LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
ADITYA PERGI?


__ADS_3

Budayakan Like , komen , setelah membaca ya. Author tahu bahwa tulisan Author tidak rapih. Tetapi Author harap kalian memberi kritik dan saran untuk membangun Author lebih baik lagi. Aku mencintai kalian sangat mencintai, kalian mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ku. Iloveyou guys 💕😭😘


Tama kembali dari mengambil barang-barang yang diperlukan nya. Karena besok ia berangkat sekolah dari rumah sakit dan tidak memungkinkan dulu jika harus kembali ke rumah, kebetulan besok adalah hari dimana Nandin boleh pulang ke rumah.''Dek kamu sudah pulang?''Tanya Aditya pada Tama.


''Iya kak. Kak Adit udah baikan?''Balas Tama.


''Iya kakak udah dapet obat paling mujarab dek,''Jawab Aditya sebari melirik Nandin dengan gaya menggoda membuat Nandin malu-malu.


"Obat mujarab yang kakak beli di apotik ituh kak?""


Menyadari ucapan Tama yqng polos, Aditya hanya memandang Tama dengan wajah melas."Iya dek." Jawab Aditya simlpe.


Tama yang menyadari sikap aneh dua orang dewasa di depannya mulai merasa curiga.''Apa yang kalian lakukan saat aku tidak ada?''Tanya Tama mengintrogasi Nandin dan Aditya.


''Tidak.'' Jawab Nandin dan Aditya bebarengan lalu di ikuti saling pandang karena mereka tidak menyangka akan menjawab hal sama.


Tama pun keheranan dan memilih tidak menanyakan lebih lanjut.''Kak besok adek harus sekolah terus kakak gimana pulangnya?''Tanya Tama pada Kakak nya, karena khawatir jika tidak ada yang mengantar kakak nya pulang, sedangkan dia juga tidak bisa izin lagi sekolah karena ada pelajaran yang wajib di ikuti.


''Besok aku yang antar kamu pulang ya,bolehkan?'' Ucap Aditya dengan tatapan menggemaskan diikuti sunggingan senyum.


''Tentu saja,'' Jawab Nandin sebari tersenyum ceria,


Tama menyipitkan matanya merasa ada yang tidak beres. Dan Nandin juga Aditya menyadari tatapan Tama yang curiga. ''Maksudku bisa kan adek Tama kak Adit ajah yang antar kak Nandin pulang?'' Ucap Aditya menjelaskan pada Tama yang masih memberi tatapan curiga nya,


''Ok, makasih yah kak Adit.'' Jawab Tama,


Aditya mengangguk dan mengedipkan matanya kepada Nandin, memberi kode bahwa semuanya aman dan baik-baik saja.


Handphone Aditya tiba-tiba berdering di atas meja ia berjalan ke arah benda itu berbunyi lalu mengambilnya dan mengangkat panggilannya.


''*hallo?'' Ucap Aditya membuka pembicaraan nya di telphone. * Mereka berbicara cukup lama, sampai Aditya menutup telepon nya dan berbalik dengan wajah sedikit muram.


''Kenapa?'' Ucap Nandin yang bertanya karena merasa ada yang tidak berees dengan Aditya setelah menerima panggilannya.


Aditya tampak bingung dan menggaruk bagian beelakang kepalanya sebelum menjawab. ''Tika telpon dari kantor, besok investor ingin bertemu denganku tetapi di Yogjakarta.'' Jawab Aditya.

__ADS_1


''Yasudah, temui saja itu kan penting.'' Jawab Nandin.


''Masalahnya besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali Tika sudah membeli tiket penerbangannya.''


''Oh begitu, Tidak apa-apa aku pulang sendiri saja'' Jawab Nandin.


''Besok kan kakak bisa dijemput Mas Riko'' Ucap Tama, yang segera mendapat tatapan tajam dari Nandin.


 ''Kenapa? kak?'' Lanjut Tama yang merasa tidak salah bicara tetapi  mendapat tatapan tidak mengenakan dari kakak nya.


 ''Tidak apa-apa.'' Jawab Nandin singkat, dengan nada yang lirih hampir tidak terdengar.


 ''Yasudah kalo gitu adek keluar dulu yah kak?'' ucap tama setelah membuat kakak nya geram.


 Tama pun meninggalkan ruangan Nandin, dan Nandin segera menatap Aditya dengan tatapan tidak enak hati karena ucapan adiknya, ''Kenapa?'' Aditya berucap sebari mendekatkan diri dan duduk di atas ranjang lalu memegang tangan gadis itu,


 ''Din, tidak apa-apa. Tanpa Tama minta pun Riko pasti akan menjemputmu,'' Ucap Aditya.


