
Suara seruan mobil didepan rumah, membuat Tama beranjak dan segera berlari kedepan. Benar saja, ya g datang adalah kakaknya!
"Kak," ucap Tama sebari menghambur ke pelukan Nandin.
Nandin tersenyum dan mengelus kepala Tama.
Yuni dan Rani tampak bergegas keluar juga membantu Bu Sari mengeluarkan barang dari mobil. "Non mau makan dulu?" tanya Bu Sari.
Nandin menggeleng,"Aku mau langsung istirahat dulu Bu," jawab Nandin.
Bu Sari mengangguk paham.
"Dek, kakak ke atas dulu ya, baru nanti kita kangen-kangenan," ucap Nandin.
Mengerti kakaknya yang harus istirahat, Tama pun mengiyakan, dan Nandin langsung menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Langkahnya tertahan pada pintu yang berada tepat di samping kamarnya. Ia mendorong pintu itu dan melangkahkan kakinya kedalam sana! Tidak ada apapun didalam sana, Nandin menyalakan saklar lampu dan kamar yang kosong itu terlihat luas, kini ia berada di tengah ruangan itu, kakinya lemas dan ia rubuh, tangisnya menggema di seluruh ruangan, posisi kamar yang terbuka membuat suaranya terdengar sampai kelantai satu, Tama berlari begitu mendengar tangisan Nandin diikuti oleh Bu Sari.
Tama mengira kakaknya jatuh atau sakit, ia menemukan kakaknya menangis diruangan kosong itu dan memeluk kakinya. Bu Sari juga menahan langkah kakinya, mereka membiarkan gadis itu menangis, sampai akhirnya suaranya mereda.
"Bu," panggil Nandin pada Bu Sari yang sedari tadi memperhatikan nyonya mudanya itu.
"Iya Non," jawab Bu Sari, mendekat ke arah gadis itu dan membungkukkan tubuhnya.
"Tolong berikan selimut dan bantal, aku mau tidur disini."
Bu Sari membelalakan matanya, mendengar Nandin mengatakan itu. "Tapi Non, non kan baru pulang dari Rumah Sakit," ucap Bu Sari.
"Aku mau tidur disini," ulang Nandin, tidak ada yang bisa menahan gadis itu.
Bu Sari segera memanggil Yuni dan Rani untuk memberikan yang Nandin minta.
***
***
Suara bel didepan rumah membuat Bu Sari terperanjat. Ia berjalan melihat siapa yang datang.
"Hallo bi Sari," seorang gadis menyapa Bu Sari, terdengar akrab sekali.
"Non Lisa!" Bu Sari kaget membelalakan matanya.
"Iya bibi masih ingat, Lisa pacar Aditya," terangnya.
Bu Sari terlihat kaget dan melihat sekeliling nya, "Maaf Non, den Aditya tidak ada," Bu Sari menarik tangan Lisa menjauh dari pintu.
__ADS_1
"Kemana bi?" tanyanya.
"Den Adit sedang pergi ada kerjaan ke luar negeri, mohon maaf Non sebelumnya, den Adit sudah berkeluarga! Bibi takut ada kesalahan jika Non kesini tanpa izin," ucap Bu Sari.
"Berkeluarga? Aditya?" suara Lisa meninggi.
Bu Sari mengangguk, " Apa Non tidak tahu tentang pernikahan den Aditya?" tanya Bu Sari.
"Den Adit sedang berduka karena istrinya keguguran," lanjut Bu Sari.
Lisa menggeleng pelan, tidak ada balasan suara apapun. Ia beranjak melangkahkan kakinya dan pergi dari rumah Aditya.
Bu Sari menatap punggung gadis itu, lalu ia kembali kedalam rumah.
"Siapa Bu?" tanya Nandin yang turun dari lantai dua.
Bu Sari tampak terbata-bata "itu Non, teman den Adit," ucap Bu Sari.
Nandin tidak bertanya lagi karena panggilan perutnya cukup intens. "Bu aku lapar." ucap Nandin.
"Baik Non bibi siapin dulu ya," Bu Sari segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
***
***
Baru saja ia mengangkat tubuhnya dan akan berjalan ke kamar mandi, suara deringan ponsel itu membuatnya cepat berbalik dan meraih benda persegi panjang itu.
