
Jangan lupa, like, dan tinggalkan komen ya :)
untuk mendukung Author. Terimakasih:) iloveyou.
Dokter keluar dari ruangan UGD, setelah menangani ibu Dokter Riko. Membuat ia dan ayahnya langsung bangkit dari duduk.
"Bagaimana, keadaan ibu saya Dok?" ucap Dokter Riko, langsung dengan raut wajah khawatir.
"Ibu anda baru saja sadar, tetapi dia ingin saya menyampaikan sesuatu" jawab Dokter.
Dokter Riko langsung memasang wajah serius, tidak terkecuali ayahnya.
"Ibu anda tidak ingin bertemu dengan anda dulu," ucap Dokter itu, merasa tidak enak mengucapkannya.
Dokter Riko membelalakkan matanya.
"Ia hanya ingin bertemu dengan Nandin!" jelas Dokter,
Riko menarik nafas, lalu melirik ayahnya sebari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Ayah, aku harus ke menjemput Nandin" ujar Riko pada ayahnya.
Tanpa mendengar jawaban ayahnya, Riko langsung melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit.
Riko mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, permintaan ibunya adalah prioritasnya.
***
***
***
Disisi lain Aditya panik keluar dari rumahnya. Namun belum dia menghidupkan kendaraannya, supirnya menghampiri."Den, tadi non Nandin pulang sendiri, dia tidak mau saya antar" ucap supir itu.
Aditya terkejut lagi mendengar satu lagi karyawannya itu. "Yasudah, saya pergi dulu." Jawab Aditya.
Aditya melajukan mobilnya, keluar dari pekarangan rumah itu.
Sesampainya di rumah Nandin ia langsung mengetuk pintu rumah itu. Tama membuka sadel pintu begitu mendengar ketukan Aditya. "Dek, kakak ada?" tanya Aditya!
"Ada kak, dikamarnya." jawab Tama.
Tama mempersilahkan Aditya masuk. Aditya penasaran apa yang dilakukan Tama, begitu melihat koper diatas meja. "Kamu sedang apa Tam?,"
"Sedang membereskan ulah kalian" jawab Tama.
Aditya tidak mengerti maksud Tama, ia mengernyitkan dahinya. "Kakak ada dikamar, kesana saja" jawab Tama, lesu.
__ADS_1
Aditya melangkahkan kakinya menuju kamar Nandin. Sedangkan Tama kembali membenahi barangnya dengan tidak ada semangat sedikitpun.
Aditya mengetuk kamar gadis itu. "Masuk!" Teriak Nandin begitu mendengar ketukan pintu! ia mengira Tama yang mengetuk.
Aditya masuk sesuai perintah sang puan. "Hai" Ucap Aditya, melihat gadis itu yang sedang merebahkan diri diatas ranjangnya.
"Kamu, ngapain kesini?" Teriak Nandin!
"Aku yang harusnya nanya, kenapa kamu pulang tanpa izin?" Aditya melangkahkan kakinya mendekat.
Nandin langsung bangkit dari tidurnya, lalu duduk.
"Kenapa, apa kamu tidak merasa bersalah?" Ketus Nandin, menyilangkan kedua tangannya.
Aditya mengurut keningnya, lalu duduk di samping gadis itu. "Apa kesalahanku?" Aditya membenahi posisi duduk menghadap gadis itu.
"Kamu bilang, kamu tadi marah kan gara-gara aku bicara tentang menstruasi" Nandin mendelikan matanya.
Aditya menatap gadis itu dengan tatapan menggoda. "Lalu?" tanya Aditya penasaran.
"Kamu tadi berpikiran kotor kan?" Nandin berkata dengan berapi-api.
Seketika Aditya tertawa terbahak-bahak. "Jadi, kamu berpikir begitu, hei aku hanya menggodamu sayang" jawab Aditya.
Nandin melirik Aditya yang sedang mengulum senyum. Dengan pasti ia bangun, dan mendorong Aditya sampai tertidur di atas ranjangnya. "kamu berani menggodaku, hah" ucap Nandin!
"mengapa aku tidak boleh menggoda wanitaku?" Aditya menarik Nandin sehingga ia berada diatasnya.
Nandin yang menyadari itu, langsung mengambil sikap seperti akan memukul, Aditya pun memejamkan matanya. Tetapi ternyata ia malah mengelus kepala lelakinya itu. "Apa kamu panik saat aku tidak ada di rumahmu?" Nandin bertanya sebari mengelus rambut Aditya yang tengah terlentang di kasurnya.
