
Aditya mengeluarkan bekas makan dan minum obat Nandin. Lalu ke toilet untuk mencuci wajah nya. Karena panggilan alam di perutnya ia memutuskan pergi ke kantin untuk mengisi amunisi. Setelah makan Aditya mampir ke bagian apotik untuk membeli obatnya karena dia lupa membawa obat tadi subuh karena terburu buru dan meminumnya lalu berniat kembali ke ruangan Nandin.
Aditya masuk ke ruangan rawat Nandin dan mendapati gadis itu sedang tertidur pulas. mungkin karena efek obat yang diminumnya.
Aditya menaruh keresek obatnya di atas meja di depan sofa lalu ia berjalan dan menarik kursi samping ranjang gadis itu tertidur. Sebenarnya bisa saja Aditya merebahkan diri di atas sofa tetapi ia memilih untuk berada dekat dengan posisi Nandin.
Aditya tertidur dengan posisi memegangi tangan gadis itu. posisi yang sama yang dia lakukan pagi tadi.
***
Tama menyelesaikan mandi nya dan segera memasukan semua keperluan yang diminta kakak nya tidak terkecuali celana dalam beruang milik kakak nya. Tama mengganti baju dan menulis surat izin untuk menemani kakak nya di rumah sakit dan tidak bisa masuk sekolah untuk hari ini dan besok.
Setelah menyelesaikan surat yang ditulisnya Tama bergegas menuju sekolah untuk memberikan surat itu langsung kepada wali kelas nya. Dikarenakan sudah tidak ada teman teman nya yang masih di rumah karena jam sudah menunjukan pukul 10.00 siang.
Tama memasuki area sekolahnya dengan memakai pakaian bebas. Tubuh tinggi dan rahangnya yang indah mampu memikat siapapun gadis seusianya. Jam 10 adalah jam istirahat pertama sekolah Tama.
Setelah memasuki gerbang Tama melewati lapangan basket untuk menuju kelas nya menemui wali kelasnya. Riuh ramai di sekolah berlantai 2 itu membuat Tama menjadi pusat perhatian saat berada di tengah lapangan bukan karena wajah nya yang menarik perhatian tetapi pakaian yang dikenakan nya berbeda dari siswa lain sehingga semua orang melihat nya. Suara pelan bisik-bisik para siswi mulai terdengar bahkan dilantai 2 pun yang melihat Tama langsung berbisik membicarakan kharisma nya. Tama berjalan tanpa senyum hanya fokus pada langkah nya dan memasuki ruangan kelas nya.
"Assalamualaikum." Tama mengucap salam ketika memasuki ruangan kelasnya dan mendapati seorang guru patuh baya yang sedang duduk di meja depan.
Perempuan berusia sekitar 45 tahunan itu menengok ke arah sumber suara dan menjawab. "Walaikumsalam. Eh Tama."
Tama mendekati guru nya itu dan menyalaminya. "Bu Shinta maaf saya tadi pagi tidak sempat izin dikarenakan kakak saya masuk Rumah Sakit dan saya harus menjaganya. Jadi saya mengantarkan surat izin sekaligus memberitahu ibu langsung."
Mendengar penjelasan dari murid didik nya Bu Sinta merasa iba, karena dia tahu bahwa Tama hanya hidup dengan kakak nya. "Baiklah kalo begitu, Semoga kakak mu cepat sembuh ya Tam. Jika ada apa apa kamu jangan sungkan menghubungi saya ya."
"Baik bu terimakasih Bu, kalo begitu saya izin pamit bu."
"Baik Tam. Hati hati dijalan ya."
__ADS_1
Tama mengangguk dan meninggalkan ruangan kelasnya berjalan kembali melewati lapangan di depan gedung sekolah nya. Dan lagi lagi tatapan para siswi-siswi itu masih terpaku pada Tama. Tama mempunyai sikap dingin tetapi tidak pada orang yang dekat dengan nya Kakak nya misalnya.
Tama kembali menaiki ojek online untuk pergi ke Rumah Sakit tempat kakak nya dirawat.
Sesampainya di Rumah Sakit baru memasuki area lobby Handphone Tama berdering dan ia langsung merogoh kantong celana nya dan mengeluarkan benda yang berbunyi itu. "Hallo Mas?."
