LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
MASA LALU KELAM.


__ADS_3

Jangan lupa like, komen juga votenya ya guys. Aku mencintai kalian. Instagram Andini_818


Aditya adalah lelaki yang selalu percaya diri, ia akan memamerkan sikap tegasnya yang mempesona. Namun hari ini segurat kecemasan terlihat di wajahnya.


Perempuan berusia 45 tahun itu melangkahkan kakinya mendekat pada Aditya. Cara berjalannya yang anggun mampu mencuri setiap pasang mata, kecantikannya yang terpancar di usianya, pasti membuat iri kaum ibu-ibu.


Aditya kini mengerti dari mana Nandin mendapat kecantikan naturalnya. Ibunya memiliki kecantikan bak ratu, yang menurun pada putrinya.


"Aditya, kamu di Indonesia?" tanya ibu Nandin.


Aditya membuka kacamata hitamnya, ******* bibirnya sendiri. "Iya Ma,"


"Sudah sekian lama ya." lanjut ibu Nandin.


Aditya meneguhkan hatinya, begitu mendengar penuturan ibu Nandin. Bayangannya terbang pada saat kecelakaan itu terjadi.


***


***


***2014, sudah enam tahun kejadian itu berlalu. Saat itu juga kesalahan fatal yang terjadi, ditambah kesalahpahaman lainnya. Saat itu pak Gun, yang masih menjabat sebagai sekretaris bahkan orang kepercayaan pak Sakseno, yang tidak lain ayah Aditya.


***Dia datang, tepat setelah ayah Nandin dikebumikan, ia menawarkan kompensasi atas kecelakaan itu.


Satu koper yang bertengger tepat di depan ibu Nandin, juga Nandin yang bahkan saat itu masih remaja. Uang itu ditawarkan keluarga Sakseno untuk menutup kasus kecelakaan itu***.


Detik itu juga, Nandin mengerti dan tahu siapa yang menyebabkan ayahnya meninggal. Kecelakaan yang merenggut separuh kehidupannya***.


"Saya perwakilan PT.hope, atas nama Aditya Sakseno. Memohon maaf sebesar-besarnya atas kecelakaan tidak sengaja, yang dilakukan tuan muda kami. Sebagai rasa bela sungkawa kami ingin memberi sedikit rasa bersalah, dan semoga kasusnya bisa dimaafkan." Ucap pak Gun, saat itu! Tepat didepan wajah Nandin yang masih sembab. Dan bahkan belum sempat tangisnya reda.


***Dengan pasti Nandin mengambil koper didepannya, berlari. Ia langsung mengambil kunci motornya, tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


Ia mengendarai kendaraannya itu, berhenti didepan sebuah rumah besar. Dengan penjagaan sekurity pribadi."maaf mau bertemu siapa?" ucap sekurity itu***.


"***Pak Sakseno dan putra semata wayangnya." jawab Nandin pasti, umurnya masih 16 tahun saat itu, tapi suaranya lantang.


Sekurity itu belum membukakan pagar, sampai akhirnya ia mengambil gagang telpon, dan menelpon ke dalam rumah. Penjagaan yang ketat dan tidak sembarang menerima tamu. "Sore, pak. Maaf pak ada seorang gadis. Ingin bertemu bapak dan " suara sekurity itu terpenggal lalu menutup telponnya***.


"***Silahkan masuk Non, bapak menunggu " jawab sekurity itu. Sebari membukakan pintu.


Nandin melangkahkan kakinya dengan gontai, saat beberapa langkah ia sampai didepan pintu rumah mewah itu. Ia memutuskan menghapus air matanya. Langkahnya menjadi tegap***.


***Didorongnya pintu dengan ketinggian mencapai dua setengah meter itu. Nandin menapaki kakinya di bagian dalam rumah yang terlapisi marmer.


Aditya tampak duduk, dengan kepalanya yang terluka. "Nandin" Aditya kaget! Mendapati tamunya itu.


"Tidak cukupkah kamu, setelah membunuh ayahku. Kamu menghina keluargaku." Teriak! Nandin***.


"***Apa maksudmu, aku tidak mengerti" Aditya berdiri, dengan memegangi tangannya yang juga disangga. Karena patah.


Aditya melirik kedua orangtuanya, mereka bilang yang tertabrak baik-baik saja. Dan yang lebih membuatnya kaget. Korban adalah Ayah Nandin***.


***Aditya memegangi dadanya, keringat dingin bercucuran dari kepalanya.


Nandin melempar koper berisi uang itu, membuat isinya berhamburan. "Saya kembalikan penghinaan kalian. Kalian yang tidak tahu artinya meminta maaf dan juga meminta tolong." Nandin berbicara dengan pasti. Membuat Aditya semakin syok***.


"**Apa yang kamu lakukan gadis kecil. Uang ini cukup untuk menopang kehidupanmu." jawab pak Sakseno dengan nada marah.


"Kehidupan saya tidak berasal dari uang-uang ini. Kehidupan saya tidak didasari pada nilai kertas-kertas ini. Kalian yang mengambil kehidupan saya, separuh hidup saya. Dan hanya mampu menggantinya dengan nominal." Nandin tak kalah emosi, ucapan nada tingginya membuat Aditya tidak berkutik**.


"Iya, kami menyelesaikannya dengan uang. Bukankah semua orang menginginkannya. Apa nominal yang kami beri kurang?" jelas, pak Sakseno!


Nandin merasa sangat prihatin, atas rasa kemanusiaan pebisnis itu. "Percuma rasanya saya berbicara dengan orang yang susah dimanusiakan." ucapan gadis itu, menusuk harga diri pak Sakseno.

__ADS_1


"Bapak bisa membeli semua yang bapak mau, dan saya harap bapak mengerti cara meminta maaf." Nandin membalikan tubuhnya, dengan langkah tegap meninggalkan rumah itu.


***Sesampainya diluar rumah, Nandin menghembuskan nafasnya.


Ia menahannya sedari tadi didalam ruangan itu. Nandin berjalan kembali lalu mengendarai motornya***.


***Sesampainya di rumah pak Gun masih ada. "Non, kopernya dimana?" pak Gun, penasaran karena Nandin tidak membawa koper yang ia berikan.


Seketika Nandin langsung berteriak histeris, membanting semua barang disekitarnya. Tangisnya menjadi-jadi. Ibunya juga beberapa kerabat memegangi dan menenangkannya***.


***Sampai hari demi hari, Minggu demi Minggu berlalu. Ibunya memutuskan membawa Nandin ke rumah sakit. Dan disanalah Nandin divonis mengalami amnesia DISOSIATIF.


Karena saat ditanya nama, bahkan dia tidak ingat penyebab yang membuat ayahnya meninggal***.


***


***


Aditya memandang jauh ke belakang, waktu dimana ia juga harus tinggal di Amerika. Kesalahannya itu membuatnya bahkan tidak bisa tidur.


Saat itulah Aditya meminta sepupunya yang bekerja di rumah sakit. Untuk merawat Nandin. Sepupunya yang tidak lain adalah Dokter Riko.


***


***


Melihat Aditya yang mematung, ibu Nandin menyadarkannya. "Dit." hal itu membuat Aditya tersentak kaget.


Jangan lupa like dan komen ya.


next di episode berikutnya ok.

__ADS_1


Andini_818


__ADS_2