
YUK BUDAYAKAN LIKE,KOMEN SETELAH MEMBACA UNTUK MEMBANTU AUTHOR BERKARYA...
KARENA SETIAP LIKE DAN JUGA KOMENTAR SARAN DARI KAMU SANGAT BEARTI SEKALI...
SALAM SAYANG DARI AUTHOR YA BABY.
Dokter Riko masih berdiri di tempatnya begitupun Aditya yang balik menatapnya, keduanya tampak bingung dan berat untuk membuka mulutnya walupun hanya sekedar menyapa.
Untung lah Tama datang dan langsung menanyakan keberadaan Riko.
"Mas Riko.'' Tama datang dari balik pintu langsung menyapa dan menyalami Dokter Riko dan ibunya, meskipun masih ada rasa kesal Tama terhadap Riko, Tama tetap mendahulukan sopan santunnya.
Kecanggungan pun cair karena Tama.
''Kamu sehat nak?'' Ucap ibu Dokter Riko.
''Alhamdulillah Ma,'' Jawab Tama.
Lalu ibu Dokter Riko menghampiri Nandin yang duduk di atas ranjangnya, dan Aditya yang tadi duduk pun sekarang sudah merubah posisinya menjadi berdiri.
''Kamu kenapa bisa begini nak.?'' Tanya ibu Dokter Riko.
''luka kecil Ma, tidak apa-apa.''
Tama yang merasa tidak bersalah pun hanya memalingkan wajah ke setiap sudut ruangan.
"Kamu disini juga Dit?'' Tanya ibu dokter Riko pada Aditya di ikuti lirikan Nandin.
''Iya tante,'' Jawab Aditya.
Ibu Dokter Riko lalu mengangguk.''Riko langsung minta pulang dan memesan penerbangan begitu tahu kamu di Rumah Sakit Din.'' Lanjut ibu Dokter Riko sebari memegang tangan gadis itu.
Nandin menyunggingkan senyum nya dan melirik Dokter Riko. Sementara Riko hanya tetap berdiri di tempatnya sampai ibunya memanggilnya.''Rik sini.''
Dokter Riko melangkah kan kaki nya mendekati posisi ibunya,"Kamu mungkin butuh waktu sama Nandin biar Mama keluar dulu sama Adit dan Tama.'' Ucap ibu Dokter Riko.
__ADS_1
Nandin langsung melirik Aditya, keduanya bahkan tidak buka suara diposisi ini. Aditya mengangguk lalu sebari menggulung kemeja nya se sikut, lalu mengambil nafas dan menghembuskannya, tatapan Riko langsung terpaku pada sikap Aditya.
Ibu Dokter Riko keluar ruangan diikuti Tama dan Aditya sedangkan Nandin dan Dokter Riko berada di dalam ruangan sengaja diberi waktu berdua oleh ibunya. Nandin canggung sekali menatap Dokter Riko yang selama ini ditunggunya. Sementara di sisi lain Aditya dengan berat hati meninggalkan Nandin.
Nandin tidak berucap sepatah katapun. Sampai Dokter Riko membuka mulutnya dan memulai pembicaraan.
''Kenapa bisa begini?'' Tanya Dokter Riko.
''Tama tidak sengaja, dia kira ada orang masuk karena aku sedang bongkar koper subuh-subuh.
''memang mau kemana?''
''Menyusulmu ke Australia,bersama Adit.'' Jawab Nandin .
Rasa cemburu kian menguat setiap Nandin mengucapkan nama Aditya, terlihat dari raut wajah Dokter Riko yang terlihat sedikit kesal.
''Aku seharusnya tidak egois kan Din, Aku tahu aku salah, Maaf.'' Tatapan Dokter Riko seperti biasa begitu teduh dan menenangkan.
Nandin hanya mengatupkan bibirnya menatap jarinya lalu memainkan kukunya,
***
***
Suster memasuki ruangan Nandin.''Selamat siang, kita ganti perban ya?'' Ucap suster.
''Biar saya saja ya sus'' Jawab Dokter Riko.
''Eh Dokter Riko,'' Sapa suster tersebut.
