LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
ADITYA MEMBELA CALON ISTRINYA!


__ADS_3

 Dengan tatapan tajam menggebu-gebu, membuat ibu-ibu itu gentar.


 ''Sudah bu, kita dengar dulu alasan mereka.'' ujar bapak-bapak yang berpropesi sebagai ketua RT.


 Tama mengira ibu-ibu itu akan diam, tapi ia salah. Mulut bisanya tambah menjadi. ''Tuhkan lihat pak RT, beginilah jika anak-anak remaja di didik oleh kakaknya yang tidak becus. Maklum sih gak ada orangtua.'' lanjut ibu-ibu itu.


Aditya sudah tidak sanggup menahan emosinya yang meluap-luap. Kekasihnya sudah terlihat sangat terintimidasi akibat mulut tetangganya yang beracun itu.


 Tama benar-benar marah. Nandin benar- benar tidak berbicara dan airmatanya semakin membanjiri pipinya. ''Apa tidak ada orangtua adalah dosa? apa di didik oleh seorang kakak adalah kesalahan? bagaimana bisa anda berbicara sekasar itu, mengingat anda sudah setua ini.'' terang Aditya! menaikan sebelah alisnya.


 Ibu itu diam tidak berkutik. ''Kenapa diam? apa ucapan seorang anak SMA tidak menapar anda? disini saya berpikir Nandin lebih baik dalam mendidik ucapan adiknya, saya takut sekali anak anda tidak mendapat didikan bagus dan merusak masa depan.'' tukas Aditya,


 Ibu itu tampak sedikit gentar, ''Siapa kamu, berani sekali bilang tentang masa depan anaku?''


 ''Saya, amda mau tahu siapa saya?''


 Nandin memegangi tangan Aditya, berusaha menahan kekasihnya itu yang sudah tersulut emosi.


 Aditya sudah tidak mau menahan sabar, melihat kekasihnya menumpahkan banyak airmata padahal tidak bersalah apa-apa. Ini hanya kesalahpahaman, ''Saya, Aditya Sakseno, anak dari pak Sakseno. Pemilik lahan dari selatan ke utara di wilayah ini, saya juga yang membiayayai semua industri diwilayah ini.'' Aditya menjelaskan dengan nada sombong.


 Awalnya paj RT dan ibu-ibu itu gentar sekali, tetapi melihat Aditya hanya memakai piama membuat ibu-ibu itu berpikir Aditya berbohong. ''Kalau mau berkhayaal dan berbohong silahkan, tapi tidak disini.'' gertak ibu itu dengan nada tinggi.

__ADS_1


 Suara mobil berhenti didepan rumah Nandin, mencuri perhatian semua orang, seorang wanita paruh baya ajuga lelaki paruh baya melangkahkan kaki, memasuki perkarangan rumah Nandin,''Pak Sakseno?'' ucap pak RT.


 ''Ada apa ini?'' tanya pak Sakseno, begitu melihat Nandin yang masih berderai air mata.


 ''Ini pak, ada sedikit kesalahj pahaman,'' jelas pak RT.


 ''Dit, kamu kemana semalam. Mama mu sampai nangis-nangis karena Handphone mu tidak aktip?'' Ujar pak Sakseno, pada anak semata wayangnya itu.


 ''Adit semalam kehujanan Pa, dan akhirnya menginap disini. Tidur sama Tama,'' jawab Aditya.


 ''Mama khawatir sekali Dit,'' timpal Keira, mengkhawatirkan anaknya itu. Mengingat Aditya yang sakit-sakitan membuatnya berpikir tidak-tidak.


 ''Jadi ini anak pak Sakseno?'' pak RT bertanya memastikan.


 Jawabannya itu membuat Nandin mengangkat wajahnya yang sedang menangis, juga sekaligus membuat ibu-ibu yang telah menyudutkannya diam tidak berkutik.


 Aditya tersenyum simpul, mendengar ucapan ayahnya yang menyebut Nandin sebagai calon menantu itu.


 ''Oh begitu pak, maafkan saya, tadi saya mendapat laporan dan langsung kemari. Jadi Nandin calon menantu bapak?'' ucap pak Rt.


 ''Iya, jadi tidak usah berpikir macam-macam. Mereka akan segera menikah, saya juga tahu anak saya tidak akan macam-macam. Saya mendidiknya dengan baik, dan calon istrinya juga adalah wanita hebat yang menjaga martabatnya.'' jelas pak Sakseno, seperti mengerti apa yang telah terjadi, padahal dia baru datang. Dan mendengar sedikit prnjelas pak RT.

__ADS_1


 Ibu-ibu itupun meminta maaf, tapi dengan nada yang tidak iklas. Tapi Nandin entah terlalu baik atau terlalu polos ia hanya langsung memaafkan ibu-ibu itu.


 Pak RT pun meninggalkan rumah Nandin di ikuti ibu-ibu itu. Setelah menyelesaikan kesalahpahaman itu.


 Nandin mempersilahkan orangtua Aditya masuk kedalam rumahnya. Nandin berusaha menghapus airmatanya, walau hidungnya yang memerah juga matanya yang sembab tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


 Pak Sakseno dan nyonya Keira duduk di kursi Nandin yang sederhana namun bersih, ''Laki-laki macam apa menginap di rumah perempuan sebelum halal?'' ceplos pak Sakseno, begitu duduk. Membuat Nandin dan Aditya terduduk dan hanya diam.


 Sedangkan Tama pergi ke dapur untuk mengambil minum.


 ''Adit semalam kehujanan Pah. Hujannya lebat dan Nandin khawatir.'' Jawab Aditya.


 ''Ya sudah kalau kalian terus begini, cepatlah menikah, agar tidak pusing papah melihatnya,''


 Ucapan pak Sakseno membuat Aditya dan Nandin lagi-lagi terkejut. ''Pah, papa serius?'' tanya Aditya.


 ''Jadi kamu berharap Papa main-main?.'' pak Sakseno berucap dengan tetap mempertahankan wibawanya.


 


TENANG GUYS IKUTI TERUS KISAH INI, JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA. JUGA VOTE JIKA BERKENAN. DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERHARGA BAGI AUTHOR.

__ADS_1


I LOVE YOU GUYS ... ANDINI_818


 JANGAN LUPA MASIH ADA LOH GIVE AWAY NYA CUS INFO LENGKAP DI INSTAGRAMKU DAN DAPATKAN BANYAK HADIAHNYA. ANDINI_818


__ADS_2