
Pintu terdengar terbuka, seseorang dari balik pintu berbicara sopan. "Maaf Bu, makanan nya sudah siap." Ucap asisten rumah tangga yang mengenakan seragam hitam putih itu.
"Oh begitu baiklah, tolong beritahu Bapak juga ya." Jawab ibu Dokter Riko.
Kemudian asisten rumah tangga itupun menutup pintu kembali. "Nak, ayok kita makan dulu ajah ya?" Kata ibu Dokter Riko.
Nandin hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah ibu Dokter Riko yang berjalan didepan nya.
Rupanya di meja makan sudah ada Tama dan Ayah Dokter Riko yang lebih dulu duduk disana.
Setelah semua duduk, barulah Ayah dokter Riko memimpin do'a dan mereka semua makan bersama, Nandin terngiang tentang kejadian ikan Indosiar waktu pertama kali datang dan makan di Rumah Dokter Riko. Lagi lagi pikiran nya terngiang, ia nya menggigit bibir bawah nya berusaha menyembunyikan rasa sedih nya namun air matanya tak terbendung, ia mengambil tisu. "Astaga ini pedas sekali." Nandin berusaha menyembunyikan rasa sedih nya. padahal ia tidak makan sambal sama sekali.
Menyadari sesuatu hal pada gadis itu. Ayah dan Ibu Dokter Riko saling melirik, tak terkecuali Tama.
Meskipun dalam keadaan kurang menyenangkan akhir nya makan siang pun berjalan tetap lancar.
"Sayang mau ikut Mama tidak?" Ibu Dokter Riko berbicara pada Nandin.
"Kemana Ma?"
"Nanti kamu tahu."
Nandin mengekor mengikuti langkah ibu Dokter Riko. Sedangkan Tama kembali di ajak main Game lagi oleh Ayah Dokter Riko.
Nandin memasuki ruangan, dimana ruangan itu adalah ruangan terakhir dimana sikap dingin Dokter Riko dimulai. Kamar nya. Kamar dengan desain America clasic ini dimana terdapat fotonya terpampang. "Sayang kamu rindu sama Riko kan, semoga ini bisa ngobatin kangen kamu ya." Ucap ibu Dokter Riko.
Nandin mengangguk lesu, menatap bantal yang tertata rapih tanpa penghuni.
"Mama tinggal dulu ya, kamu santai saja anggap kamar kamu sendiri ya." Ucap ibu Dokter Riko lalu pergi meninggalkan Nandin yang masih berdiri mematung.
Dirabanya seprai putih yang tertata rapih, jarinya yang lentik menyusuri setiap inchi kasur itu, lalu tibalah di bagian bantal, dimana iya melihat Dokter Riko berbaring disana beberapa hari lalu. Mencoba memposisikan diri lalu fokus memandang ke depan melihat lukisan yang tepat di hadapan nya.
Sebuah buku di atas meja samping tempat tidur Dokter Riko, menarik perhatian Nandin. Buku berwarna coklat tua, terdapat 4 huruf yang menggelayut sambung menyambung dan membentuk kosa kata R A I N, NAndin kemudian menyentuh nya dan berpikir seribu kali untuk membuka nya, kemungkinan ini adalah diary Dokter Riko, lancang jika dia harus membukanya, rutuknya dalam hati.
__ADS_1
Tetapi jiwa penasaran seorang wanita lebih besar daripada rasa penyesalan nya. Akhir nya Nandin membuka Cover buku itu terdapat penjelasan dari kata di judul depan.
R A I N itu adalah Hujan. Aku menemukan nya saat hujan, senyum saat seseorang menikmati hujan. Katanya dia takut petir tetapi dia suka hujan nya padahal dia tahu pasti ada petir di sela sela hujan turun.
R Iko
A nd
I love
N andin. Nandin terkejut melihat arti dari baca an R A I N, disana tercatat tanggal nya yaitu Februari 2014 catatan ini dibuat 6 tahun lalu.
Ibu Dokter Riko mengejutkan Nandin. "Sayang kamu lagi apa?"
