LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
LAMARAN HARU!


__ADS_3

Aditya bingung harus menyapa dengan cara apa. "Iya Ma." jawabnya.


"Kenapa kamu Dit, sejak kapan di Indonesia?" tanya wanita itu.


"Sudah lumayan lama. Mama tinggal dimana?" lanjut Aditya.


pertanyaan itu ternyata membuat ibu Nandin membelalakkan matanya. "Kenapa kamu bertanya, apa kamu sudah ke rumah kami?"


Aditya salah ambil langkah. Akhirnya dia jujur. "Iya Ma, aku sudah beberapa kali ke rumah." Ujar Aditya. Rumah yang dimaksud adalah tempat tinggal Nandin dan Tama.


"Syukurlah, Mama tenang. Bagaimana reaksi Nandin melihatmu?"


Aditya menarik nafasnya. "Ma, bagaimana kalau kita duduk dulu?" Tawar Aditya!


Ibu Nandin pun mengangguk. Akhirnya mereka duduk dengan posisi lurus menghadap satu arah. "Jadi bagaimana, sikap Nandin?" lanjut wanita itu, tidak sabar mendengar reaksi anaknya terhadap Aditya.


"Nandin," jawaban Aditya terpenggal, pertanyaan ibu Nandin sontak membuatnya bingung.


Ibu Nandin menaikan alisnya, menanti ucapan selanjutnya.


"Awalnya dia histeris, sama seperti dulu. Tetapi sekarang sudah lebih baik."


"Syukurlah, Mama senang mendengar Nandin kini baik-baik saja." lirih wanita itu.


Raut wajah sendu wanita itu. Membuat Aditya mengutuk diri atas kesalahan yang dibuatnya.


"Mama, mama." Suara teriakan kecil terdengar dari arah didepannya. Membuat Aditya kaget bukan kepalang.


Seorang anak berusia sekitar 4 tahun, berlari ke arah wanita yang sedang bicara dengannya. "Dit, kenalkan ini Ragam, anak bungsu Mama" jelas ibu Nandin.


Aditya hanya tersenyum mengangguk. Lalu seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka. "Ayo Ma, kita pulang. Ayah sudah ambil obatnya." ucap lelaki itu.


Aditya hanya melirik ibu Nandin dan lelaki itu bergantian. "Kenalkan Diri, ini suami baru Mama." Lelaki itu lalu menjulurkan tangannya, dan diterima oleh Aditya.


"Kalau begitu Mama pergi duluan ya. Kamu cepat sehat ya?" ucap ibu Nandin, menyadari Aditya memakai baju pasien.

__ADS_1


Aditya masih syok atas apa yang dilihatnya. Dan hanya mengangguk ketika ibu Nandin berlalu dari pandangannya.


"Mama Nandin sudah menikah lagi?" lirih Aditya dalam hati.


"Bagaimana bisa. Apa itu tidak membuat Nandin dan Tama terluka? ." Lanjut Nandin, dalam hatinya.


Aditya kembali membayangkan, penderitaan yang dilewati gadis yang dicintainya. Mengingat anak bungsu ibunya sudah menginjak 4 tahun. Berarti ibu Nandin meninggalkan Nandin dan Tama, tepat satu tahun setelah kematian ayahnya.


Aditya berdiri, lalu berjalan gontai. Berjalan ke arah lift VVIP untuk menuju kamarnya. Seketika lift terbuka dan Aditya masuk kedalamnya. Badannya lemas, ia memikirkan, bagaimana hidup yang dilewati gadisnya itu.


Lift terbuka tepat di lantai lima. Aditya menggeser pintu kamarnya. Dan Nandin sudah duduk sofa panjang dengan melilitkan handuk dikepalanya.


Aditya langsung berlari dan menghambur kepelukan gadis itu. "Maafkan aku." ucap Aditya, tangannya tepat memeluk bagian kepala gadis yang sedang duduk itu.


"Untuk apa?" jawab Nandin.


"Untuk kehidupanmu yang hancur karenaku. Maafkan aku Din"


Nandin berpikir, apa yang membuat Aditya begitu merasa bersalah.


Suara pintu ruangan itu kembali tergeser, menandakan ada seseorang yang memasukinya. Dan ternya nyonya Keira dan pak Sakseno, orangtua Aditya.


Ini sebenarnya bukan kali pertama Nandin bertemu orangtua Aditya. Dulu mereka pernah bertemu di rumah nenek Riko dan Aditya.


Tetapi karena Nandin yang tidak mengingat siapa pak Sakseno, membuat gadis itu bersikap biasa-biasa saja.


