
Hari berganti, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 08.00.
Nandin memutuskan untuk pergi ke administrasi rumah sakit. Baru ia melangkahkan kaki mendekati meja tujuannya, suara panggilan membuatnya berbalik arih.
"Din , bisa bicara sebentar?"Sapa dokter Riko.
"Oh iya baik Dok, " Jawab Nandin.
Nandin mengekor mengikuti langkah Dokter Riko. Sampai akhirnya mereka duduk kursi taman rumah sakit itu.
"Din, aku minta maaf atas kejadian semalam dengan ibuku, kamu mungkin jadi merasa canggung," ucap Dokter Riko begitu membuka pembicaraan.
"Tidak apa apa Dok." jawab Nandin singkat.
"Din sebenar nya saya bilang ke ibu saya, bahwa kamu calon istri saya " Lanjut Dokter berparas tampan itu.
Nandin belum bisa mencerna kata-kata lelaki didepannya itu, sekaligus Dokter yang menangani adiknya.
Nandin diam agak lama, karena takut salah akan pendengarannya.
"Apa Dok,maaf?" jawab Nandin, setelah memastikan ia memang tak salah mendengar.
"Maafkan saya menempatkan mu di posisi ini Din, saya tidak menyangka ibu saya akan datang kesini,"
Nandin menyimak dengan serius, dan menunggu kelanjutan ucapan Dokter Riko.
"saya bilang ke ibu saya bahwa saya sudah memiliki kekasih. Dan itu kamu Din, ibu saya sudah berumur dan dia selalu bertanya kapan saya menikah ,saya bingung menjawab apa. Pada suatu malam saya menjawab bahwa saya sudah memiliki kekasih ,Maaf kan saya Din"ucap dokter Riko.
"Aku benar kaget mendengar ini, apa yang harus ku jawab sedangkan ibu dokter Riko menganggap ku benar benar kekasih nya," Lirih Nandin dalam hati.
"Din, aku mohon bantu aku sekali ini saja. Sebagai ganti nya kita akan menulis kontrak?" Tawar Dokter Riko!
Nandin mencerna satu persatu kata-kata yang diucapkan oleh Dokter Riko.
"kita akan berpacaran dan saya akan melunasi biyaya rumah sakit Tama,gimana?" Dokter Riko kembali meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
"Apa aku harus berbohong kepada ibu Dokter?" tanya Nandin.
"Biar aku yang tanggung konsekuensi nya, aku mohon bantu aku," pinta Dokter Riko.
Nandin menghadapi keadaan yang sangat membingungkan, ditambah dia sudah tidak bekerja. Tidak ada pemasukan sama sekali, bahkan tabungannya pun sudah dipakai untuk pembayaran pertama rumah sakit kemarin.
"Tidak mungkin aku harus meminjam uang pada Zain sedangkan dia akan segera menikah, mau di cap apa aku jika sampai melakukan itu astaga" Nandin kembali berbicara dalam hatinya, mengingat satu-satunya yang ia kenal hanya Zain.
"Tapi darimana aku akan melunasi biyaya perawatan Tama 20 juta ini," batinnya.
"Dok saya benar benar bingung,saya sebelum nya tidak pernah terpikirkan hal seperti ini" Nandin membuka suaranya.
"Ok Din jangan di pikirkan santai saja saya akan memberi mu waktu,"Jawab Dokter Riko.
Nandin kemudian izin untuk masuk kedalam rumah sakit, untuk memikirkan hal itu. Dokter Riko hanya menatap pasti, melihat punggung gadis yang meninggalkannya.
Nandin menuju kamar mandi di rumah sakit itu. Ia hanya berdiri di depan cermin besar didalam toilet itu."Astaga umur ku dan dokter Riko terpaut 6 tahun dia ber umur 27 tahun dan aku 21 ,bukan masalah umur yang aku pikirkan, tapi kenapa aku,tidak bisakah seorang dokter tampan, karier bagus masa tidak punya pacar,dan sekarang aku dilibatkan untuk berbohong,ah aku benar benar bingung karna aku juga membutuhkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit Tama." Dia berbicara sendiri, sebari memandang wajahnya yang cantik, namun banyak tanggung jawab disana.
