LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
CALON NYONYA ADITYA!


__ADS_3

 Melihat keluarganya sudah pergi dari rumah sakit. Aditya menarik tangan Nandin untuk masuk lagi kedalam kamar inapnya. Sekilas Nandin melihat ke arah Dokter Riko yang sedang menatapnya, sebari tetap mengimbangi langkah Aditya.


 Aditya menekan lift VVIP untuk menuju kamarnya. Riko mendekati Nandin dan Aditya yang sedang berdiri didepan lift itu.''Din.'' Sapa lelaki berpropesi Dokter itu, yang tidak lain adfalah mantan kekasihnya. Ia mengulurkan tangan kanannya.


Aditya menepis. ''Jangan berani-berani, Rik! Gue harap lo enggak nyentuh Nandin lagi.'' dengan pandangan tajam.


 Riko merasa Aditya kesal terhadapnya, bukan karena dia mantan kekasih wanitanya. Tetapi karena sikapnya yang melukai Nandin. Mengerti kondisi itu Riko menarik kembali tangannya.


Nandin sebenarnya merasa tidak enak, karena sikap Aditya. Terlihat dari raut wajahnya yang mewrasa bersalah.


''Selamat ya Din, Dit! Atas hubungan kalian, Aku harap kalian bahagia, sudah sewajarnya juga itu hak kalian sedari dulu.'' Jelas Riko!


Riko menarik diri setelah menyampaikan maksudnya, lalu berlalu. Nandin menyikut tangan Aditya. ''Jangan begitu, tuhkan! Riko hanya ingin mengucapkan selamat''


Aditya tidak patah arang atas sikap percaya dirinya, dan menganggap Riko pantas mendapatkan sikap itu. Lift pun terbuka dan mereka memasukinya, sampai lift terbuka tepat di lantai lima dimana ruang VVIP berada, berhubung itu lift khusus jadi tidak banyak yang menggunakannya. Sehingga tidak mendapat kendala.


Aditya masih menggenggam tangan gadisnya itu, sampai memasuki kamarnya. Aditya langsung mendudukan Nandin di atas kasur pasien itu. ia merendahkan tubuhnya, kedua tangannya di taruh dibahu gadis itu.''Bisakah kamu mengurangi pesonamu, dan rasa terlalu baik hatimu itu?''


Nandin sampai menahan nafas, karena posisi wajah mereka terlalu dekat.''Kenapa memangnya, Dit?'' tanya Nandin.


''Dit kamu bilang. Setelah aku menyulapmu bak putri raja. Dilamar disaksikan banyak orang oleh lelaki tampan sepertiku. Dan kamu masih memanggilku Dit?'' Aditya berbicara panjang lebar, tidak terima atas nama panggilan yang baru saja dilontarkan Nandin.


''Aku kan memang biasa memanggilmu Dit, Adit, Aditya. Mentok-mentok juga aku panggil kamu bapak.'' jawab Nandin.


''Ya jangan dibiasakan dong nyonya, kamu sekarang gadisku. Dan buat aku bangga didepan orang banyak. Panggil aku dengan sebutan Sayang!'' Aditya merajuk, lalu berdiri.


''Tapi aku tidak terbiasa.''ujar Nandin.


''Tentu saja bisa, Kamu hanya butuh waktu untuk menyesuaikandiri,'' Aditya merangkul Nandin dan meletakan kepala gadis itu di pundaknya.


Entah bagaimana perasaan Nandin, sikap Aditya saja mampu membuat pipinya merah merona. Gadis itu menarik diri menatap Aditya, membuatnya berhadapan. ''Bagaimana bisa kamu membuatu malu.''


''Apa yang membuatmu malu?'' tanya Aditya.

__ADS_1


''Lamaran tadi di lobby rumah sakit.'' Nandin malu-malu menjelaskannya pada Aditya.


''Aku hanya ingin menunjukan keseriusanku.'' jelas Aditya.


Lagi-lagi Nandin mengulum senyumnya. ''Kulihat kau mulai percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu.'' Aditya melempar senyumannya.


Nandin menghembuskan nafas panjangnya. Mengelus rambut Aditya dengan tangannya.''Terimakasih! Sayang.'' ucap Nandin


Aditya menatap wajah Nandin tanpa berkedip. Memperjelas pendengarannya, Nandin memanggilnya sayang untuk pertama kalinya. Aditya mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup mesra bibir gadis itu dan kembali menatapnya. Nandin yang sedang mengelus rambutnya pun memberhentikan tangannya.''Ah! kamu nakal'' Nandin segera memegangi bibirnya itu.


''Aku benar-benar bersyukur, kini aku benar-benar memilikimu.'' Kini Aditya yang mengelus rambut Nandin.


