LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
DISTANCE !


__ADS_3

Langkah Dokter Riko berhenti ditengah taman itu, ia duduk di sebuah kursi kayu yang menghadap pemandangan yang menghampar gedung-gedung tinggi, mengingat Rumah Sakit itu berada dipusat kota.


Pemandangan yang terlihat sangat Milineal, namun udara yang ia hirup begitu segar, karena wewangian bunga yang tumbuh di sekitarnya.


Nandin memejamkan matanya, menghirup udara segar yang dihasilkan tumbuhan-tumbuhan itu. Tatapan Dokter Riko tertuju pada wajah gadis itu. Sepertinya Nandin mengalahkan keindahan bunga-bunga yang mengelilinginya.


"Ini luar biasa," ucap Nandin, sedikit mengejutkan Dokter Riko, karena ia mengira Nandin melihatnya sedang menatap dia.


Namun Nandin masih dalam posisi memejamkan matanya, sehingga membuat Dokter Riko menyunggingkan senyumnya. "Benarkah?" tanya Dokter Riko.


Nandin pun perlahan membuka matanya. "Yap, ini benar-benar pemulihan yang sempurna bagi orang-orang yang sakit."


"Apa Mas sering kesini?" tanya Nandin.


"Ketika aku sedang ingin memulihkan perasaan ku," jawab Dokter Riko.


"Ternyata Dokter juga perlu pemulihan," lirih Nandin.


"Mas kapan berangkat ke luar negeri?"


"Aku tidak jadi kesana, aku memutuskan melanjutkan keinginan ayah untuk mengurus rumah sakit." jawabnya.


"Benarkah? Mas benar-benar menjalani hidup yang mas inginkan, menjadi Dokter dan menikmatinya.


Dokter Riko menghela nafas, "Tidak! Aku juga awalnya tidak mau jadi Dokter, apalagi menjadi seorang pemilik Rumah Sakit."


"Kenapa?" tanya Nandin kembali.


"Dulu aku sering melihat ayah pulang dengan mata sembab, lelaki yang mendidik ku dengan keras dia menangis, bertahun-tahun aku beberapa kali melihatnya menangis."


Nandin memperhatikan ucapan demi ucapan Dokter Riko dengan seksama.


"Lalu akhirnya aku tahu, ayah menangis ketika pasien nya meninggal. Ia merasa sangat bersalah karena tidak dapat menyembuhkannya walau sudah berusaha keras, dan menjadi pemilik Rumah Sakit paling lengkap di negara ini, aku pun jadi enggan menjadi Dokter karena takut merasa bersalah ketika pasien ku nanti tidak bisa aku selamatkan."


"Lalu sekarang mas menjadi Dokter? dan bahkan menjadi pemilik!" Ucap Nandin.


"Aku memutuskan mencintai apa yang aku suka, pernah suatu ketika aku baru menjadi Dokter, seorang anak kecil meninggal, aku terpukul sekali. Lalu orangtuanya berterima kasih padaku, mereka bilang aku merawat anak mereka dengan baik, dan anaknya sering bilang nafasnya lebih enteng dari biasanya karena ia penderita asma akut, disanalah aku berfikir, bahwa jika kita bersungguh-sungguh walau kita tidak bisa menyelamatkan nyawanya, aku sudah sangat berusaha meringankan sakitnya! Tidak ada yang tahu kapan manusia akan pulang kepada penciptanya, aku akan terus berusaha, dan memberikan yang terbaik dibidang yang aku cintai ini," Jelas Dokter Riko.


Nandin tersenyum mendengar penuturan lelaki disampingnya. "Waw ini dia Dokter kita yang hebat dan tampan, pantas banyak sekali anak-anak yang senang melihatnya," goda Nandin.

__ADS_1


Suara tertawa yang renyah terdengar dari mulut Dokter Riko, dan mereka pun akhirnya tertawa bersama karena celotehan Nandin.


***


***


Aditya terbang dengan wajah yang lelah, ia menyenderkan tubuhnya didalam pesawat di kabin kelas satu ituh! Ia berusaha menutup matanya setelah lelah melamun kejendela menatap awan disampingnya.


Ia berniat akan cepat kembali, dan berusaha meminta maaf sampai Nandin memaafkannya.


***


***


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Riko.


