LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
PERTANYAAN KONFLIK !


__ADS_3

Beberapa tindakan tidak bisa di tunda lagi, beberapa tindakan tidak bisa hanya di pendam saja , harus ada pengambilan keputusan agar tidak percuma dan sia sia lalu kecewa dikemudian.


Perihal perasaan yang sedang gundah ia lebih peka lebih sulit dimengerti bahkan semua sastra yang ia baca atau hanya sekedar status WA orang lain mungkin terasa mengolok olok nya.


Aditya menerapkan sosial distance kepada Nandin demi kebaikan hati nya, setelah sekian lama ia menunggu gadis itu ingat akan dirinya sekarang ia jatuh lagi ke pelukan orang lain bukan kembali padanya, hatinya mulai sedikit belajar untuk meng ikhlaskan tapi jauh di hati terdalam ia sudah berjanji akan menjaga Nandin sampai kapan pun.


Matahari baru saja hilang dari pandangan hanya sisa sisa senja yang mulai menghitam menuju malam dan semilir angin yang mulai dingin menusuk permukaan kulit.


"Assalamualaikum," Seseorang datang menyapa Nandin, laki laki yang di rindukan nya sedari pagi, karena sibuk di meja oprasi di Rumah Sakit.


"Walaikumsalam," Nandin menjawab dengan nada manis nya.


"Rindu?," Dokter Riko langsung saja melemparkan pertanyaan menggoda nya.


"Tidak, biasa saja," Nandin menjawab tanpa ekspresi.


"oh begitu kirain rindu makanya mas Dateng kesini, karena ada 20 panggilan tak terjawab tadi khawatir makanya mas langsung kesini,Yasudah kalo enggak rindu mas pulang ya?," Lanjut Dokter Riko.


"Ah mas aku kan becanda," Jawab Nandin memegangi kemeja yang dikenakan Dokter Riko.


Sikap nya yang manis membuat Dokter Riko menahan senyum nya karena tingkah lucu kekasih nya itu, yang kalo ngambek suka manja.


"Sudah makan,?" Tanya Dokter Riko kemudian.


"Belum mas mau makan bareng?," Jawab Nandin.


"Kamu ngajak mas dinner?," Dokter Riko


"Ya sudah kalo mas maksa," Nandin


Entah siapa yang mengajak entah siapa yang di ajak, hubungan kedua insan ini sungguh ringan dan menyenangkan, tidak saling menyalahkan tidak saling memberatkan.


Nandin benar benar terlihat seperti gadis pada umum nya yang bahagia sekali memiliki kekasih, dan dokter Riko jelas sangat bahagia karena penantian nya selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang manis.


Akhir nya Nandin langsung berganti pakaian, Dokter Riko yang masih memakai baju dari rumah sakit bahkan tidak pulang dulu untuk berganti pakaian, Nandin gadis yang lugu sehingga ia juga hanya memakai pakaian biasa tidak yang macam macam.

__ADS_1


"Mas kita mau pergi kemana?," Ucap Nandin.


"Mas belum tau sayang mas baru pulang kerja pakai baju masih bau asem, udah jalan sama cewe cantik ajah," Jawab Dokter Riko.


"Ah may, aku kan juga hanya pakai pakaian biasa agar orang tidak mengira kita dinner bukan kah terlihat natural lebih enak dilihat," Nandin memberikan pernyataan yang membuat Dokter Riko percaya diri dan melempar kan senyum lesung pipi nya ituh.


"Mas boleh enggak aku yang milih tempat makan nya," Nandin mengajukan pertanyaan.


"Boleh dong sayang, memang mau makan dimana," Jawab Dokter Riko.


"Mau makan sate di angkringan ajah di Deket jalan sabang ada tukang sate enak mas," Nandin antusias menjelaskan.


"Ok kita OTW sana, demi tuan putri," Dokter Riko langsung mengiyakan dengan senyuman sedikit nakal dan mengedipkan mata nya.


Sederhana setiap perlakuan yang biasa dan datar datar saja tidak ada pertengkaran memang, sesuai harapan tapi rasanya sedikit tidak mengguncang, entah apa yang akan dilewati dua insan ini kedepan nya.


