
Ibu Dokter Riko mendekat kepada Nandin."nak, Mama pulang dulu ya, besok baru Mama kemari lagi.'' Ucap ibu Dokter Riko.
''Baik Ma, terimakasih ma sudah sudah datang, maaf juga jadi membuat khawatir,'' Jawab Nandin.
Dokter Riko kembali masuk kedalam ruangan setelah mengangkat telpon nya. ''Rik kita pulang dulu yuk?'' ucap ibunya.
''Mah mama duluan ajah,Nanti Riko nyusul'' Jawab Dokter Riko.
''Kita kan dari airport langsung kesini Rik, mama gak bisa naik taksi sendirian.'' Balas ibunya.
Dokter Riko melirik Nandin. Dan Nandin membalas nya dengan senyuman.''Gak apa-apa kamu istirahat ajah dulu Mas sekalian antar Mama. aku udah baik-baik ajah kok.
Dengan beat hati Dokter Riko mengangguk juga.''Aku pulang dulu ya? nanti aku balik lagi ok.''
Nandin tersenyum dan mengangguk lagi memdengar penuturan Dokter Riko, walau pandangannya sedikit curi-curi pandang pada Aditya yang sedang tidur, berada di atas sofa.
''Kak adek juga pulang sebentar ya ambil baju sekolah biar besok adek berangkat dari sini.'' Ucap Tama.
''Kamu mau pulang juga Tam?'' Ucap Dokter Riko.
''Iya kak besok adek mau sekolah, berangkat dari sini ajah soalnya kata Dokter besok kakak bisa pulang.'' Jawab Tama'
''Ya udah bareng sama Mama ya, sekalian Mama sama Mas Riko pulang,'' Ucap ibu Dokter Riko.
Riko mungkin memiliki perasaan berat hati meninggalkan kekasihnya berduaan dengan sepupunya itu, walaupun sepupunya sedang tertidur, Tetapi Dia tetap melanjutkan langkahnya di iku.ti Tama dan Ibunya, beberapa kali Dokter Riko melirik ke arah Nandin sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
Nandin menatap Aditya yang menyandarkan tubuhnya pada sofa itu, terlihat dari posisinya sekarang keringat tampak bercucuran dikeringat lelaki itu. Rasa khawatirnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Nandin mencopot selang infus yang tertanam di punggung tangan kirinya, turun dari atas ranjang pasien yang sudah 2 hari ditidurinya itu. Langkahnya cukup gontay karena kepalanya masih terdapat rasa pusing.
Tangan nya dengan sigap mengambil tisu yang berada di atas meja depan sofa ituh, lalu mengelap keringat yang bercucuran di kening Aditya. Tangan nya membuka kancing atas kemeja yang dikenakan lelaki itu. Menyadari tubuhnya disentuh seseorang Aditya membuka matanya dan melirik ke arah gadis itu.''Kamu kok kesini? Infusan nya mana kok di copot?'' Ucap Aditya begitu membuka matanya dan melihat gadis itu disampingnya tanpa infusan di tangannya.
__ADS_1
''Aku baik-baik ajah kok, kamu yang gak lagi baik-baik aja.'' Jawab Nandin.
''Aku gak papa ko, hanya butuh istirahat sebentar,'' Aditya memberi pengertian kepada gadis yang dicintainya itu.
Aditya memperbaiki posisi duduknya menghadap gadis itu dengan satu kaki berada di atas sofa sedangkan Nandin masih dalam posisi semula sedikit menyerong tetapi menghadap Aditya.
Aditya tersenyum mentap gadis di hadapannya.''I'm okay.'' Ucapnya.
''Dada mu sakit?''Ucap Nandin.
Aditya membentangkan kedua tangannya,''Coba chek dada ku baik-baik saja ko.''
Nandin berhambur kepelukan Aditya, telinganya di sandarkan pada dada lelaki itu yang kancing bagian atasnya terbuka, suara detakan jantung yang mungkin tidak terdengar kencang seperti kata orang-orang katanya detakan jantung akan terdengar saat orang sedang jatuh cinta, Nandin tahu ada yang bermasalah dengan detak jantung Aditya yang lemah tetapi dia berusaha terlihat baik-baik saja di depannya.
