LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
TAMU TIDAK TERDUGA!


__ADS_3

Hari sudah sore tapi Aditya belum juga menghubungi Nandin. Suasana hari ini begitsu sepi  berat dan sepi untuk Nandin suasana nya tidak begitu sepi padahal saat ada Aditya.


"Dek kak Aditya belum kesini ya?" Ucap Nandin pada Tama yang baru saja bangun dari tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Mendengar ucapan kakak nya Tama langsung menghentikan langkah nya dan berbalik. "Kakak nanya ke adek tentang kak Aditya?"


Nandin tampak serba salah mendapat jawaban dari kakak nya."Maksud kakak bukan gitu, kakak kan hanya tanya.'' Balas Nandin terbata-bata.


"Maksud adek juga enggak begitu, Maksud adek kenapa kakak tanya adek padahal kakak tahu adek baru bangun tidur?"


jawaban Tama membuat Nandin batuk dan memegang tenggorokan nya, Sedangkan Tama melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi.


Tama hanya sebentar menggunakan kamar mandi dan keluar masih mendapati kakak nya yang menatap kosong pada pintu ruangan nya.


"Kak tolong jangan terlalu memperlihatkan bahwa kamu sedang menunggu seseorang." Ucap Tama.


"Siapa yang sedang menunggu orang?'' Jawab Nandin ketus sekali kepada lawan bicaranya.


Pertengkaran mermang selalu terjadi pada Kakak beradik normal dalam keadaan apapun.


Pintu ruangan itu tergeser menandakan ada seseorang yang masuk, tatapan Nandin langsung teralihkan tapi orang yang baru saja menggeser pintu hanya tertegun,begitu juga Nandin' tetapi bukan hanya Nandin yang kaget Tama juga tidak kalah kaget mendapati siapa yang memasuki ruangan Kakak nya di rawat. "Nandin?'' ucap wanita yang baru saja melangkahkan kaki nya mendekat.


"Mama.'' jawab Nandin lirih.

__ADS_1


Tama berdiri tidak mengucap sepatah katapun bahkan tidak menggeser posisi berdiri nya, Nandin paham betul sikap dan sifat Tama. Nandin meraih tangan adiknya dan mengelus punggung tangan nya lalu menganggukan kepalanya memberi isyarat semuanya baik baik saja. Tama tampak memendam emosi yang membuat wajah dan matanya memerah tetapi Nandin menggenggam tangan adiknya lebih erat.


Seorang laki-laki memasuki ruangan itu juga dengan menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun. Menyaksikan itu membuat Tama geram dan tidak mampu menahan emosinya yang meluap. Tama melangkah kan kakinya menuju pintu tetapi tangan wanita itu meraihnya. ''Tam, Mau kemana nak? maaf kan Mama nak.''


''Maaf untuk apa ? kamu hidup bahagia bersama lelaki lain setelah meninggalkan saya dan kakak? menurut mu pantas kamu datang dan meminta maaf dari kami?'' Emosi Tama tampak meluap dan melepaskan gengaman wanita itu yang ternyata ibunya, Tama keluar dan menggeser handle pintu dengan keras.


Nandin yang menyaksikan adiknya pergi ke luar ruangan tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya terpaku di atas ranjang rumah sakit itu sebari tak kuat menahan air mata yang akhirnya membasahi pipinya.


 Akhirnya karena tidak tahan Nandin menggunakan kedua tangannya untuk menutup wajah nya yang sedang menangis,


''Din? maafkan Mama nak.'' Isak tangis dari kedua wanita itu yang akhirnya terdengar di ruangan,


''Siapa dia Ma?'' Nandin berusaha menyembunyikan isakan tangis nya dan menahan air matanya agar tidak keluar lagi.


Nandin hanya mengangguk, sebenarnya ia ingin sekali berlari dari posisi dan keadaan ini tapi keadaan nya sangat tidak mendukung wajar bila Tama memilih untuk pergi meninggalkan ruangan. Nandin tidak mengajukan pertanyaan apapun lagi pada Mamanya, hatinya masih sangat kaget menerima kedatangan mamanya ia hanya menjawab saja.


''tadi Mama ke rumah, kata tetangga kamu dibawa ke rumah sakit tadi subuh makannya Mama kesini.'' Ucap wanita itu tampak sedih menatap putrinya yang bersandar dengan kepala di balut perban.