 ''Aku pulang sendiri saja tidak apa-apa Dit.'' Jawab Nandin menatap Aditya dengan penuh rasa.


 ''Sayang aku tahu kamu benar-benar takut aku akan marah kan, aku tidak begitu. Aku juga tidak mau kamu langsung melepaskan Riko begitu saja, aku tidak mau dia menganggapmu perempuan macam-macam.'' Aditya balik memberikan pengertian pada Nandin, bahwa ini yang terbaik.


 Nandin mengambil handphone yang di julurkan dari tangan Aditya. Melihat nama Riko tertera lagi-lagi membuatnya tak enak hati  pada Aditya.


 ''Angkatlah tidak apa-apa.'' Ucap Aditya. Nandin pun mengangguk dan menggeser layar nya untuk mengangkat pnggilan itu.


 ''Hallo Mas'' Ucap Nandin setelah meletakan handphone di telinganya.


 '''hallo, Din'' Jawab Dokter Riko di balik telpon itu.


 ''Ada Apa Mas?'' Lanjut Nandin datar.


 ''Besok aku jemput ya dari rumah sakitnya, kamu pulang jam berapa besok?'' Tanya Dokter Riko.


 Nandin terdiam sebentar dan melirik Aditya yang menatap nya dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


 'iya Mas aku pulang pukul 1 siang, tadi kata dokter nya ada yang perlu di tes jadi baru bisa keluar jam segitu'' Jawab Nandin dengan nada yang masih sama datarnya dengan sebelumnya,


 ''Ok aku kesitu besok ya jemput kamu''


 ''Baik mas.''


 Telpon pun di tutup dan buru-buru Nandin menaruh telponnya.''Besok Mas Riko jemput aku Dit?'' Ucap nya tak enak hati.


 ''Iya aku sudah dengar tadi, tidak apa-apa jadi aku juga enggak terlalu khawatir kalo kamu ada yang jemput ditambah kan Tama sekolah.'' Jawab Aditya.


 Nandin mengangguk.''Jam berapa Kamu berangkat ke yogjakarta?''


 ''besok subuh jam 05 pagi sudah harus di bandara karena mungkin meeting nya akan di mulai sekitar jam sembilan'' Jawab Aditya,


 ''Hati-hati ya.'' Ucap Nandin memancarkan wajah muram.


 ''Hei gadis cantik, jangan muram aku akan segera kembali, Yogjakarta tidak akan menempuh perjalanan lama dari jakarta okay. Kemungkinan sore aku sudah dijakarta lagi, aku bahkan bisa pulang kapan saja aku mau penerbangan kesana selalu ada setiap jam nya.'' Aditya meyakinkan gadis itu lalu memberi kecupan di keningnya.


 ''Aku izin pulang dulu ya, aku perlu siapin dokumen buat besok.'' Lanjut Aditya.


Sebenarnya Nandin tidak mau melepas Aditya, tetapi dia membatin dalam hati 3 hari ini Aditya menghabiskan waktunya mengurusinya, dan melupakan tanggung jawab kerjaannya, sehingga Nandin merasa bersalah.


Ia hanya membalas anggukan dan segurat senyuman.


 Meskipun tampak di wajah gadis itu kegusaran ia memaksakan senyuman untuk lelaki yang merebut hati nya itu.


Aditya pun dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. ''Dit'' Nandin memanggil lelaki itu sebelum dia melangkahkan 1 kakinya ke ambang pintu.


 Aditya pun menengok,''Iya?'' Jawabnya,


 ''Jangan lupa obat ya, jangan sampai lupa pokonya itu wajib ya,'' Ucap Nandin.


 Aditya mengangguk dengan pasti, juga memamerkan senyuman nya yang mempesona.''Siap tuan putri'' Jawabnya,. Senyuman yang akan dirindukan gadis itu.


 Nandin pun melambaikan tangannya, dan dibalas lambaian lagi oleh Aditya lalu ia melangkahkan kakinya dan hilang dari pandangan Nandin.

__ADS_1


Perasaannya yang membuncah karena kebahagiaan seiring meredup ketika Nandin memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Dokter Riko nanti.


Kebohongan yang kau mulai untuk menutupi sebuah kesalahan, adalah cikal bakal kau menggunakan kebohongan lain demi menutupi si bibit kesalahan itu.


__ADS_2