Kini meskipun hati Nandin sudah terpaku lagi pada Aditya. Rasa sakitnya akan perlakuan pak Sakseno, tetap membuat Nandin belum luluh.


"Dit, kenapa kamu gak kabarin Mami kalo kamu sakit?" Panik wanita paruh baya, istri pak Sakseno.


"Tidak apa-apa Mi, Adit baik-baik aja ko." jawab Aditya.


Nandin membuka handuk yang dililitkan dikepalanya. ia memberikan hormatnya sedikit. "Maaf, saya izin keluar dahulu. Ada urusan" ujar Nandin!


Aditya yang menerima signal aneh, langsung mengerti bahwa ini tidak beres.

__ADS_1


Nandin melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu. Baru saja Aditya akan melangkah, suara seseorang membuatnya berhenti. "Dit, kalau kamu kejar wanita itu. Berarti kamu tidak dewasa.'' Jelas pak Sakseno!


Aditya yang tidak melawan ucapan Papinya, hanya bisa berdiri mematung meremas paper bag kecil yang dibawanya. Mematung melihat gadis yang dicintainya pergi.


"Kenapa kamu masih berurusan dengan wanita itu?" Teriak pak Sakseno!


"Apa salahnya, aku bahkan bisa meminta maaf padanya kala itu. Tapi apa? papi membuatnya kacau. Memberi gadis itu uang. Papi berpikir uang dapat menyelesaikan segalanya, tapi tidak dengan hati oranglain." Aditya berteriak dengan suara imbang pada ayahnya.


Kini perasaan yang ia pendam terbuncahkan. Keira kaget anaknya yang penurut ternyata mampu berteriak pada papinya.


"Aku sudah menahan semuanya Pi. Aku sudah menggantikan Papi menjabat sebagai CEO. Itupun kuturuti, tolong untuk urusan hati Adit punya pilihan sendiri." Aditya berlalu meninggalkan orangtuanya.


Baru saja Aditya berhasil mengimbangi langkah Nandin. Langkah gadis itu terhenti. Pak Gun ada dihadapannya. Tatap mata Nandin begitu tajam pada pak Gun.


Lah Gun datang bersama nyonya Keira dan pak Sakseno. Begitu mendengar ucapan pak Gun atas yang didengarnya, pak Sakseno dan ibu Keira bergegas ingin tahu wanita yang ingin dilamar Aditya.


"Non Nandin." ucap pak Gun.


"Bapak, bapak yang mengantarkan uang saat ayah saya meninggal." lirih Nandin.


"Aditya," Suara panggilan jelas terdengar dari ayahnya itu.


Nandin merasa suasana semakin canggung. Aditya memegangi kepalanya. Ia mengambil langkah bersimpuh, satu kaki ditekuk ke lantai, satunya untuk menopang tangannya.


Tanpa aba-aba, Aditya meraih tangan Nandin, Nandin sangat terkejut melihat perlakuan Aditya. Aditya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih bening dari dalam paper bag nya.


"Din. Aku tahu aku banyak melukaimu, banyak membuatmu menghabiskan waktu dengan tidak mudah. Aku ingin menebus semua kesalahanku, yang disengaja maupun tidak. Dengan ini aku memutuskan agar kamu selalu berada di sampingku. Maukah kamu menjadi istriku?" ujar Aditya. Membuat semua pasang mata di lobby rumahsakit itu menanti jawaban Nandin. Aditya pun membuka kotak kristal kecil itu, sehingga memperlihatkan isinya.


Tidak terkecuali pak Sakseno, satu-satunya orang yang menunjukan wajah marah. Berbeda dengan nyonya Keira dan pak Gun, yang lebih tenang dipandang.


Nandin merasa Aditya benar-benar melakukannya karena perasaannya yang tulus. Dengan pasti dan berucap bismillah dalam hati, Nandin mantap menjawab. "Iya, saya mau jadi istrimu."


Jawaban Nandin sontak membuat semua orang bertepuk tangan, Aditya pun memasangkan cincin itu di jari manis kekasihnya.


Rasa haru dan bahagia terpatri di wajah Aditya dan Nandin. Kebahagiaan yang tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Aditya.

__ADS_1


Pak Sakseno yang melihat kejadian inipun, langsung berjalan melewati dua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Ia pergi dengan wajah geram. Diikuti nyonya Keira dan juga pa Gun.


Rupanya kejadian lamaran dramatis itu, disaksikan oleh Riko yang berada dilantai dua rumah sakit. Aditya satu langkah didepannya. Kini kesempatannya mendapatkan gadis itu sudah sirna.


__ADS_2