Namun bukan nama istrinya yang tertera disana, melainkan nomor baru! Namun dengan setengah tidak bersemangat Aditya tetap mengangkat telpon itu. "Hallo, dengan siapa?" ucap Aditya.
"Dit," suara lembut terdengar dari balik ponsel itu.
Aditya mematung, tatapan matanya tertuju pada bayangan dirinya di kaca hotel, disela lampu-lampu gedung kota.
"*Lisa?" jawab Aditya.
"Iya ini aku," jawabnya.
"Darimana kamu punya nomor ku?"
"Aku mencari kesemua teman kita!"
"Jangan hubungi aku lagi Lisa"
"Kenapa? karena kamu sudah menikah?" jelas Lisa.
__ADS_1
"Darimana kamu tahu?" tanya Aditya sedikit kaget*.
Aditya berpikir teman-teman nya lah yang memberi tahu Lisa tentang pernikahannya.
"*Apa temanku bilang padamu?" tanya Aditya kembali.
"Tidak, aku pergi kerumah mu*!"
"*Apa? ke rumahku?" Aditya terdengar marah.
"Iya, kenapa? apa kamu tidak ingin aku mendengarnya, apa kamu ingin menyembunyikan nya, istrimu habis keguguran bukan?"
"Jangan berani-berani menyentuhnya, ingat Lisa kita sudah tidak ada hubungan."
"Kamu yang meninggalkan aku Dit, bagaimana bisa kita tidak ada hubungan, saat kamu hanya meninggalkan ku tanpa ucapan dan kabar. Apa Sekarang aku terlihat seperti wanita simpanan mu? bukankah seharusnya dia yang menjadi penghalang kita?"
"Hati-hati kamu kalau bicara ya, dia wanita baik-baik."
"Apa aku tidak terlihat wanita baik-baik? bukankah kamu yang merusak ku Dit."
"Apa maksudmu, kita sudah sepakat untuk mengubur luka lama itu"
"Kenapa kamu terlihat marah? apa kamu mencintainya*?"
Aditya terdiam sejenak, pikirannya tampak kacau. Ia mematikan telponnya dan membantingnya keatas ranjang sampai terpental. Lalu menendang ranjang di depannya, ia menjambak rambutnya.
Tanpa pikir panjang, dalam kondisi seperti ini, ia rasa harus pulang ke Indonesia, padahal dia baru satu hari tiba di Macau, seharusnya ia melakukan perjalanan bisnis selama satu Minggu.
19 jam perjalanan yang membuat ototnya kaku, tidak meruntuhkan niatnya untuk segera pulang ke Indonesia, sehingga dia menelepon sekretaris nya untuk memesan tiket kepulangannya segera malam ini.
Ia tidak memikirkan pekerjaannya lagi, selain memikirkan hubungan rumah tangga nya.
***
***
Nandin tampak tidur di ruangan kosong, yang ia rencanakan untuk kamar almarhum anaknya, matanya menatap ke langit-langit kamar itu. "Nak, apa kamu melihat mama disini? mama tidak akan menangis malam ini, karena mama akan tidur dikamar yang seharusnya untukmu!" lirih Nandin, dan matanya terpejam.
***
Di Rumah sakit, Dokter Riko terus memikirkan tentang keputusannya, ia mengambil keputusan besar, tapi semakin ia pikirkan semakin jelas bahwa alasannya disini adalah karena perasaannya terhadap Nandin yang tidak lain adalah istri sepupunya sekarang, perasaannya pada gadis yang pernah menjadi pacarnya itu belum sirna dan semakin menjadi.
MALAM INI dilewati dengan malam yang sunyi karena larut pada pikiran mereka masing-masing.
HAI KAKAK-KAKAK SAYANG UNTUK MEMBANTU AUTHOR SEMANGAT UP, AKU MINTA DUKUNGAN LIKE DAN KOMENNYA YA, BIAR AKU UP TERUS πππππSEMANGAT YA KAKAK-KAKAK SAYANG!
__ADS_1
SHARANGHE πππππππ