
Hari demi hari terasa lebih baik bagi Nandin, setiap hirupan nafasnya terasa lebih berarti.
Apalagi kehadirannya di hidup Aditya sudah mulai diterima oleh nyonya Keira dan pak Sakseno.
Hari ini, nyonya Keira mengunjungi rumah Nandin, menjemput gadis itu untuk pergi bersamanya.
Karena belum saling terbuka, Nandin hanya menuruti ibu kekasihnya itu, dan pergi bersama.
Sampai mobil mewah yang ditumpangi Nandin dan nyonya Keira, berhenti di sebuah bangunan vintage berwarna coklat tua, tampak nama yang familiar di ingatan Nandin karena sering melihatnya di acara-acara besar di televisi. "ADINDA CASTLE" adalah nama seorang Desainer ternama, kini Nandin ada didepan tempat itu.
"Sayang ayo masuk!" Ajak nyonya Keira.
Nandin mengangguk dan melangkahkan kakinya.
Begitu memasuki tempat itu, tampak para pegawai yang menyambut. Rupanya nyonya Keira adalah tamu VVIP ditempat itu, pantas sajah baju yang dikenakannya memiliki keunikan tersendiri.
"Hallo nyonya Kei," Sapa seorang perempuan paruh baya yang menyapanya,
"Halo Dinda," balas nyonya Keira, dan mencium pipi kiri kanannya.
"Eh, jadi mana calon menantumu?" tanya wanita itu, dan mengajak Keira duduk di sofa ruangan VVIP itu.
"Ini Nandin, dia calon menantuku." jawab nyonya Keira.
"Ya ampun sayang, kamu cantik sekali dan memiliki badan yang bagus, jarang make up ya? Wajahmu polos sekali, tapi sangat cantik." ucap wanita yang sedang mengamati gadis itu.
Nandin memang jarang ber make-up. Bahkan bibirnya saja pun hanya mengenakan liptint yang membuat bibirnya merah alami.
"Sayang ayo kita coba gaun pengantinnya," ajak Bu Adinda, Desainer terkenal itu.
"Gaun pengantin?" Nandin kaget mendengar kata-kata itu.
"Iya sayang, mama mertua mu ini sangat exicted, mendengar putranya akhirnya menemukan belahan jiwa,"
Nandin terharu mendengar kata-kata itu. Tidak menyangka nyonya Keira menerimanya dengan senang hati.
Nandin pun melirik nyonya Keira sebelum akhirnya memasuki ruang ganti.
nyonya Keira hanya menatapnya dengan melempar senyum.
Nandin begitu terkejut begitu memasuki ruangan dipenuhi gaun pengantin, semua berwarna putih dan juga putih tulang! Dengan desain yang berbeda, namun semuanya tetap terlihat mewah dan elegan.
Nandin memilih sebuah baju yang pertama kali langsung mencuri perhatiannya. Gaun itu ditempatkan di sebuah etalase dengan lampu yang menyorotinya. "Tante, boleh coba yang itu?" tunjuk Nandin, pada baju disimpan terpisah dari yang lainnya.
__ADS_1
"Wah tentu saja sayang, seleraku memang bagus. Selain cantik kamu juga pintar ternyata," ucap Bu Adinda, dan menyuruh dua karyawannya mengambil gaun itu.
Nandin terpesona begitu gaun itu ada didepannya, modelnya sangat modis. Dan mutiara yang terdapat di bagian perutnya sangat terlihat asli. "Wah indah sekali," lirih Nandin begitu memegang gaun itu.
"Sayang, kamu benar-benar baik. Biasanya orang yang datang kesini, hanya akan bilang beberapa kata. Ini bagus, saya mau ini, ini modis. Tapi kamu bilang indah dan sorot matamu penuh kejujuran," ucap Bu Adinda.
Nandin tersenyum," ini benar-benar indah Tante," jawab Nandin.
"Pantas tuan muda memilihmu, dia akan bahagia, gih sekarang coba gaunnya," lanjut Bu Adinda.
Nandin pun mengangguk dan berganti pakaian ditemani dua pegawai, karena rupanya baju itu beratnya mencapai 8kg. Lumayan juga ya.
Diluar nyonya Keira kedatangan anak semata wayangnya. "Ma, aku langsung kesini! Kebetulan gak ada kerjaan." Aditya langsung to the point'.
Padahal nyonya Keira tahu, Aditya hanya ingin melihat Nandin memilih gaun pengantinnya.
Aditya harap-harap cemas, dan juga Bu Adinda menghampirinya. "Hallo tuan muda, sekalian mau coba jas nya?" tawar Bu Adinda, yang sudah mengukur baju Aditya karena seringnya memesan baju disini.
