
Brakkk . . .
Sebuah mobil menabrak Ayah Nandin benturan yang sangat keras sehingga membuat ayahnya terpental cukup jauh. Kejadian itu terjadi depan matanya sangat cepat bahkan dia baru saja berkedip
"Ayahhhhhhh," Teriak Nandin dan dia mematung lalu lunglai ingin berlari tapi kaki nya tidak mampu bergerak
Nandin mengalihkan pandangan dari tubuh yang tergeletak di depan nya. Dia menoleh melihat beberapa orang berlarian tetapi dia masih saja terkulai lemas di pinggir jalan , beberapa orang lain nya membantu si pengendara mobil yang menabrak an diri ke tiang listrik.
Mobil Ambulans datang setelah entah siapa yang menelpon 919, Nandin ikut ke dalam ambulance .
Nandin memejamkan mata dan memijat keningnya.
"Ayah aku takut," ucap Nandin di depan tubuh ayah nya yang sudah di pasang selang oksigen oleh perawat di dalam ambulans.
Dia tidak berucap tetapi menambah pilu keadaan, tangis yang hanya bisa di dengar oleh batin nya air mata yang semakin memanas pun gak luput mengalir dari pipinya.
Suasana Rumah sakit hari ini berbeda, ramai tapi tidak terasa penuh Nandin merasa sangat kesepian.
Dokter keluar dari ruangan UGD tempat ayah Nandin ditangani.
"Perwakilan keluarga pasien?," Ujar dokter di depan pintu UGD
"Saya," jawab Nandin sebari berdiri dengan gemetar air mata yang baru mengering terlihat dari ujung matanya yang memerah
"Apa tidak ada orang dewasa?," Lanjut Dokter itu
Nandin hanya menggeleng kan kepala.
" Semoga kamu bisa kuat ya, Maaf ayah mu tidak terselamatkan benturan di kepala dan dada nya membuat nya susah untuk bernapas dan mendapat pertolongan," Ujar dokter itu
Nandin terpaku air mata nya yang baru saja kering mengalir lagi ,
"Heuh? ,"jawab Nandin ,sepertinya Dia masih menerka nerka apa yang di ucapkan oleh Dokter ,
"Bangunlah, Ayah, bangunlah... " setiap beberapa waktu, hanya itu yang di ucapkan Nandin.
__ADS_1
Setelah kabar panik yang diterima nya yang bahkan belum bisa dia terima dengan akalnya, dia menelpon semu kerabat, ibu nya juga termasuk Aditya.
Jenazah Ayah Nandin sudah di kafankan terbujur kaku di ruang tamu rumahnya.
Ucapan demi ucapan keluar dari mulut para pelayat,
" yang tabah ya kami ikut berduka"
" yang kuat ya ,biarkan Ayah tenang"
" kami ikut merasakan kesedihan mu"
Nandin memalingkan wajah nya dari semua pelayat yang menyalaminya mata nya hanya terfokus pada wajah Ayah nya, ucap demi ucap dari pelayat semua nya sama mengartikan " Bagaimana kamu akan menjalani hidup setelah ini ".
Tidak ada orang yang benar benar merasakan kehilangan seperti yang dirasakan nya.
Nandin sudah mengabari Aditya dari kejadian saat di Rumah Sakit tetapi tidak ada jawaban sampai Ayah nya akan dikebumikan.
Tanah tanah menutupi sebagian lubang yang terdapat raga. Menyisakan bayangan bayangan yang sudah berlalu, kenangan kenangan yang buntu, dan isakan tangis yang pilu.
Tangis sudah bukan sesuatu yang harus dipertanyakan di saat-saat seperti ini, raga seperti tidak menapak pada bumi , tidak ada yang Ter dengar selain pilu hati.
Bayangan itu semua hinggap di kepala membuat luka lama yang terbuka menganga.
Kotak kotak di depan mata yang tergeletak di atas meja adalah kotak-kotak yang diberikan oleh Aditya , setiap dia meminta maaf dia memberikan kotak berisi coklat , dan kotak kotak pemberian saat anniversary, pantas saja jika Nandin familiar dengan kotak ini,
Terbersit lagi di kepala Nandin kotak terakhir yang sudah kosong adalah kotak yang kemarin isinya baju cantik biru muda yang terdapat hirup A&N, kotak ini kotak terakhir yang di titip kan Aditya kepada ayah Nandin, kotak yang jatuh saat Ayah nya juga jatuh tertabrak mobil itu.
Lagi-lagi air mata mengalir ketika membuka kotak selanjut nya banyak sekali foto-foto Nandin dan Aditya, Nandin langsung menutup nya, Nandin menelungkup kan muka di atas meja kerja Ayah nya lagi lagi menangis dengan suara yang hampir tak terdengar.
Tangis yang tidak terdengar menandakan bahwa tangisan itu tidak perlu di pertanyakan hanya perlu di mengerti.
"Kak," ucap Tama dari balik pintu
"iya," jawab Nandin lirih
__ADS_1
"Ada mas Riko di depan", jawab Tama
"Hemm...," jawab Nandin
Nandin sekuat tenaga berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Ayah nya.
"Din," Sapa Dokter Riko ketika melihat Nandin datang
Nandin hanya mengangguk.
"Din, saya tau kamu sedang tidak baik-baik saja saya juga gak bisa menunda lagi untuk bertanya saya khawatir," Lanjut Dokter Riko
"Saya sebenarnya belum mau bertemu orang Mas, saya juga belum istirahat," jawab Nandin
"Maafkan saya Din," ucap Dokter Riko menyadari pula melihat mata Nandin yang bengkak akibat menangis.
"Mas, saya belum bisa mencerna yang terjadi saya juga belum tau semua tentang masa lalu karena saya belum ingat, saya juga tidak tahu sejauh mana Mas ambil alih dan tahu tentang masalah ini, saya mohon beri saya waktu," jawab Nandin panjang lebar
"baik Din saya ngerti keadaan kamu sekarang," Ucap Dokter Riko
Menyadari nandint yang memang masih dalam keadaan kacau Dokter Riko pun pamit untuk pulang.
"Saya pamit ya Din," Lanjut Dokter Riko
Nandin hanya mengangguk saja.
Nandin merebahkan diri di atas tempat tidurnya, membayangkan apa saja yang telah dilupakan yang jelas itu pasti menyakitkan.
Tidak ada orang yang akan baik- baik saja ketika kehilangan.
Musim pasti berganti
Hidup pasti mati
Luka hati belum tentu sembuh? . . .
__ADS_1