
Nandin membuka matanya, masih dalam dekapan Aditya ia merasa tenang akan itu. Merasakan detakan jantung suaminya tepat di telinganya. Nandin sangat bahagia karena kini ia memeluk suaminya tanpa malu.
Aditya kini membuka mat8anya. ''Sayang sudah bangun?'' tanya Aditya, pada wanita yang sedang dipeluknya itu.
Nandin tiba-tiba langsung menelungkupkan wajahnya. Membuat Aditya heran. ''Kamu kenapa sayang?'' tanya Aditya kembali.
''Aku malu.'' jawab Nandin lirih, masih dalam dekapan suaminya.
Aditya tahu istrinya itu malu, karena kini ia ada dibawah selimut yang sama tanpa sehelai benangpun. ''Em sayangku.'' lirih Aditya dan mengecup kening istrinya yang menggemaskan itu.
''Kamu mandi duluan yah, aku akan menutup mataku.'' titah Nandin.
''Apa kamu tidak berniat mandi bersamaku?'' goda Aditya.
Tanpa aba-aba Aditya menggendong istrinya itu ke kamar mandi, bathub menjadi sasaran Aditya membaringkan istrinya. Pertempuran kembali dilanjutkan setelah pemanasan dan drama yang cukup memuaskan.
Nandin kini tak malu-malu lagi membalas kecupan suaminya. Bagaimanapun ini adalah sebuah kewajiban yang harus dituntaskan, sebagai seorang istri.
Sampai selesai mandi pun, Nandin tak berhenti memalingkan wajah dari suaminya itu, rasa malu nya atas kelakuannya itu mampu membuat pipinya tak berhenti berwarna merah.
''Sayang sini duduk.'' ajak Aditya pada istrinya.
''Aku kan sudah duduk.'' jawab Nandin, dengan menghadap ke meja riasnya.
''Maksudku duduk disini.'' Aditya menepuk-nepuk ranjang yang didudukinya.
Nandin menuruti titah suaminya itu. Dengan wajah yang masih merah padam, dan juga rambut yang masih dililit anduk.
__ADS_1
Aditya kembali menggeledah bagian leher istrinya itu. Tak puas atas ronde-ronde sebelumnya. ''Sayang, kita kan udah ngelakuin. Masa ngelakuin lagi!'' celetuk Nandin, membuat nafsu suaminya itu turun drastis.
''Wajar kan kita pengantin baru.'' Jawab Aditya.
''Kita baru saja selesai, nanti kita lanjutkan ya.''
Jawaban Nandin tak urung membuat Aditya berhenti melakukan aksinya. ''Sayang kita harus pause dulu okay'' Nandin mengecup bibir suaminya itu, setelah menyelesaikan kata-katanya.
Nandin langsung pergi ke ruang ganti dan memakai baju santai, lalu keluar berlari melewati Aditya dan turun menapaki anak tangga menuju lantai satu.
Aditya melihat tingkah istrinya yang takut ia terkam lagi saat itu. ''Kamu sangat menggemaskan, tunggu nanti malam sayangku. Kamu tidak akan bisa lari!'' Aditya tersenyum menyeringai.
Tingkah kedua pasanggan baru itu sangat menggemaskan.
Nandin menemukan adiknya yang sudah rapih sedang sarapan dimeja makan.''Pagi Dek?'' sapa Nandin.
''Pagi kak.'' jawab Tama.
''Bukan begitu, adek hanya belum terbiasa sarapan begini. Biasanya kan sarapan pagi sudah karbohidrat!'' jelas Tama.
''Hem, kenapa tidak minta dibuatkan nasi goreng''
''Adek tidak enak,'' jawab Tama.
Bu sari datang dari belakang. Menaruh kotak makan siang di atas meja makan. '' Ini den Tama, bekel untuk sekolahnya.'' Bu Sari menyodorkan kotak itu pada Tama.
''Untuk saya Bu?'' tanya Tama!
__ADS_1
''Iya Den.'' jawab bu Sari.
Nandin merasa senang ketika adiknya tersenyum saat diperhatikan bu Sari. Kebahagiaan tersirat di wajah Tama, meskipun ia adalah remaja yang jarang mengungkapkan perasaannya.
Aditya turun dari kamarnya. Kecupan mendarat di kening istrinya, disaksikan oleh bu Sari juga adiknya yang sedang menyantap sarapan. Tingkah suaminya itu membuat pipi Nandin lagi-lagi memerah.
Tatapan Aditya terlihat seperti ingin menerkam Nandin saat itu juga, karena telah lari dari sangkar.
''Udah sarapan Dek?'' tanya Aditya, melihat roti Tama sudah habis di atas piringnya.
''Sudah kak, adek mau berangkat.'' jawab Tama.
''Bu, tolong suruh pak Asep antar dan jemput Tama ya mulai hari ini.'' titah Aditya.
''Tidak usah kak, adek naik ojek online saja.'' jawab Tama.
''Mulai sekarang, kakak kepala keluarga. Kamu juga bagian keluarga kakak, jadi ikuti saja perintah kakak ya?'' Aditya menjawab dengan tegas, tentang keputusannya. Aditya tahu Tama memiliki karakter tidak enakan. sama seperti kakaknya.
Tama melirik Nandin, dan Nandin juga tidak menyangkal keputusan suaminya itu.
Aditya mengeluarkan uang lima lembar, dengan nominal seratus ribuan. ''Ini untuk uang jajan mu setiap minggu.'' Aditya mengulurkannya pada Tama.
''Ini untuk adek kak? tapi ini kebanyakan.'' jawab Tama, mengingat Aditya memberi lima ratus ribu untuk seminggu uang jajannya.
''Kamu kan bisa tabung, barangkali perlu sesuatu, atau ada yang harus dibayar kamu bisa bilang sama kak Nandin ya?'' ucap Aditya.
Tama mengucapkan terimakasih dan pamit pada kedua kakaknya itu.
__ADS_1
Nandin merasa sangat bahagis, melihat bagaimana suaminya itu memperlakukan adiknya.