
Sesampainya di rumah Nandin langsung merebahkan diri karena mendapati Tama sudah tidur. Menatap langit langit membuat Nandin berpikir banyak tentang apa yang menimpa hidup nya, membayang kan sampai terlelap.
Suara alunan musik mengalun merdu dari Hp Nandin, membuat gadis itu meraba raba posisi dimana benda persegi panjang itu berada, masih dengan posisi mata terbuka sedikit Nandin menggeser gambar telepon hijau nya ke atas, dan menaruh nya di telinga kiri nya.
"Hallo ini siapa" Ucap Nandin.
"Sayang kamu hapus nomor aku" Suara panik terdengar di ujung telpon nya. Menyadari suara siapa yang menelpon nya pagi pagi langsung membuat Nandin terperanjat sampai terguling dari kasur nya.
"Ya ampun sayang.. Aaaaw" Jawaban Nandin di ikuti kata meringis saat dia terjatuh.
"Kamu kenapa?."
"Aku masih tidur sayang"
"Ya ampun terus kamu kenapa meringis"
"Aku jatuh dari ranjang" Nandin berucap jujur.
Seketika tawa pecah dibalik telpon nya, Dokter Riko terdengar tertawa tanpa henti.
"kamu nge tawain aku."
"Kamu sih lucu, yasudah sana mandi udah siang ni, aku suruh Aditya jemput kamu ya aku gak kuat rindu,"
"Kenapa harus nyuruh Aditya kan aku bisa kesitu sendiri."
"Enggak apa apa sekalian aku suruh dia beli bubur, bubur Rumah Sakit enggak enak."
"Tapi kan itu demi kesehatan, gak usah beli bubur ya nanti aku yang siapin ajah Ok."
"Siap cinta, aku tunggu ya"
"Ok."
Telpon pun di matikan Nandin langsung terbangun dari posisi tengkurap nya itu, berjalan ke luar kamarnya untuk mandi masih dengan muka bantal , rambut singa, dan berjalan sebari mengucek mata nya.
"Dek kakak pakai kamar mandi duluan ya mau ke Rumah Sakit"
Nandin berjalan ke ruang tamu karena terdengar suara televisi disana, Dia mengira itu adalah Tama adiknya ternyata Aditya yang sudah stanby untuk menjemput nya ke Rumah Sakit. Menyadari itu Nandin langsung salah tingkah dan menutupi wajah nya.
"Kamu kenapa"
"Kamu kok udah disini?"
"Ya mau jemput kamu"
__ADS_1
Nandin langsung melirik Jam yang ternyata sudah siang,
"Kak sana mandi" Tama mengagetkan Nandin yang sedang malu malu di depan Aditya.
Tama datang dari dapur membawa segelas teh untuk Aditya, Nandin pun memukul kepalanya sendiri lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai Nandin dandan memilih baju ini dan itu padahal orang pertama yang akan melihat nya kan Aditya bukan Dokter Riko, dia menjadi salah tingkah sedemikian rupa.
Akhir nya dia keluar dengan memakai kaos putih tanpa lengan dan celana jeans hitam yang membalut kedua kaki jenjang nya, sederhana namun terlihat modis dipakai nya, rambut yang di gerai Dandi taruh si belakang telinga membuat gadis ini bak bunga desa, Aditya terpaku memperhatikan wanita di depan nya yang tidak lain adalah mantan kekasih nya tetapi ia segera menghilangkan tatapan nya itu.
"Sudah selesai?" Aditya akhir nya bertanya.
"Iya."
"Dek kakak pergi dulu ya, nanti kamu makan beli gofood ajah ya?." Ujar Nandin pada Tama.
"Iya kak." Saut Tama.
Nandin dan Aditya pun langsung pergi ke Rumah Sakit tempat Dokter Riko berada, dijalan Nandin hanya mengotak ngatik HP nya membalas chat dari kekasih nya yang sedari tadi berdenting berbunyi.
Sesampai nya di Rumah sakit Nandin langsung masuk ke ruangan Dokter Riko di rawat sedangkan aditya seperti biasa hanya duduk di ruang tunggu.
"Assalamualaikum?."