***


Aditya memutuskan keluar dari rumah sakit hari ini. Dia tidak mau berlama-lama, dan juga tidak mau membiarkan Nandin pulang sendiri. Aditya menyelesaikan administrasinya.


Supirnya sudah datang menjemput di depan pintu keluar rumah sakit. ''Hai pak Asep'' Sapa Aditya dengan ceria pada supirnya itu, juga membukakan pintu mobil.


Aditya tidak masuk kedalam mobil duluan, tetapi ia mempersilakan Nandin masuk duluan. ''Silakan tuan putri.'' Aditya memegangi ujung pintu, yang tadi di pegang pak Asep.


''Langsung kemana Den?'' tanya pak Asep.


''Rumah nyonya Aditya! Pak'' jawab Aditya.


Pak Asep menggaruk kepalanya tidak gatal.''Maap Den, dimana ya, takutnya saya lupa'' celetuk pak Asep.


Nandin yang menyadarinya langsung saling lirik dengan Aditya. ''Hahahaha'' Aditya tertawa terbahak-bahak.


''Rumah Nandin pak, sebentar lagi dia akan jadi istri saya. Dia akan menjadi nyonya Aditya.'' Lanjut Aditya, sebari menggenggam tangan Nandin. Membuat Nandin tersipu malu.


''Oh, rumah non Nandin, baik Den!'' jawab pak Asep.


''Akhirnya setelah Den Adit menunggu non Nandin selama enam tahun, kini Aden dan Non akan menikah juga, bapak senang melihatnya. Penungguan den Adit terbalas alhamdulillah. Lanjut mang Asep.

__ADS_1


Mendengar pak Asep berbicara panjang lebar, membuat Nandin kembali menatap lelakinya itu. Terharu dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.


Sedangkan Aditya memegangi kepalanya karena malu. Tetapi dia juga bahagia ternyata orang-orang dirumahnya peduli padanya dan mendukungnya. Meskipun mereka hanya karyawan tapi Aditya sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Mengingat sikap ayahnya dan juga nyonya besar yang tidak lain adalah ibunya.


 ***


***


 Riko memasuki ruangan ibunya, kini ibunya sudah lebih tenang dan mau dikunjungi Riko. ''Ma,'' sapa Riko.


 Ibunya tidak menjawab Dokter Riko, tetapi juga tidak menyurihnya keluar. Sedangkan ayahnya memang tidak banyak bicara, tetapi dia akan ambil tindakan jika semua diluar kendali. ''Ma, maafkan Riko ya Ma?'' Lanjut Dokter Riko.


 Ibunya melirik ke arah anak semata wayangnya itu. ''Bagaimana bisa kamu menyakiti gadis malang itu,'' Akhirnya ibunya mau membuka suara, Dokter Riko tahu siapa yang dimaksud ibunya.


 ''Maafkan Riko mah, Sungguh itu sebuah kecelakaan.'' Dokter Riko berlutut dan memegangi tangan ibunya. Sehingga wajahnya sejajar dengan tubuh ibunya yang terbaring.


 ''Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur Rik. Tadi Om Sakseno dan tante Keira kemari, katanya Aditya sakit juga disini?.'' tanya ibunya.


 ''Ia mah, tapi sudah pergi. Begitu melihat Aditya melamar Nandin tadi.'' jawab Dokter Riko hati-hati.


 Ayah dan Ibunya langsung menatap Riko bersamaan. ''kenapa Ma, Yah. Riko tidak apa-apa. Riko percaya pada Aditya. Nandin pasti akan bahagia.'' Jelas Riko, bermaksud agar orangtuanya tida syok.


 ''Bahagia apanya Rik, om Sakseno dulu menawarkan kompensasi untuk kematiaan ayah gadis itu. Bagaimana mungkin dia akan merelakan Aditya bersama Nandin? dulu dia bersikap biasa-biasa saja di rumah nenek, itu karena Nandin tamu Mama.''


 Penjelasan ibu Dokter Riko membuat jantung Dokter Riko tersentak. Bagaimana bisa, baru saja ia tenang karena gadis itu akan bahagia. Mengapa hidup amat berbelit untuk gadis itu.


 Bagaimanapun pikiran Riko tidak muda lepas dari Nandin. Juga ibunya yang telah menganggap Nandin sebagai menantunya itu.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN DUKUNG AUTHOR JUGA DENGAN MEMBERIKAN VOTE.


TERIMAKASIH SEMUA SUDAH MENDUKUNG SEJAUH INI. AKU SUNGGUH MENCINTAI KALIAN


SEMOGA KALIAN SEMUA PEMBACAKU, SEHAT DAN DIMUDAHKAN URUSANNYA YA

__ADS_1


SALAM CINTA


ANDINI_818


__ADS_2