Nandin mendongakan kepalanya sebari masih memeluk lelaki itu.''Suara jantung nya tidak terdengar kencang Dit,'' ucapnya tanpa berkedip.
Aditya mengecup bibir gadis yang sedang mendongakan kepalanya ini, lalu kembali menatapnya dan kembali mengecupnya lagi dan lagi. Nandin yang sudah dimabuk cinta pun hanya bisa pasrah atas apa yang dilakukan lelaki ini. Posisinya dalam hitungan detik sudah berganti, Nandin disandarkan di sofa dan Aditya sudah lebih dekat lalu ciuman itu berlanjut, tangan Nandin yang menahan tubuh aditya seperti adegan menolak tapi bahkan gadis itu tidak mendorong nya ama sekali, Tampaknya Aditya mengeluarkan semua kerinduannya selama ini. Kini bukan Aditya yang memejamkan mata tapi Nandin yang memejamkan matanya sedangkan bibirnya bekerja. Aditya merasa lucu melihat gadis itu terpejam.
Aditya melepas ciumannya yang membuat mata gadis itu terbuka. Lalu dalam hitungan detik Aditya mengangkat tubuh gadis itu berpindah posisi ke pangkuannya dengan replek Nandin mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu dan megecupnya kembali, Nandin menerima kecupan itu dan membalasnya dengan senyum yang cantik. Kedua insan ini langsung sembuh rupanya bila sedang berduaan padahal Aditya sedang merasa sesak di dadanya dan kepala gadis itupun sedang diperban, sungguh keanehan yang nyata.
''Dit.'' Ucap Nandin.
''Iya,'' Jawab Aditya menatapnya lalu memindahkan posisi rambut gadis itu yang acak acakan dan memindahkan nya kebelakang telinga gadis itu.
''Udahan ah ciumnya.'' Jawaban Nandin membuat Aditya tertawa padahal posisi nya masih mengalungkan tangan di leher Aditya,
''Haruskah kita berhenti?'' Jawab Aditya.
''Dit turunkan aku,aku malu.'' Ucap Nandin. Padahal sebenarnya Nandin bisa saja turun dari pangkuan Aditya dengan mudah, tapi gadis itu memilih meminta izin duluan dan dengan manja meminta di turunkan.
__ADS_1
Aditya pun menurunkan gadis itu. Dan Nandin langsung berjalan dengan sedikit berlari ke arah ranjangnya lalu merebahkan diri dan menarik selimut menutupi wajahnya.
''Din, aku panggilin Suster ya buat masangin infusan kamu.'' Ucap Aditya.
Nandin tidak menjawab sama sekali di balik selimutnya. Sikap lucunya itu membuat Aditya mengulum senyum dan pergi keluar memanggil Suster,
Aditya kembali bersama suster.''Kok bisa lepas begini ya?''Ucap Suster.
''Iya sus tadi saya mau ke kamar mandi jadi saya lepas.'' Jawab Nandin datar.
Aditya tidak tahan mendengar jawaban Nandin dan menatap gadis itu dengan pandangan penuh selidik sebari mengulum senyumnya.
"Nanti kalo mau ke toilet bisa minta bantuan saya jika tidak ada yang bisa membantu.'' Ucap Suster.
"Tuh denger jangan asal cabut mencabut.'' Jawab Aditya.
"Saya permisi dulu ya." Ucap Suster setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Terimakasih Sus'' Ucap Aditya yang dijawab Suster dengan anggukan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Jadi tadi sebenarnya niatnya ke toilet ya?" Aditya menggoda Nandin yang pipinya berubah menjadi merah mendengar ucapannya.
"Ah jangan godain aku terus." Jawab Nandin merajuk
"Istirahat gih, kasian tadi udah kerja keras." Jawab Aditya.
Nandin mencubit pinggang Aditya yang langsung di ikuti tawa lelaki itu, karena puas menggoda gadis itu.
Aditya maupun Nandin larut dalam bahagia di hari, waktu dan tempat yang sama. tidak ada beban pikiran yang dirasa untuk hari ini. Walau mereka tahu ini tidak benar. Nandin bahkan belum resmi berpisah dari Dokter Riko dan hatinya sudah berpindah kepada lelaki yang pernah menjadi kekasihnya ini.
__ADS_1