Nandin mengatupkan bibirnya dan lagi-lagi hanya mengangguk.


''Maaf kan mama nak, mama tahu mama salah dan membuat kamu dan Tama hidup susah dan harus berjuang untuk hidup kalian.'' Lirih ibunya sebari terisak dengan mengepalkan kedua tangan nya.


Nandin tidak kuat menahan air matanya. Lalu ibunya melirik lelaki dan anak disampingnya mengisyaratkan untuk tunggu diluar. Lalu lelaki itu keluar dan menggendong anak lelakinya.

__ADS_1


Barulah Nandin membuka mulutnya, ''Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan anak-anaknya, dan kembali setelah bertahun tahun lalu meminta maaf?'' Nandin mengeluarkan semua perkataan yang membuncah di dalam pikiran nya dan juga yang memadati hatinya,


''Saat itu Mama takut sekali tidak bisa merawat kalian, karena itu mama pergi Nak.''


''Entahlah masih pantas atau tidak tapi aku akan tetap memanggil mu Mama, Mama tahu apa yang sudah kami lewati? aku berharap sekali setidaknya aku dan Tama masih punya ibu sepeninggalan Ayah." Nandin terisak sebari berbicara membuncahkan semua yang dipendamnya.


''Mama tahu kenapa Tama begitu marah? bukan karena dia membencimu Ma, dia menahan semua ocehan tetangga yang menjelekanmu' bahkan dia sering sekali berantem dengan kawannya karena mereka berkomentar jelek tentangmu. Sampai sekarang Tama menjadi anak yang pendiam bahkan tidak memiliki teman. Dia dibesarkan olehku dia sudah kelas 2 SMA Ma dan dia belum bisa bersosialisasi dengan orang lain. Aku benar-benar menghkhawatirkan ny.'' Lanjut Nandin.


Ibunya tidak tahan menahan tangis nya yang pilu mendengar kenyataan bahwa anak-anaknya melewati hidup yang amat berat. ''Mama menyesal sungguh menyesal, Sampai sampai Mama tidak berani menemui kalian, Mama tahu sekarang sudah sangat lama, tapi setiap Mama mau menemui kalian Mama selalu mundur mengingat bagaimana Mama meninggalkan kalian.'' Ucap Mama Nandin mengenggam baju yang dikenakan nya, tangisnya membuat ucapan nya samar-samar terdengar.


 "Ma aku dan Tama tidak membencimu bagaimanapun Mama tetap ibu kami, tapi Aku dan Tama mungkin masih kaget maafkan kami Ma.''


 ''Kamu memang anak yang baik dan bijaksana Nak, terimakasih sudah mendidik Tama dengan baik, bolehkah Mama memelukmu?''


 Nandin mengangguk, lalu ibunya mendekat dan memeluk gadis itu lalu mengelus kepalanya, Nandin yang larut dalam haru memeluk ibunya dan menangis, perasaan luka akibat ditinggalkan ibunya kini terbayar sudah setelah mendengar penjelas langsung. Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua tidak terkecuali ibunya,


 Setelah lama mengobrol dan menunggu Tama yang tidak kunjung balik ke ruangan Nandin membuat ibunya harus pulang dengan kecewa tanpa maaf dari Tama. ''Mama pulang dulu ya, Ragam sudah merengek ingin tidur ini juga sudah malam, besok Mama kemari lagi ya?'' Ucap ibunya sebari mengecup pipi putri yang sudah lama dirindukan nya,


 ***


 Jam sudah menunjukan pukul 22.00 Tama belum juga kembali sejak kedatangan ibunya. Tidak lama Tama masuk dan langsung memasuki kamar mandi lalu setelah itu keluar dan langsung merebahkan diri di atas sofa panjang. Mendapati sikap adiknya Nandin mengerti dan tidak berani bertanya, Nandin pun merebahkan diri dan istirahat setelah kekhawatiran nya hilang karena Tama sudah kembali.


 Dua kakak beradik itu tidur dalam suasana hati yang canggung dan kalut.

__ADS_1


 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN JUGA VOTE YA UNTUK MENDUKUNG AUTHOR BERKARYA, ILOVEYOUUUU BABY.


__ADS_2