Dokter Riko hanya tersenyum lalu ke kamar mandi untuk cuci tangan lalu kembali dan dan menggulung kemeja yang dikenakan nya dan mengambil alih pekerjaan Suster itu. Riko membuka perban Nandin pelan-pelan lalu menggantinya dengan yang baru. Setelah selesai, Dokter riko mengembalikan semua alat-alat medis yang digunakan lalu Suster itupun keluar dari ruangan.
***
Aditya merasakan sesak di dadanya lalu pergi ke apotik untuk membeli obat karena tidak mungkin masuk ke ruangan Nandin untuk mengambil obatnya, setelah melakukan pemesanan obat dan menunggu apoteker mengambilkan obatnya. beberapa Suster yang berjaga di depan terdengar desas desus sedang membicarakan Dokter Riko yang mengganti perban pacar nya membuat dada Aditya semakin sesak saja. Wajar saja begitu cepat gosip tersebar selain Riko adalah anak Direktur rumah sakit Dia juga Dokter yang tampan dan tidak ada yang tidak mengenalnya di rumah sakit ini terutama para Suster.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pembeliaan obatnya Aditya tampak pucat sekali walau sudah meminum obat pereda nyeri itu. Saat kembali ke ruangan tunggu Aditya tidak menemukan Ibu Dokter Riko dan Tama dan berpikir mereka sudah masuk ke ruangan Nandin, Aditya pun pergi kesana.
Benar saja mereka sudah duduk di sofa sedangkan Riko duduk di samping ranjang Nandin dan mengobrol, Aditya yang merasakan sesak di dadanya tidak fokus melihat keadaan hanya samar-samar terlihat Nandin yang tertawa bersama Dokter Riko.
''Dit kamu okay?'' Sapa ibu Dokter Riko.
''iya tan enggak papa,'' Jawab Aditya lalu duduk disamping tantenya itu.
''Sudah minum obat?''
''Sudah tan.''
Aditya memejamkan matanya seraya menyandarkan tubuhnya pada belakang sofa, membuat fokus Nandin buyar dan khawatir di raut wajah nya sungguh tidak bisa disembunyikan. Riko bisa melihat khawatir Nandin yang tidak biasa, membuat hatinya juga tidak enak rasa.
Tama yang menyadari kegundahan kakak nya langsung mengerti situasi, ''Ma, mama sama mas Riko memang tidak cape dari sini langsung kesini? apa tidak ingin istirahat?'' Ucap Tama.
''Iya sayang sebentar lagi Mama pulang sama Mas Riko, besok mama kesini lagi ya,'' Jawab ibu Dokter riko.
Riko bagaimanapun dia nebgkhawatirkan sepupunya lalu menghampiri sepupunya itu, ''Dit lo gak papa?'' Tanya Riko.
Aditya hanya mengangguk tetapi masih memejamkan matanya.
Handphone Dokter Riko berbunyi dan berada di samping Nandin. SEILA naa pemanggil itu tertulis di layar panggilan. ''Mas ada panggilan dari SEILA.'' Ucap Nandin, membuat Ibu Dokter Riko menatap Riko dengan tatapan aneh.
'Dokter Riko mengambil telepon genggamnya dan berlari keluar ruangan,Tanpa izin apapun kepada Nandin. Nandin hanya melihat langkah cepat dari laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya itu.
'' Siapa SEILA sampai-sampai Mas Riko harus mengangkat telepon nya diluar.'' Lirih Nandin dalam hati.
Dokter Riko tampak lumayan lama mengangkat telpon nya. Sedangkan fokus Nandin terbagi antara Riko dan Aditya. Masih dalam posisi yang sama Aditya hanya memejamkan matanya, ingin sekali rasa hati Nandin mendekat dan memegangi kepalanya tetapi situasinya cukup pelik, dan disebelah Aditya ada Ibu Dokter Riko.
Tampak ibu Dokter Riko memijat kepala ponakannya itu. khawatir Nandin sedikit berkurang melihat pemandangan itu. Padahal ingin hati dia melakukanya.
Suasana perasaan Nandin sedang tidak bagus. Situasi saat ini di luar dugaannya. Masalah datang satu persatu.
Tidak ada yang salah mungkin hanya perasaannya saja yang sedikit goyah, atau mungkin sikap pengabaian yang dilakukan Dokter Riko membuat celah di hati Nandin sehingga orang lain bisa memasukinya.
__ADS_1