Suara balasan langsung terdengar. "Hallo dek, dek biasanya kak Nandin menghubungi Mas kalo pagi tapi hari ini dia tidak menghubungi padahal sudah jam 11.000. Apa kak Nandin sibuk?."
"Kak Nandin setiap hari menghubungi Mas tapi mas gak pernah bales atau ngangkat telpon dia kan?." Tama berbicara ketus disetiap kata yang dilontarkan nya di telpon.
Suara di sebrang telpon tidak terdengar beberapa saat. Sampai akhirnya terdengar lagi. "Maaf dek. Kakak tidak bermaksud seperti.."
Ucapan Riko dibalik telpon dipotong oleh Tama. "Kakak di Rumah Sakit dia di rawat dari pagi subuh dan baru siuman pukul 08.00 lebih kepalanya masih pusing jadi gak bisa lihat handphone." Tama menjawab dengan lancar tanpa jeda setelah memotong ucapan Dokter Riko.
"Kakak kenapa dek?."
"Sekarang gimana keadaan kakak dek?." Suara panik dibalik telpon itupun mulai mencuat panik.
"Kakak udah siuman. Aku baru pulang ambil keperluan sekarang baru sampai Rumah Sakit lagi."
"Kakak ditunggu siapa kalo kamu pulang? gimana kalo dia perlu sesuatu?."
"Ada kak Aditya yang jagain dia dari subuh tadi. Lagian pacar nya entah kemana." Tama lagi lagi menjawab dengan menekan kan kata kata tajam. Tajam bagi Riko.
"Aditya?."
"Iya. Sudah dulu yah kak aku mau gantian sama kak Aditya. Assalamualaikum." Tama menutup telpon dan mencengkeram kan tangan nya pada benda itu.
Riko sangat merasa bersalah. Rasa egois nya ternyata kalah juga dengan rasa khawatir nya ditambah rasa cemburu nya yang menggelitik. Riko mengambil penerbangan untuk pulang ke Indonesia bersama Ibu nya. Keputusan ini dia buat karena mempercayai hatinya bahwa cinta harus diperjuangkan.
__ADS_1
Australia bagi Riko adalah negara dimana pikiran nya bisa nyaman. Tetapi setelah seorang gadis mencuri hatinya, giliran gundah hatinya yang tidak tenang. Dia mencintai gadis itu sama seperti dia mencintai Indonesia tempat kelahiran nya.
kafe kopi di ujung bandara menjadi sasaran Riko istirahat bersama ibunya sebelum keberangkatan nya ke Indonesia. kafe yang mungkin hanya di duduki beberapa kalangan elit jika sedang menunggu penerbangan atau transit.
"Hai Riko?." Seorang gadis menghampiri Dokter Riko dan ibunya yang sedang duduk di kursi kafe itu.
"Hai Seila. How are you?." Jawab Dokter Riko membuka kedua tangan nya lalu perempuan itu menghambur ke pelukan nya.
Tatapan wajah ibunya cukup sinis dan memberikan sikap tidak suka penuh intimidasi. "Riko kurang-kurangin itu bukan budaya kita." celetuk ibu Dokter Riko.
"Hem Mama. Kenalin ini Seila temen Riko pas kuliah disini."
Perempuan itu menyodorkan tangan dan diterima oleh ibu Dokter Riko. "Hai tante, aku Seila."
"Mama Riko." Jawab ibu Dokter Riko.
"Kamu mau kemana Seil?." Lanjut Riko
"Pulang ke Indonesia Rik. Udah kangen negri tercinta." Jawab Seila.
"Wah kebetulan kami juga." Jawab Dokter Riko.
Akhirnya mereka mengobrol dan menunggu penerbangan bersama dikarenakan ternyata pesawat yang mereka tumpangi sama. Mereka mengobrol begitu asiknya karena sudah lama sekali tidak bertemu setelah kelulusan mereka. Diketahui Riko dan Seila menempuh pendidikan kedokteran yang sama di salah satu universitas di negri Kangguru ini. dan Seila juga berprofesi sebagai Dokter dan memutuskan menjalani pekerjaan nya di Australia sedangkan Riko di Indonesia. dan ini adalah tahun ke 5 setelah mereka lulus dan baru bertemu kembali.
***Jangan lupa like dan komen yah guys. Untuk membantu author berkarya. Terimakasih semua atas apresiasinya.
bisa kunjungi Instagram Author ya di ANDINI_818
ILOVEYOU*** :*
__ADS_1