Akhir nya mereka memarkirkan mobil nya di pinggiran jalan yang ternyata memang terdapat banyak penjual kuliner, bukan restoran mewah hanya pedagang yang mendirikan tenda dengan meja kayu dan kursi panjang kayu, terdapat juga lesehan.


Nandin pun menghampiri bapak penjual sate ituh dan langsung memesan,


"Baik non silahkan tunggu ya sebentar," Jawab bapak yang jualan sate.


Dokter Riko pun mengambil posisi meja yang dibawah, yang berarti lesehan.


"Mau duduk disini," Ucap Nandin menyadari Dokter Riko mengambil posisi duduk di bawah.


"Iya, enggak apa apa kan," Jawab Dokter Riko.


Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu datang juga, 2porsi sate daging sapi dengan lontong.


"Ye akhir nya datang juga, terimakasih pakde," Ujar Nandin antusias kepada bapak tukang sate yang datang mengantar kan pesanan nya.


"Kamu suka banget sate ya," Tanya Dokter Riko menyadari kekasih nya sangat gembira.


"Iya, ini akan menjadi makanan favorit ku kan kan ini makanan pertama kita di dinner pertama," Nandin menjelaskan sebari mengambil satu tusuk sate lalu memasukan nya ke mulut nya.

__ADS_1


Dokter Riko membalas senyum lalu ikut menyantap makanan nya. sekaligus memperhatikan Nandin yang sedari tadi belum menghabiskan 1 tusuk satenya itu dan masih mengunyah nya.


"Sayang, kamu masih suka sama Aditya?," Dokter Riko bertanya.


Nandin berhenti mengunyah satenya menatap Dokter Riko dengan seksama, tidak mengucap apapun hanya menundukkan kepalanya sebari menaruh tusuk sate.


Dokter Riko menyadari kesalahan nya atas pertanyaan nya kepada Nandin, Nandin diam tak bergeming hanya melanjutkan makan nya saja namun sedikit. Riko merasa bersalah sekali kepada Nandin.


"Mas sudah selesai makan nya," Nandin bertanya setelah melihat Dokter Riko berhenti makan walau tersisa sedikit lagi di piring nya.


"Sudah, mas sudah kenyang," Jawab Dokter Riko.


"Ya sudah ayo kita pulang," Nandin melanjutkan ucapan dengan nada datar dan lemas sekali.


"Loh kan makanan nya masih banyak," Dokter Riko bertanya lagi karena piring Nandin masih penuh dan ia hanya makan sedikit sekali.


Dokter Riko berniat membersihkan noda sambal sate di ujung bibir Nandin, tapi ketika Dokter Riko menyentuh nya Nandin langsung menepis tangan Dokter Riko. Tidak ada jawaban selain Dokter Riko yang memperhatikan Nandin yang sikap nya berubah.


Keduanya akhir nya pulang setelah Dokter Riko membayar makanan mereka,


Di perjalanan pulang ternyata rintik air mulai menetes, tidak besar hanya rintik gerimis namun terlihat jelas dari balik kaca dalam mobil. Tidak ada percakapan sama sekali, hanya Dokter Riko yang mencuri curi pandang melirik Nandin, dan Nandin yang hanya melihat lurus ke depan dengan menyangga kepalanya dengan tangan kiri nya tanpa suara.


Semua nya menjadi canggung, padahal suasana cukup mendukung untuk aksen romantis.


Sesampai nya di depan rumah Nandin masih tidak bergeming.


"Mas hati hati ya dijalan," Nandin berucap datar sebari langsung membuka sabuk pengaman nya.


Menyadari tingkah aneh kekasih nya Dokter Riko langsung memegang tangan kekasih nya yang sedang membuka sabuk pengaman.


"Sayang kamu kenapa?," Dokter Riko menatap Nandin yang juga menatap matanya dengan jarak sangat dekat.


" Enggak papa, mas hati hati ya dijalan," Nandin menjawab pertanyaan dengan datar dan langsung keluar mobil padahal diluar hujan gerimis.


Dokter Riko memikirkan tentang apa yang membuat kekasih nya berubah mood sampai seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2