"Maaf mah, Nandin tidak sengaja membuka ini" Nandin menjelaskan.
"Baca lah barangkali dengan begitu kamu bisa mengerti lebih dalam tentang Riko dan hati mu tidak terlalu terluka lagi" Ucap ibu Dokter Riko.
"Tidak ,nanti mama yang jelaskan."
Mendapat lampu hijau dari ibu kekasih nya membuat Nandin yakin pasti, dan memasukan buku itu kedalam tas nya, karena tidak mungkin terhadap fotonya yang terpampang di kamar Dokter Riko. lalu menanyakan nya kepada Ibu Dokter Riko. "Ma, ini foto Nandin sejak kapan ada disini?
"Sejak 5/6 tahunan kaya nya sayang"
Nandin melongo mendapati jawaban dari ibu Dokter Riko.
"Riko benar benar menyukai foto ini, sampai sampai ia membersihkan sendiri setiap Minggu bingkai fotonya"
Mendengar jawaban dari ibu dokter Riko, hati Nadin menciut menyadari kekasih nya begitu menyayangi nya dan sekarang ia rindu perhatian perhatian kecil nya.
"Kamu masih mau disini? atau gabung sama Mama dan Ayah juga Tama?
Nandin menggeleng dan memegang tangan ibu Dokter Riko. "Sudah Ma, semakin lama disini, Nandin semakin rindu mas Riko.
__ADS_1
Ibu Dokter Riko pun hanya mengangguk saja. dan memegang kembali tangan gadis biru dengan erat.
Akhir nya Nandin pun bergabung dengan Tama dan Ayah kekasih nya itu, mereka tertawa ceria menikmati kebersamaan layak nya keluarga.
Memakan cemilan kecil dan memperhatikan Game yang sedang di mainkan kedua lelaki di depan nya membuat Nandin merasa ruang hati nya yang sepi sedikit terobati.
Hari sudah mulai sore, Nandin pamit kepada kedua orangtua kekasih nya. "Mak terimakasih ya sudah mengundang Nandin dan Tama, maaf sekali malah merepotkan disini"
"Tidak sayang justru Mama senang, sering-6 ya main kesini" Lalu ibu Dokter Riko memeluk Nandin.
Sungguh dekapan nya, adalah dekapan seorang ibu untuk anaknya. tulus dan hangat.
Tama juga tidak luput, menyalami Ayah dan ibu Dokter Riko.
"Sering-sering main kesini ya Tam?." Ucap ayah Dokter Riko.
"Iya ayah in syaa Alloh, kalo gak kena tegur kakak karena kelamaan main game" Tama melirik kakak nya
Seketika semua orang tertawa.
"Kakak mu sudah hebat didik adik nya, biar fokus belajar, main game boleh tapi sesekali jangan sampai lupa waktu." Ucap Ayah Dokter Riko.
Nandin tersenyum penuh kemenangan. Lagi lagi Tama kalah telak memenangkan hati orangtuanya Dokter Riko.
"Yasudah Nandin pamit yah Ma, Ayah Assalamualaikum" Gadis itu kemudian keluar setelah pesanan kendaraan online nya sampai, sebelumnya orangtua Dokter Riko menawarkan diri mengantar kan, tetapi Nandin bersih kukuh menolak.
Diperjalanan pulang Nandin terdiam tidak banyak bicara, Tama pun sepertinya lelah ia memejamkan matanya saat perjalanan pilang.
Menatap jalan dari balik jendela kaca mobil itu, Nandin melihat jalan yang pernah dilaluinya dengan Dokter Riko. Juga tempat mereka makan sate untuk pertama kalinya. Semua tentang Dokter Riko tak luput dari bayangan Nandin dan mampu menarik perhatian nya.
Semua tentang nya, mampu mengobrak ngabrik perasaan nya dengan bersamaan, rindu pada nya selalu menyisakan sesak di dada. Membuat segores luka pada rasa yang tak berujung temu.
Semua insan manusia di posisi ini pasti akan berusaha menegakkan diri, dan men doktrin dirinya, tenang tuhan tau yang terbaik, itu sudah lumrah.
__ADS_1