
Seharian Nandin berada di rumah sakit,penantiannya berujung bahagia, tama bangun adik kesayangan itu siuman , air mata gadis itu menetes .
"Dek,kamu bangun sayang.'' Nandin sempat berucap begitu dan langsung memanggil Dokter.
Dokter pun langsung masuk dengan di ikuti satu suster dibelakang nya, Nandin hanya berdiri tertegun di ujung ranjang Tama, ia terharu terharu ,sedih,bahagia,entahlah .
"Nandin , adik kamu sudah melewati masa kritis nya kemungkinan nanti sore bisa dipindahkan ke ruang rawat inap sudah bisa keluar dari ICU , " Ucap Dokter itu.
"Terimakasih Dok. Sepertinya saya familiar sekali dengan Dokter seperti pernah bertemu, Dokter juga tau nama saya?'' tanya Nandin penasaran.
"Saya Riko , dulu saya juga pernah merawat kamu sebagai pasien saya,tahun 2015 dan kamu rutin chek up pasien saya sampai 2016 selama satu tahun,ingat?.'' Dokter bernama Riko itu memperkenalkan diri.
Nandin berusaha mengingat, memikirkan ingatannya dulu kala.
"Oalah,iya iya dok saya ingat,soalnya sudah lama ya.'' Jawab Nandin antusias!
Dokter itupun tersenyum, tersirat sebuah kebahagiaan ketika Nandin ternyata masih mengingatnya sebagai Dokternya.
Setelah sore dan Tama sudah dipindahkan ke ruangan rawat jalan, Nandin sudah bisa mengobrol sedikit dengan Tama, Tapi aku tidak banyak bertanya kata Dokter kemungkinan Tama masih shock.
Nandin menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping ranjang Tama."Dek,are you okay?'' sapa Nandin sebari memegang tangan Tama.
"Iya kak,maafin aku ya kak merepotkan kakak, pasti rumah sakit mahal kan kak? ucap Tama.
" Dek,jangan mikirin yang lain kamu sembuh ajah dulu,'' Nandin kembali memandang wajah adiknya itu, yang bahkan masih memikirkan biaya rumah sakit, padahal dia masih terlentang di ranjang.
''Astaga Tama apakah dia memikirkan ini sedari tadi siuman.'' Lirih Nandin dalam hati, Nandin menangis apalagi kalo Tama tahu ia keluar dari kerjaan,
Seharian yang Nandin lakukan hanya di rumah sakit, ia mengurusi semua keperluan Tama, dari mulai makan dan membasuh badan nya menggunakan lap basah.
Tidak lama kemudian seseorang masuk ,Zain dia datang.
__ADS_1
"Din ini aku bawakan roti dan susu jangan lupa makan, orang yang menunggui orang sakit tidak boleh sakit, " Zain menyodorkan kantong yang dia bawa!
"terimakasih Zain, "Air matanya keluar begitu saja, terluka di atas luka.
''entah harus ku anggap apa Zain, mantan kekasih atau pengganti orang tua ku. Jika tidak ada dia siapa yang akan memerhatikan aku dan Tama di saat seperti ini, padahal Zain akan menikah sebentar lagi.'' Lirih Nandin dalam hati. Raganya yang terlahir sebagai perempuan, membuatnya tidak sekuat laki-laki dalam hal menahan emosi.
"Din, yang kuat sungguh ini akan baik baik saja, "ucap Zain, menepuk bahu gadis itu.
"Aku sudah melewati hal hal yang menakutkan dan menyakitkan, tapi melihat saudaraku sakit dan kami hanya berdua itu sungguh sangat menyakitkan,'' jawab Nandin.
"Mau cari angin sebentar keluar? " tawar Zain!
"Iya boleh,'' Jawab Nandin.
Zain keluar dari ruangan itu. Lalu Nandin mengikutinya setelah pamit pada Tama.
Mereka duduk di taman depan rumah sakit. Nandin merasa canggung sebenarnya, terlihat dari sikapnya yang hanya menggenggam tangannya.
"iya.'' Jawab Nandin singkat.
"Aku takut salah mengambil keputusan"Lanjut Zain
"Maksud mu?
"Aku akan menikah Din"
"Apa yang membuat mu bimbang?'' tanya Nandin.
"Aku takut jika saja mengabaikan kamu dan Tama setelah pernikahan ku", jelas Zain!
Nandin bigung begitu mendengar jawaban dari mulut Zain. Perasaannya cukup campur aduk saat itu. Membuatnya berpikir, Zain bingung karna masih mencintainya atau dia bingung karna rasa tanggung jawab terhadapnya dan Tama ,apa selama ini benar benar beban baginya.
__ADS_1
''Bagaimana aku tidak sulit dalam situasi ini Lelaki yang ku Tatap hanya dia, Hanya Zain selama ini aku mengagungkan nya,hanya Dia.'' Teriak Nandin dalam relung hatinya,
"Zain, jangan ragu tak apa,nikahilah Santi" Nandin membuka mulutnya, mengambil keputusan yang berat, sehingga membuat Zain tidak terbebani.
"Din.. "Zain menatap gadis itu sungguh lekat.
"Kamu tau Zain aku melihat di matamu kamu sungguh mencintainya
aku sungguh melihat itu dimatanya ,sorot ketulusan saat kamu memintaku menjadi kekasih mu,'' Nandin memperjelas ucapannya.
"Maafkan aku Din,"Zain meraih tangan Nandin, memeganginya dengan erat.
"Zain terimakasih sudah menjaga aku dan Tama,mulai sekarang kamu harus mengabaikan aku demi kebaikan mu,tanggung jawab mu sudah tuntas kamu harus bahagia,selama ini aku dan Tama menjadi beban untuk mu sehingga kamu tidak bisa menikmati hidup leluasa mu.'' Nandin menyela ucapan Zain, menjelaskan bahwa ia akan baik-baik saja,
"Din ,maaf karna aku tidak pernah jujur di situasi saat ini,aku sudah pernah akan jujur tapi terlalu sulit untuk menjelaskan bahwa aku benar benar tidak bisa melepaskan mu.'' ujar Zain.
"Kamu sudah menjaga aku dan Tama dengan baik,kamu merasa bertanggung jawab karna aku dan Tama hidup berdua tanpa orang tua, tidak apa. Kami akan baik-baik saja, percayalah.''
Zain menatap Nandin. bisa terlihat raut kesedihan dimata nya. Mata memerah dan dia tidak bisa menahan nya, Zain menghambur ke pelukan mantan kekasihnya itu , Nandin pun memeluk nya, kini sekarang ia sadar, Zain lebih seperti kakak yang tidak meninggal kan adik-adik nya.
"Zain terimakasih aku tau kamu laki laki yang baik," Nandin menepuk-nepuk tangannya ke punggung lelaki itu saat berada di pelukan nya.
Berat memang, mungkin Zain juga tidak menginginkan perpisahan yang menyakitkan dengan gadis itu.
Lepaskanlah apa yang harus dilepaskan, menggenggam yang bukan milikmu sama dengan kamu tertusuk lebih dalam. Bertambah sakit dan sangat berbahaya.
jangan lupa like, komen dan vote ya guys.
aku mencintai kalian. Dan dukungan dari kalian sangat berarti bagiku iloveyou :)
Andini_818
__ADS_1