Setelah semua ia putuskan. Nandin pun pergi ke ruangan Dokter Riko. Tanpa mengetuk Nandin menyelonong memasuki ruangan Dokter itu.
"maaf dok, saya tadi sudah mengetok Saya kira dokter tidak dengar,tapi saya sudah tanya suster dokter ada di dalam" Nandin mencari alasan, padahal ia main masuk saja.
"Tidak apa apa Din,duduk lah"sebari dokter Riko langsung berbalik dan membenahi pakaian nya.
Nandin merasa tidak enak karena tadi nyelonong masuk aja.
"Ada apa Din?,"
"Saya,, emmm "Seketika lidah gadis itu kelu.
"Kenapa? tidak usah sungkan Din,"balas dokter Riko.
"Saya mau menerima tawaran Dokter, tentang pura pura jadi pacar, dan dokter membayar biaya rumah sakit Tama" Nandin butuh waktu, menyampaikan semua yang dia ucapkan. Karena berbicara terbata.
"Benarkah? Din aku tidak akan bicara apa kamu serius atau tidak apalagi menolak, aku sungguh bersyukur ,aku benar benar tidak mau mengecewakan Mama," jawab dokter Riko.
__ADS_1
Dokter Riko mengeluarkan kertas putih dan materai, dia menyuruh Nandin membaca nya. Jika ada yang tidak sesuai Nandin boleh menggantinya, menghapus ataupun menambahkan.
Tapi Dokter Riko tahu betul, gadis itu adalah perempuan kuat. Yang akan melakukan apapun demi adiknya.
Nandin hanya menambah kan untuk meminta waktu pribadi, diluar itu ia menyetujuinya.
Dokter Riko hanya memberi syarat, bahwa Nandin hanya perlu hadir dan ikut kesemua pertemuan keluarganya.
Saat Nandin menandatangani nya, ia sudah sadar ini memiliki resiko besar, sungguh dalam hati terdalam dia sangat gelisah. Karena harus berbohong atas hal ini. Nandin takut membuat orang lain kecewa.
Nandin menggigit bibir bawahnya,
"Dok, sungguh aku tidak berniat menipu siapapun. Apalagi Mama Dokter. Saya benar-benar bingung dan berat mengambil keputusan ini." Ucap Nandin.
"Saya tahu, saya yang membuat semuanya jadi begini. Saya tahu hati kamu Din," Dokter Riko merasa tidak enak, membuat gadis itu mengambil keputusan berat.
"Terimakasih Dok, sampai kapanpun saya akan mengingat kebaikan Dokter." Nandin mengucap terimakasih, atas bantuan itu.
"Din, saya mohon! Jangan jadikan ini beban. Saya ingin terlihat natural di depan keluarga saya. Ditambah mungkin kamu sudah mengenal seseorang dikeluarga saya." Jelas Dokter Riko!
Nandin menyipitkan matanya, ia merasa tidak pernah mengenal orang lain. Bahkan ibunya Dokter Riko pun, baru ia temui semalam.
Pikiran itu menyergap Nandin, barangkali ia melupakan sesuatu. Mengingat Tama sering bilang bagwa aku banyak melupakan hal-hal penting.
"Oh begitu. Maaf Dok, tapi saya mungkin lupa siapa yang saya kenal. Saya mudah lupa soalnya." jawab Nandin,
Dokter Riko tahu, Nandin adalah pasiennya. Dan dia tidak boleh dipaksa mengingat sesuatu yang berat. Itu akan memperburuk sakit kepalanya.
"Tidak apa-apa. Jangan diingat lagi ya, saya mohon. Kita jalani apa adanya saja!
Nandin mengangguk pelan, setuju dengan ucapan Dokter Riko yang tidak terlalu banyak menekan.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN YA GUYS. UNTUK MENDUKUNG AUTHOR MENGHIDUPKAN CERITA INI.
AKU MENCINTAI KALIAN
__ADS_1
ANDINI_818