Nandin rupa nya tak bisa menahan rindu nya, mendapati kekasih nya duduk di ranjang pasien membuat nya langsung memeluk lelaki itu.
Masih di dalam dekapan nya Nandin membuncah kan semua kerinduan nya.
"Cepet sembuh ya aku kepikiran terus"
Menyadari kekhawatiran di diri kekasih nya Dokter Riko menepuk punggung wanita yang sedang memeluk nya itu.
"Iya sayang jangan pikiran ya aku enggak apa apa kok."
"Janji cepat sembuh ya." Nandin melepaskan pelukan nya sebari menatap wajah kekasih nya itu.
Dokter Riko tidak berucap iya atau apapun, dia hanya menyunggingkan senyum di bibir nya.
"Sudah makan?"
"Belum aku kan nunggu di siapin" Dokter Riko menggoda.
Nandin yang langsung mengerti segera mengambil jatah makan dari perawat untuk kekasih nya itu karena jadwal minum obat, dan segera menyuapi nya, suapan demi suapan tampak melesat dengan baik di cerna Dokter Riko saat disuapi kekasih nya itu.
Semua makanan yang di cerna nya tampak sudah habis.
__ADS_1
Kemudian Dokter Riko menyilakan kaki di ranjang nya sebari duduk, dan menyuruh Nandin juga naik ke atas ranjang nya.
"Sini duduk disini sayang."
Nandin hanya menuruti perintah dari kekasih nya itu untuk duduk berhadapan di atas ranjang pasien itu.
Riko memegangi tangan kekasih yang sedang menatap nya itu lalu memberi sebuah kartu. "Anggap ini hadiah dari aku yang tidak bisa mengunjungimu setiap hari beberapa hari belakangan ini ya."
Nandin menolak dan memberikan kembali kartu itu pada Riko
Riko tersenyum. Dia menatap Nandin berusaha menyampaikan kesungguhan. "Sayang tidak apa apa, kamu berhenti bekerja dan perlu untuk sekedar jalan jalan dan memenuhi kebutuhan mu dengan Tama."
Nandin menangis dan memeluk Riko, melihat kesungguhan dan Cinta Dimata nya membuat Nandin sangat disayangi.
"Sayang ini kartu baru Password nya tanggal ulang tahun mu."
"Bagaimana kamu tahu ulangtahun ku mas?."
"Aku Dokter mu sudah pasti tahu ulangtahun pasien nya."
Nandin tersenyum malu malu mendengar penuturan kekasih nya itu, Nandin menyadari keringat bercucuran di kening Dokter Riko membuat nya sedikit panik menyadari itu.
"Sayang, kamu kenapa? pusing?." Nandin cemas dan langsung memegangi kening Dokter Riko.
"Aku enggak apa apa, aku tidur sebentar boleh?."
Nandin mengiyakan dan membenahi posisi kekasih nya itu, Dia mengambil tisu untuk mengelap keringat kekasih nya yang bercucuran, padahal ruangan sudah dihidupkan AC sampai 18 Celcius.
Dokter Riko memejamkan matanya, sebari tangan nya dipegangi Nandin. Nandin mulai gundah perasaan nya, melihat kekasih nya tertidur pulas membuat rasa panik nya meninggi. Dia keluar untuk menenangkan diri karena takut membangunkan Dokter Riko, air matanya mengalir sebari berjalan keluar meninggalkan kamar rawat inap itu.
Dia terduduk lesu begitu keluar dari ruangan itu, dan diruang tunggu ada Aditya yang melihat gadis itu menangis.
"Din, are you okay?." Aditya bertanya sebari memegangi sebelah pundak gadis itu.
Nandin menggeleng tak berucap, seraya air mata nya masih menetes.
"Riko kenapa?" Aditya panik seraya melihat keadaan Riko dari kaca kecil di pintu kamar itu.
"Tidak apa-apa, dia katanya ingin tidur sebentar, tapi keringat nya begitu banyak tiba tiba aku sakit melihat nya seperti itu."
"Riko enggak ngomong apa-apa kan?."
Pertanyaan Aditya janggal di telinga Nandin, tapi Nandin hanya menggeleng lemah.
Jangan lupa like ya biar author semangat bikin episode lanjutan nya.. i love you :*
__ADS_1