
Suasana canggung, Nandin tidak tidak menegur Aditya sama sekali. Begitupun sebaliknya.
Nandin bahkan tidak keluar kamar, tidak makan juga. Ia hanya minum dengan air yang tersedia di dalam kamar hotel.
Aditya hanya mampu melirik istrinya itu, tanpa bertegur sapa.
Nandin tidur didalam kamar, sedari kejadian tadi pagi ia hanya memejamkan matanya. Aditya pergi keluar untuk makan, tetapi sekembalinya ke kamar ia juga tidak membawa makanan sama sekali.
Nandin kembali memejamkan matanya, mengetahui suaminya sudah acuh padanya, juga berharap rasa laparnya akan hilang setelah bangun.
Aditya merebahkan dirinya di atas ranjang, lalu membalik tubuhnya sehingga saling membelakangi.
Sampai hari berikutnya, Aditya hanya pergi sendiri keluar dari kamarnya. Pergi jalan-jalan lalu kembali dengan membawa banyak sekali tas berisi oleh-oleh ala Eropa itu.
Nandin menatap Aditya, kini wajahnya pucat karena tidak menerima asupan makanan. Namun Aditya tetap saja egois. Sakit bagi Nandin di diamkan tanpa kata, atas alasan uang luar biasa diluar logika.
Sampai hari kepulangan dari Britania, Nandin mengemas semua barangnya. "Batang kita lebih banyak, bagai mana kalau tidak cukup di koper?" ucap Nandin, membuka suara.
"Aku akan bayar kabin." jawab Aditya simple.
Nandin melanjutkan mengemas barang-barang itu, ia bahkan tak sempat membeli oleh-oleh apapun. Wajahnya semakin pucat, Coat coklat miliknya lumayan membuat tubuhnya sedikit hangat.
Rupanya kepulangan Nandin dan Aditya ke Indonesia juga sama dengan kepulangan Dokter Riko. Hal itu cukup mengejutkan.
Namun Aditya bahkan tidak menegur sepupunya itu. Dokter Riko melirik sekilas wajah Nandin, bibir nya hampir putih, wajahnya pucat, gadis itu menggeret kopernya sendiri.
Nandin dan Aditya berada di kelas 1 kabin pesawat, sedangkan Dokter Riko berada di kabin bisnis.
Aditya merebahkan tubuhnya di kursi pesawat, begitupun Nandin.
Nandin terus memegangi perutnya, yang bahkan sampai tidak di isi makanan.
sesampainya di Indonesia, Aditya berjalan mendahului Nandin. Dan langsung menghampiri pak Asep guna memberikan koper yang ia geret sedari tadi.
__ADS_1
Diperjalanan pulang pun Nandin sama sekali tak berucap, perih di ulu hatinya membuatnya tertidur. Sampai tiba di rumah.
"Kakak." ucap Tama, dan berlari menghampiri kakaknya itu.
"Hai sayang." jawab Nandin, lemas!
Aditya langsung menuju kamarnya ke lantai dua. Nandin melihat punggung suaminya itu yang kian menjauh.
"Kak, kak Adit kenapa?" tanya Tama.
"enggak sayang, enggak kenapa-kenapa." lanjut Nandin.
"Jadi mana oleh-oleh Britania nya." goda Tama.
"Kakak cape nih, besok kita bahas ya?." ucap Nandin.
Melihat kakak nya yang memang baru sampai, membuat Tama mengerti. "Yasudah kakak istirahat gih." ucap Tama.
Nandin pun menuju kamarnya, melihat Aditya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, membuat Nandin berpikir mungkin Aditya jetlag.
Bahkan saat Nandin berusaha mengangkat tubuhnya dari tidur nya itu, Aditya buru-buru keluar kamar.
Nandin memapah tubuhnya yang tak kuat menahan beban karena kepalanya terasa berat.
Namun ia tetap menuruni anak tangga itu. "Bu, Adit sudah berangkat?" tanya Nandin.
"Sudah Non, dia tidak sarapan." jawab Bu Sari.
Nandin berpikir bahwa suaminya memang masih marah sekali. "Yasudah, tolong siapkan makanan berat ya Bu, nanti saya mau antar ke kantor bapak" ucap Nandin.
Bu Sari pun mengangguk, dan segera melaksanakan titah nona muda nya itu.
Nandin menahan sakit kepala, disertai mual yang parah dipagi hari.
__ADS_1
***
***
Jam sudah menunjukan pukul 11.00 Nandin sengaja pergi menjelang makan siang, karena sekalian akan mampir ke Dokter, untuk mencek sakit kepalanya.
Pak Asep mengantar Nandin ke rumah sakit dahulu, sebelum mengantar nyonya mudanya itu ke kantor.
Nandin mengantri di ruang tunggu, sampai akhirnya namanya dipanggil, dan ia langsung berbaring di kasur periksa.
Setelah pemeriksaan selesai. Nandin duduk di depan meja Dokter. "Ibu Nandin, untuk menyesuaikan hasil yang saya dapat boleh minta cek HCG nya?" ucap Dokter.
Nandin yang tak kuat karena sakit kepalanya hanya mengangguk, ditemani suster.
Setelah hasilnya di dapat. Dokter kembali menghampiri Nandin. "Selamat ibu, ibu hamil!" ucap Dokter itu.
Nandin membelalakan matanya, ucapan Dokter seperti ia menang lotre atau apapun itu. "Saya hamil?" Nandin bertanya.
"Iya Bu, Usia kandungannya baru 6 Minggu, jadi usahakan dijaga ya, soalnya kandungan ibu sangat lemah." titah Dokter.
Nandin mengangguk, sebari memegangi perutnya. Dokter memberikan resep dan juga catatan kehamilannya.
Nandin keluar dan segera pergi ke kantor suami ya untuk memberikn kabar bahagia ini.
Sesampainya di kantor Nandin segera memasuki ruangan suaminya. Melihat Nandin masuk, Aditya sama sekali tidak merespon. "Mau apa kamu kesini?" hanya ucapan memojokan yang keluar dari mulutnya.
"Aku anter makanan. Kamu tidak sarapan kan tadi pagi." ucap Nandin.
"Aku tidak lapar, mulai sekarang berhenti berpura-pura peduli padaku." lanjut Aditya.
Mendengar ucapan keterlaluan suaminya, Nandin tak kuat lagi menahan emosi.
"Berhentilah memperbesar masalah Aditya, aku lelah sekali. Kamu sama sekali tidak mengerti ketika istrimu berkata jujur. Aku kemari hanya untuk memberi surat ini." Nandin meletakan surat dari Dokter, dan langsung membalikan tubuhnya.
__ADS_1
Kini Aditya melihat tubuh istrinya menjauh dari pandangannya, hingga tenggelam dibalik pintu.
Sekretaris masuk dan menyuruh Aditya mempersiapkan diri untuk rapat direksi, membuat Aditya lupa dan menumpuk surat Dokter itu dengan berkas-berkasnya!!!