
Malam terasa lebih lama dari biasanya menurut Nandin. Dingin menusuk kaki membuat matanya akhirnya mau tidak mau terpejam. Lelap dalam pikir yang dalam adalah lelap yang lelah menguras perasaan.
Setidak nya bisa membuat jiwa mu beristirahat barang sejenak.
Pagi yang ditunggu Nandin akhirnya tiba juga, Alarm berdering tepat jam 06.00 Mata gadis itu langsung terbuka, tanpa berkedip dulu dia langsung mengambil handuk untuk mandi, berjalan menuju kamar mandi menjemput dingin nya air di pagi hari.
Setelah mandi Nandin langsung mengganti baju dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan, tetapi rambut nya masih terlilit handuk karena dia selesai keramas. "Dek, cepet sini sarapan." Ujar Nandin.
Tama yang sedang merapikan barang barang untuk sekolah nya pun bergegas mendekati sumber suara yang sebenarnya membuat nya takut jika pemilik nya sedang marah. Tetapi suara itu cukup menenangkan dan memiliki cinta di dalam nya. "Ok kak, sebentar baru selesai beresin buku." Jawab Tama.
Dalam hitungan menit Tama sudah duduk di meja makan. Mendapati kakak nya yang sudah mandi menggelitik Tama untuk bertanya. "Kak, tumben udah mandi biasanya juga masih kucel banget."
Mendengar perkataan terakhir sang adik mata Nandin langsung melotot. "Apa, gak suka?" Nandin menaikan alisnya melotot sebari berhenti mengunyah makanannya seperti mau menerkam Tama.
"Enggak biasa saja." Jawab Tama dan melanjutkan makan nya.
Setelah selesai makan Tama langsung bergegas untuk berangkat sekolah dikarenakan hari senin upacara jadi ia harus berangkat pagi agar tidak kesiangan.
Nandin membereskan bekas makan dan masak nya dengan secepat kilat. Pikiran nya sudah di rumah Dokter Riko.
"Kak adek berangkat yak? assalamualaikum." Tama sedikit mengeraskan suara nya karena tidak mendapati kakak nya di dapur.
"Iya hati hati ya. walaikumsalam." Jawab Nandin sebari mengeringkan rambut nya.
Berdandan sederhana, hanya memakai sedikit lip glossy untuk melembabkan bibirnya agar tidak kering. Tetap tidak mengurangi keindahan nya untuk dipandang.
Setelah selesai memantaskan diri, Nandin bergegas berangkat ke rumah Dokter Riko dengan sejuta pertanyaan di benak nya.
Rindu, sudah jelas tapi sekarang lebih dari kata itu. telepon singkat dari Dokter Riko semalam pun semakin menambah pertanyaan nya.
Perjalanan terasa cepat sekali. Nandin sudah berdiri di depan rumah megah milik kekasih nya itu. Dan mengetuk pintu besar nya.
Tok tok tok, suara pintu diketuk. Dan seseorang dari dalam rumah membuka kan pintu, dia asisten rumah tangga yang sudah familiar dengan Nandin setiap berkunjung ke rumah Dokter Riko.
__ADS_1
"Eh non Nandin. Silahkan masuk non nanti saya panggilkan bapak." Ucapnya seraya membuka kan pintu lebih lebar.
Nandin tersenyum dan berprilaku santun. "Baik, terimakasih ya." Nandin melemparkan senyum manis nya pada asisten rumah tangga itu. Karena sepertinya masih muda dan seumur dengan nya.
Nandin duduk di ruang tamu, tangan nya berkeringat karena ingin menanyakan pertanyaan. Tidak lama seseorang membuka pintu ruangan. "Din." Suara ayah Dokter Riko menyapa.
"Eh Ayah, assalamualaikum." Nandin menyalami lelaki paruh baya itu.
"Mama gak ada Din, dia lagi ke Australia kemarin berangkat katanya rindu Riko."
Mendengar jawaban dari ayah Dokter Riko, Nandin kebingungan tumben Ibu Dokter Riko tidak mengabari hal sepenting ini. Dan yang membuat nya kecewa harapan nya mendapat jawaban dari rasa penasaran nya hilang, pada siapa harus ditanyakan, sedangkan ia hanya dekat dengan ibu Dokter Riko saja. Beda dengan ayah nya, Nandin cukup segan. "Oh begitu ya Ayah, Nandin kira Mama ada."