Nandin menoleh, "Lumayan membaik, namun aku merasa sedih tapi bahagia." ucap Nandin.


"Kenapa?."


"Aku sedang sakit, tapi ibuku bahkan tidak datang aku sedih, namun aku juga bahagia karena bersyukur ada orang-orang yang peduli padaku disekitar ku. Dulu saat ayah meninggal, aku hidup dengan Tama, kami harus bahu membahu untuk tetap hidup, agar kami tidak pecah dan kuat, namun kini aku memiliki orang-orang yang seperti keluarga," Nandin menundukan kepalanya, karena matanya mulai hangat karena terharu.


Nandin menyunggingkan senyumnya.


***


***


Nandin kembali ke ruangannya, dan Dokter Riko membantu gadis itu kembali ke ranjangnya. "Aku pergi dulu ya, ada yang harus dikerjakan. Kamu pulang besok kan?" tanya Dokter Riko.


"Iya," jawab Nandin.


Dokter Riko mengangguk, lalu pamit dan keluar.


Nandin seketika terdiam ia merasa sedikit membenahi perasaannya, rasa sakit kehilangan memang melekat, namun ia merasa sedikit tenang. Bu Sari bahagia melihat Nyonya muda nya akhirnya tersenyum.


***


***

__ADS_1


Aditya mendarat dengan selamat di Macau, ia sudah dijemput oleh pegawai perusaan yang akan bekerja sama dengannya, 19 jam perjalanan membuatnya penat dan lelah.


Didalam mobil pun ia hanya melihat ke luar jendela mobil itu, suara riuh terdengar karena macetnya dan populasi di negara Macau memang cukup ramai, namun pikirannya tetap saja bergriliya.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya ia sampai di hotel. Tanpa basa basi ia langsung meminta kunci dan pergi ke kamar hotel itu yang memang sudah dipesan oleh pihak perusahaan yang mengundangnya.


Ia membuka pintu kamar hotel itu, menyalakan lampunya lalu meninggalkan kopernya tepat di depan pintu begitu dia masuk, lalu berjalan sebari membuka baju kemeja yang memakannya lalu dilemparnya dan ia membanting kan dirinya ke atas kasur.


Jadwal tidur yang terganggu, dan ini termasuk jam pagi membuat matanya tertutup kembali.


***


***


Sedangkan dilain tempat , Nandin bersiap untuk pulang. Ia sudah mandi dan Bu Sari membenahi barang Nandin yang mau dibawa pulang.


Suara pintu kamar ruangan itu bergeser, "Hai, udah siap pulang?" suara itu membuat Nandin dan Bu Sari menoleh.


"Hai, Iya nih udah siap-siap."


"Ya udah, aku anter ya?" tawar Dokter Riko.


Melihat Riko yang masih mengenakan seragam Dokter nya, membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, pak Asep sudah standby didepan, kamu lagi kerja juga kan!" Seru Nandin.


"Hem, iya aku ada operasi satu jam lagi!" jawab Dokter Riko.


"Yasudah, semangat ya! Semoga lancar," ucap Nandin.


Bu Sari keluar duluan, dibantu pak Asep mengeluarkan barang-barang Nandin. Sedangkan Nandin dan Dokter Riko berada di ruangan itu. "Aku antar sampai depan ya?" kata Dokter Riko.


Nandin tidak menolak maupun mengiyakan, gadis itu berjalan keluar memakai pakaian biasa. "Akhirnya aku pakai baju biasa juga," lirihnya.


"Iya jangan pakai baju pasien lagi ya, kamu jadi gak cantik."


Nandin mendelikan matanya kepada Dokter Riko sebari bersaut "Huuh."


Ketika Nandin dan Dokter Riko melewati Lobby Rumah Sakit, banyak pasang mata melihat mereka, terutama para Suster-suster muda yang mengidam-idamkan Dokter Riko, mereka tahu bawa Nandin dan Dokter Riko pernah memiliki hubungan, bahkan mereka juga tahu bahwa kini keduanya sudah menikah dengan lain orang.

__ADS_1


Tatapan mereka membuat Nandin canggung, tetapi ketika Dokter Riko menyadari itu, ia langsung menatap wajah para Suster-suster itu, dan mereka langsung bubar, tatapan seorang CEO baru Rumah Sakit itu, cukup membuat mereka takut sekarang.


__ADS_2