Sedangkan Nandin tidak perlu diukur karena sudah memiliki tubuh yang proporsional, mengingat semua gaun ini baru di buat.
"Boleh Tante," Jawab Aditya lalu mengikuti langkah Bu Adinda.
Aditya langsung di suguhkan sebuah jas didalam etalase, "Tante, kenapa harus ini?" tanya Aditya.
"Karena kekasih tuan muda memilih pasangannya untuk ia kenakan," jawab Bu Adinda.
Tidak menunggu waktu lama, Nandin dan Aditya keluar bersamaan dari ruangan yang bersebelahan. Karena Nandin memakan waktu cukup lama untuk mengenakan baju itu.
Aditya dan Nandin langsung saling lirik, begitu keluar dari sana. Tatapan Aditya sangat penuh perasaan, Nandin membuatnya terpesona. Dengan rambut yang disanggul sederhana, tidak membuat kecantikannya luntur. Malah memberi kesan bahwa apapun yang ia kenakan akan ikut bersinar.
Nandin juga tak kalah kaget, melihat Aditya dengan pesonanya. Dia tampan seperti biasa!
"Wah luar biasa, baju limited edition ini sungguh pas untuk mereka," ucap salah satu pegawai, dan menyentuh sikut temannya.
"Memang, aku tidak menyangka,luar biasa." jawab temannya.
"Sayang kamu disini?" tanya Nandin.
"Iya, aku sengaja untuk fitting baju pengantin dengan wanita ku," jawab Aditya.
Pipi Nandin tampak memerah,
Aditya mengangkat satu tangannya dan mengerjakan jarinya, sedangkan tangan satunya ada di saku celana.
__ADS_1
Hal itu membuat para pegawai mengerti,dan menyuruh mereka keluar.
Nandin memperhatikan para pegawai meninggalkan mereka berdua. Dan Aditya melangkahkan kakinya semakin dekat.
"Sayang, cantik sekali!" ucap Aditya begitu sangat dekat dengan kekasihnya.
"Kamu juga sangat menawan," jawab Nandin.
"Aku bersyukur akhirnya proses memberiku penghargaan terbaik, aku memilikimu. Aku akan menikahi kekasih yang sudah lama ku nantikan," lirih Aditya.
Ucapan Aditya membuat hati Nandin tersentuh, Aditya juga menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
Aditya mengecup kening gadis didepannya, penuh perasaan. Selangkah lagi akhirnya ia akan memiliki gadis itu.
Nyonya Keira memasuki ruangan itu, melihat pemandangan yang sangat indah membuat nyonya Keira merasa bersalah.
Nandin dan Aditya bahkan tidak melepas genggamannya. "Wah, luar biasa!" ucap nyonya Keira begitu melihat anak semata wayangnya juga calon menantu nya bersanding dengan sempurna.
Aditya dan Nandin saling lirik dan tersenyum.
"Bagaimana Kei? ini limited edition loh, aku tidak menyangka akan indah di pakai anakmu dan juga calon menantu mu," ucap Bu Adinda.
"Okay aku ambil ini, ini benar-benar indah," Hampir nyonya Keira meneteskan air matanya.
Nandin tidak sengaja menyentuh bandrol di gaunnya, dan melihat harganya yang tertulis $100.000 matanya terbelalak begitu melihat nominal dengan kode dollar didepannya. "Sayang ini seratus ribu dollar?" tanya Nandin pada Aditya.
"Iya sayang, kenapa? Tante Adinda memang Desainer terkenal. Rata-rata segitulah harganya." jawab Aditya.
"Ma, kayanya Nandin pilih yang lain ajah ya, jangan yang ini," ucap Nandin pada nyonya Keira.
"loh kenapa sayang? bukannya ini bagus?," tanya Keira kebingungan.
"Tidak apa-apa Ma, tadi Nandin langsung melihat ini. Jadi belum lihat yang lainnya." jawab Nandin.
Nandin berjalan ke arah gaun pengantin yang digantung, dan melihat bandrol nya yang rata rata tertera $40.000 , ini paling murah. Apalagi gaun yang dikenakannya, pantas saja limited edition, jika di rupiahkan $100.000 dolar bisa mencapai 1,5 miliar.
Nandin tidak mau poya-poya walau keluarga calon suaminya seorang miliarder.
Aditya menatap ketulusan dimata kekasihnya itu.
"Sayang, ayo kita ambil yang ini. Aku juga suka kok," Aditya meraih tangan Nandin meyakinkan.
"Tapi sayang, aku tidak suka." jawab Nandin
__ADS_1
"Sayang aku tahu maksudmu, jangan hiraukan harga. Anggap ini hadiah dari Mama ya," lanjut Aditya.
Nandin pun mengatupkan bibirnya, bingung memutuskan. Dan akhirnya menuruti kemauan Aditya.