Menyadari tingkah Nandin Ayah Dokter Riko cepat sigap mengambil tingkah. "Din, kamu baik baik ajah kan nak?"
Nandin tak kuat menahan semua pertanyaan nya yang yang sudah mendesak sedari semalam. "Ayah semalam Mas Riko telpon Nandin, percakapan kami hanya melontarkan beberapa kata, kemarin Mama ngasih Nandin buku Diary Mas Riko tapi Nandin malah kepikiran tentang arti tulisannya."
Ayah Dokter Riko menatap wajah gadis itu yang penuh kekhawatiran. "Apa yang membuat mu kepikiran? tanyakan saja mungkin Ayah bisa menjawab."
Nandin tampak mengatupkan bibirnya, mempertimbangkan cara dan kata yang pas untuk dilontarkan. "Ayah, dibuku itu tertulis Mas Riko takut, Mas Riko marah pada dirinya, sikap nya juga berubah, bahkan tidak pernah menghubungi Nandin selama dia di luar negri." bibir Nandin terkatup lagi menyadari terlalu banyak penjelasan dalam pertanyaan nya.
Nandin mendengarkan dengan seksama. lalu mengangguk. Perasaan nya mulai dilingkupi asap yang membuat dada nya sedikit sesak.
"Selama Riko pergi, kami juga tidak mendapatkan kabar darinya. Karena itu lah Mama pergi mengunjungi Riko, sebagai seorang ibu dan kami hanya punya anak wajar jika dia merindukan nya."
Nandin shock mendengar kebenaran bahwa Dokter Riko juga tidak menghubungi orangtuanya.
"Apa yang akan ayah bilang sekarang mungkin akan membuat Nandin shock, atau merasa dipermainkan. Tapi ayah percaya kamu bisa memilah dan tidak menyalahkan." Lanjut Ayah Dokter Riko.
Nandin semakin gundah gulana, tangan nya berkeringat. Siap menerima kebenaran. Pikiran negatif yang iya simpan dari semalam seakan mengiyakan mulai datang menghampiri pikirannya. Tetapi dia menahan dan menyiapkan diri mendengar nya langsung dari Ayah Dokter Riko.
Nandin pun mengiyakan ucapan Ayah Dokter Riko.
"Riko pergi ke luar negeri bukan tanpa alasan, dia hanya berusaha mengendalikan perasaan nya yang serba salah nak. Dia mulai mencintaimu sejak lama dan sekarang dia kebingungan. Riko tidak pernah sakit sampai harus di rawat, dia kemarin untuk pertama kalinya dirawat di rumah sakit."
__ADS_1
Pikiran tentang sakit Dokter Riko pun mulai hinggap di pikiran Nandin. "Mas Riko sakit apa Ayah?."
"Riko hanya drop akibat banyak pikiran."
"Hanya itu?."
"Nak, sebenarnya Riko pergi ke luar negri hanya karena merasa bersalah."
Nandin mengerutkan kening nya berusaha mencerna ucapan Ayah Dokter Riko. "Kepadaku?"
"Iya padamu dan Aditya."
"Aditya?" Nandin semakin bingung.
"Riko tahu bahwa kamu mantan kekasih sepupunya. Riko merasa bersalah karena menyukaimu."
"Apakah karena aku mantan kekasih Aditya ayah?"
"Mungkin itu tidak masalah, tapi..." Ayah Dokter Riko menggantungkan ucapan nya.
"Tapi?." Nandin menunggu jawaban nya dengan khawatir.
"Aditya sakit parah, dan dia hanya memikir kan mu."
"Aditya?." Mendengar jawaban dari Ayah Dokter Riko cukup mengejutkan Nandin. pikiran nya dari semalam bahkan tidak ada aditya di dalam nya.
"Riko adalah dokter yang menangani Aditya. selaku Dokter, Riko selalu ingin memberi kebahagiaan pada pasien nya. apalagi ini sepupunya. Aditya tidak memikirkan hal lain selain dirimu nak, dan itu yang membuat Riko kemungkinan berubah sikap nya terhadap mu."
Jawaban dari rasa penasaran Nandin ternyata berbuah rasa shock yang hebat. Jawaban yang bahkan susah sekali untuk dicerna walau sudah di ulang berkali kali.
"Aditya?"
"Aditya sakit"
__ADS_1
"Aditya sakit parah?"