rumah tangga sedang menyiapkan makanan untuk Aditya, sehingga hanya ada mereka di ruang makan. Aditya terus menggoda istrinya, yang keteteran menahan tingkah gemas suaminya itu karena takut ada orang yang melihat.
"Sayang, aku rindu sekali." Ucap Aditya.
__ADS_1
Nandin melihat sorot mata suaminya yang mengartikan sesuatu. "Sayang, gak sekarang kan?" Nandin menegaskan pandangan suaminya
Aditya menggeleng manja,"Kamu tahu kan konsekuensi menolak adalah dosa!" jawab Aditya.
"Tapi kan kamu mau sarapan," jawab Nandin.
"Aku masih punya cukup tenaga!" Aditya mencium pipi istrinya itu, lalu segera menggendongnya ke lantai dua.
Nandin kaget karena tingkah suaminya itu, ia mengalungkan tangannya dengan erat, karena takut ada yang melihat. Kemudian ia bisa bernafas setelah akhirnya sampai di kamarnya.
Aditya mengunci kamarnya dengan satu tangan, tanpa menurunkan istrinya dari gendongan nya.
Nandin di rebahkan di atas ranjang, Aditya mulai mencium rambut kemudian pipi istrinya dengan gemas. Baju tidur yang dikenakan Nandin lepas dalam satu tarikan, tinggal satu langkah lagi membuat gadis itu bersih tanpa sebenang pun pakaian.
Nandin mengimbangi cumbuan suaminya yang terus menjalar disetiap bagian atas tubuhnya.
"Apa masih sakit?" tanya Aditya, tepat dengan bibir di ujung daun telinga istrinya.
"Tidak," jawab Nandin lemah, akibat tenaganya keluar banyak saat suaminya menyergapnya.
"Aku akan melanjutkan," Tanpa aba-aba Aditya sampai ke Step selanjutnya dan akhirnya menyatukan diri mereka. Suara-suara cinta terdengar dari permainan gulat itu.
Aditya tampak lembut memperlakukan istri kesayangan nya itu, hingga ia tetap mencumbunya tanpa berhenti.
***
***
"Den Adit sama non Nandin kemana ya?" tanya Yuni!
"Entahlah, mereka nanti juga balik kesini," jawab Rani.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka, alih alih Bos nya sedang olahraga suami istri dilantai dua.
***
***
Setelah menyelesaikan ronde pertamanya. Aditya bangkit lebih dahulu dan membersihkan diri. Nandin pun mengikuti suaminya itu. Tidak ada yang terjadi, mereka hanya mandi seperti biasa. Namun Aditya terus menggoda istrinya. "Sayang, apa mau ronde ke dua?" tanya nya tanpa dosa.
"Apa aku berdosa jika menolak nya untuk yang ke dua?" tanya Nandin.
Aditya tertawa terbahak-bahak,"Oh, jadi kamu melayaniku karena takut dosa?."
"Tidak bukan begitu, yang barusan lumayan membuat ku lelah." Jawab Nandin.
__ADS_1
Aditya tersenyum simpul, "Tentu tidak sayang, nanti malam kemungkinan!" Aditya menaikan satu alisnya.
Nandin kembali membasahi tubuhnya, dan hanya melempar senyum pada suaminya.
Keduanya selesai mandi bersamaan, Nandin langsung menggulung rambut panjangnya dengan handuk putih."Sayang, mau makan sekarang?" tanya Nandin.
Aditya mengangguk. "Jangan suruh panasin, suruh ajah naikin susu dan telur dadar pesanan ku tadi." jawab Aditya.
Kamar mereka yang luas memang menyediakan fasilitas yang lengkap, kecuali kompor.
Nandin pun, menelpon ke lantai satu, untuk menyuruh menaikan makanan Aditya tanpa harus memanaskan nya.
Tidak lama, Rani naik ke atas membawa makanan Aditya dengan trai kayu. Suara ketukan membuat Nandin beranjak, dan membuka pintu.
"Ini Non, makanan nya."
Nandin segera menerima trai yang dibawa Rani. Mata Rani tertuju pada gulungan handuk di atas kepala Nandin. Juga Nyonya mudanya itu seperti habis mandi, sekilas terlihat Aditya yang masih mengenakan handuk sedang berdiri di depan cermin. "Makasih ya Ran," ucap Nandin.
" Iiiiii iiiya Bu, eh Non," Rani terbata-bata karena merasa tidak enak.
Nandin menutup pintu dan menaruh makanan di atas meja makan di kamarnya. Aditya pun segera duduk dan meminum susu nya, laku menyantap telur dadar nya yang sudah dingin, karena terlalu lama dibiarkan.
"Sayang apa masih enak?" tanya Nandin.
"Tidak apa-apa, aku sudah menerima yang lebih enak tadi," jawab Aditya.
Nandin pun tersenyum malu-malu. Dan Aditya melahap makanan nya.
***
***
Rani turun dari lantai dua dan segera menghampiri Yuni yang sedang memotong sayuran di dapur. "Eh Yun, aku barusan dari atas, mengantarkan makanan Den Adit, eh mereka habis mandi dan Non Nandin keramas, apa tadi mereka abis ber ibadah ya, makannya meninggalkan meja makan?" ucap Rani diikuti ketawa cekikikan.
"Hayo pikiran mu kemana Ran, jangan ngadi-ngadi kamu," jawab Yuni, sekaligus menggoda pikiran nakal Rani.
Hal itu terdengar oleh Bu Sari, "Air, gak baik ngomongin bos kalian," ucap Bu Sari.
Rani dan Yuni pun langsung terdiam. Dan melanjutkan pekerjaan mereka, menyediakan makanan untuk siang hari.
"Dan, kamu bersihkan saja kamar Tama dulu!" Titah Bu Sari.
Rani pun mengangguk dan segera mengambil perkakas perangnya, untuk membuat kamar remaja laki-laki di rumah itu bersih.
Guys bantu like dan komennya ya, agar author semangat buat Up nya. AKU MENCINTAI MU 💜💜💜💜💜💜💜💜💜
__ADS_1