
Kini hanya ada mereka berdua di meja makan, Aditya menatap istrinya lekat-lekat.
Lalu ia meraih tas coklat yang dibawanya.
"Sayang ini kartu kredit, dan ini debit. Kamu bisa pakai untuk keperluan mu, atau belanja apapun untuk rumah. Dan setiap tanggal satu, semua pegawai dirumah ini gajian ya. Kamu bisa tanya Bu Sari untuk nominalnya, sebelumnya aku selaku menyuruh dia untuk melakukan kepentingan rumah. Tapi sekarang aku kan sudah punya istri, jadi aku serahkan tanggung jawab ini padamu." Ucap Aditya.
Nandin tahu setelah menikah dengan Aditya kehidupannya akan berubah, dalam keseharian, tempat tinggal, juga finansial.
"Sayang, aku harap kamu masih memperlakukan ku sama seperti dulu. Aku menikahimu bukan karena ingin semua kemewahan ini." Lirih Nandin.
Aditya menggenggam tangan istrinya."Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, lelaki memberi karena mencintai." Sorot mata Aditya membuat Nandin mempercayai kata-katanya.
Nandin pun menyunggingkan senyumnya. Cerita rumah tangga dua insan itu kini dimulai. Pernikahan yang didasari cinta.
Bukan cinta di atas kertas. Jawaban dari semua penantian dan perjuangan Aditya.
***
***
Dokter Riko membenahi kamarnya, pandangannya lebih lama di depan foto gadis yang meluluh lantahkan hatinya. Tetesan bulir air mata terlihat dari sudut kedua matanya.
Dengan pasti tangannya menurunkan foto berukuran besar itu. Membawanya ke luar dari kamar.
"Rik mau kemana?" Tanya ibunya, melihat putranya membawa foto yang sudah enam tahun terpajang dikamarnya.
"Aku mau memindahkan foto ini Mah," jawab Dokter Riko pasti!
"Kamu mau bakar foto itu?"
__ADS_1
"Aku memindahkannya, bukan berarti menghilangkannya. Setidaknya sampai hatiku berubah rasa!" Dokter Riko kembali melanjutkan langkahnya, menuju gudang belakang rumahnya.
Ibunya hanya tertegun melihat tingkah putranya.
Dokter Riko meletakan foto Nandin dengan baik di dalam gudangnya itu. Dan segera kembali.
"Rik, kemari ayah mau bicara." panggil ayahnya begitu Dokter Riko kembali.
Sebenarnya dari raut wajahnya sudah terlihat, bahwa Dokter Riko sedang enggan berbicara. Tapi karena itu ayahnya, akhirnya ia duduk juga.
"Rik, ayah mau langsung ke intinya saja. Kemana istrimu, setelah akad kamu sakit, ia tidak pernah terlihat. Bukankah meskipun kalian tidak saling suka, ia harus berusaha seperti sebelum-sebelumnya?"
Dokter Riko mengepalkan tangannya. Mengingat kejadian kemarin yang sungguh diluar nalarnya. Bayangannya pergi jauh, diikuti warna merah di seluruh wajahnya karena menahan emosi.
*Bayangannya mengingat kejadian kemarin. Dokter Riko memutuskan untuk mengunjungi Seila. Pintu Seila tidak terkunci, Riko pun memasuki apartemen itu, karena merasa berhak atas Seila yang sudah menjadi istrinya.
Dokter Riko tidak menemukan Seila di ruangan tamunya. Namun suara percakapan terdengar dari dalam kamar.
Batin Dokter Riko sudah bergejolak.
"Dan kebetulan orangtuaku menyukai si Riko. Tapi ayahku tetap tak mau hadir di acara pernikahan kami." lanjut Seila.
"Jadi ini bukan anak Riko?" tanya temannya.
"Gila, bukanlah. kejadiannya kan baru berapa hari masa udah jadi. Gue bahkan gak pernah disentuh Riko." jawab Seila.
Emosi Dokter Riko sudah menjadi, suara dobrakan terdengar. Membuat Seila bangkit dari duduknya, juga tatapan temannya yang kaget.
"Rik, kok kamu disini?" tanya semula terbata-bata.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa lu lakuin ini sama gue. Dasar lu wanita An**Ng. Lu tau apa yang udah gue korbanin, Nandin dia berharga banget buat gue." Tatapan Dokter Riko begitu tajam, dan mampu membunuh siapapun yang menatapnya.
"Rik, gue bisa jelasin." jawab Seila.
"Apa? Nandin udah nikah sama Aditya. Apa yang bisa gue perjuangin?"
"Bukan tentang Nandin, gue mau jelasin tentang gue."
"Gue udah ngerti, lu jadiin gue kambing hitam. Lu selain bodoh atas kesalahan lu. Lu juga ternyata bodoh." cecar Riko.
Seila tidak percaya Riko mengucapkan kata-kata begitu kasar. Kini gadis itu benar-benar tersungkur menangis.
"Rin, maaf. gue gak ngerti harus gimana, pacar gue gak mau tanggung jawab. Makannya gue pulang ke indo, dan gue ketemu Lo di bandara. Gue kira Lo masih suka sama gue, makannya gue gak fikir panjang." jelas Seila.
"Inget yah Seil. Orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, begitupun perasaan."
Dokter Riko melangkahkan kakinya. Tapi tangan Seila meraihnya. "Berarti perasaan Lo buat Nandin juga bisa berubahkan,seiring berjalannya waktu?"
Riko membalik badannya, tatap lekat wajah seila. "Itu kata kerja yang berbeda, itu sifat. Dan gak bisa dengan mudah berubah walau lu berusaha." Riko melepas pegangan tangan Seila, dengan sedikit membantingnya.
"Tik, gue mohon. Jangan tinggalin gue." Seila berteriak dengan sedikit berlari. Mengimbangi langkah Riko yang keluar dari kamarnya.
"Jangan ikutin gue, jangan ganggu hidup gue lagi. Kalau enggak, gue bakal tuntut Lo sebagai penipu." ancam Riko*.
Bayangannya tersadar. Dan ternyata ucapan demi ucapan keluar dari mulutnya. Membuat orangtuanya begitu shock, mendengar pernyataan putranya.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dia menikahi orang yang tidak dicintainya. Dan sekarang gadisnya menikah dengan orang lain.
Dokter Riko bangkit dari duduknya. Dan melangkahkan kaki menuju kamarnya. Orangtuanya yang tahu posisi putranya itu, memutuskan tidak bertanya lagi.
__ADS_1
Dokter Riko membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya yang memanas. Berusaha menahan air yang ingin menyeruak dari balik matanya. Akhirnya ia membenamkan wajahnya ke balik bantal. Ada pilu di balik sana.
Hatinya lebih perih dari sebelumnya.