***
***
Riko sampai di rumah Nandin, lalu langsung memasuki rumah itu karena mendapati pintunya terbuka. "Dek, kak Nandin dimana? Tanya Riko.
Tama kaget melihat Dokter Riko masuk tiba-tiba. "Kak, kakak" Tama terbata-bata.
"Mas, melihat mobil Aditya di depan" Riko menunjuk ke arah luar, dimana mobil Aditya berada.
"Kakak dikamarnya, Mas" Tama bertele-tele karena bingung menjelaskan situasi.
Riko yang merasa situasinya aneh, langsung menuju kamar Nandin. Tama sangat merasa canggung dan panik, karena takut terjadi kesalahpahaman.
***
***
__ADS_1
Aditya membuka matanya. "Tentu saja, apa kau mau membuat jantungku berhenti berdetak karena panik?" Aditya melipat satu tangannya ke belakang kepala. Lalu tangan lainnya memainkan rambut gadis itu.
"Kamu manis sekali" ucap Nandin kemudian mengecup kening Aditya.
Pintu kamar Nandin terbuka sehingga Riko bisa melihat kejadian didalam sana. "ehem" Suara deheman membuat Nandin langsung melonjak dari posisinya, begitupun Aditya.
"Mas Riko," Nandin kaget mendapati siapa yang berada diambang pintu kamarnya.
Aditya dan Nandin saling lirik. Riko merasakan hatinya panas terbakar, suasana menjadi canggung.
"Apa sebaiknya kita bicara diluar?" usul Nandin.
"Bukankah itu seharusnya dilakukan sedari tadi" jawab Riko, menatap Nandin dan Aditya bergantian!
Aditya melihat gadis yang dicintainya berdiri tersudutkan oleh kata-kata sepupunya itu. ia pun bangkit dari duduknya. "berhenti menyudutkan Nandin."Bela Aditya.
Riko tersenyum sinis. "Apa kau akan mencuri kekasih orang lain, sepicik itukah harga dirimu?" bentak, Riko!
Nandin yang merasa tidak nyaman dengan perkataan Dokter Riko terhadap Aditya, akhirnya ia mengangkat wajahnya. "Stop Mas, jangan salahkan Aditya" ucap Nandin.
"Lalu siapa yang harus disalahkan, kamu?" pandangan Riko berpindah dari Aditya kepada Nandin.
"Apa aku juga tidak bisa mengambil keputusanku? apa setelah semua yang kamu lakukan aku harus diam saja?" Nandin berteriak, meremas rambutnya lalu menatap Riko dengan lekat.
Riko dan Aditya kaget melihat sikap Nandin yang tiba-tiba frontal. "Aku tahu aku salah atas perasaanku kepada Aditya, aku pernah berniat meninggalkannya. Lalu apa yang kudapat? kenyataan bahwa kamu tidur dengan wanita lain?" Nandin mengeluarkan semua unek-uneknya, airmatanya mengalir deras.
Aditya yang mendengar pernyataan itu langsung menatap Nandin lekat-lekat. Gadis itu bahkan tidak pernah bercerita tentang bebannya ini, tidak pernah berbicara tentang lukanya yang menganga.
"Aku hancur sehancur-hancurnya. Namun Aditya datang setiap aku membutuhkan dia." Lirih Nandin.
Riko uang mendengar ucapan Nandin langsung mundur dua langkah, tidak percaya bahwa gadisnya benar-benar berteriak.
"Apa kau sungguh menyakitinya?" tanya Aditya, lalu tanpa aba-aba memukul Riko yang langsung terpental ke pintu kamar Nandin.
Nandin menjerit. "Berhenti!" teriaknya.
Suara gadis itu membuat Aditya melepaskan genggamannya di kerah baju Riko.
Dokter Riko menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya. Lalu menarik nafas panjang. "Baiklah, aku kesini tidak mengharapkan ini. Mama sakit di rumah sakit dan ingin bertemu denganmu" ujar Riko.
Nandin langsung mengangkat wajahnya yang menunduk, basah dengan air mata. Aditya langsung menatap Riko karena kaget.
"Mama, di rumah sakit?" Tanya Nandin disela Isakan tangisnya.
"ia, Seila ke rumah memberitahu tentang masalah ini, lalu mama shock dan pingsan" jelas Riko!
"mama ingin bertemu denganmu" Lanjut Riko.
__ADS_1
ikuti terus ya kisahnya, sharange guys. aku mencintai kalian. jangan lupa like dan komen ya guys. i love you.
Andini_818