LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
KEHADIRAN RIKO !


__ADS_3

Usai menyelesaikan makan malam, Aditya memanjakan istrinya dengan mengajak menonton film, hotel yang disinggahinya rupanya menyediakan fasilitas bioskop pribadi. Nandin begitu menikmati kejutan demi kejutan yang diberikan Aditya.


Dingin diruangan itu membuat Nandin memegang lengan atasnya, Aditya mengetahui bahwa istrinya tidak kuat jika berada diruangan dingin tanpa selimut.


Jaz yang dikenakan Aditya dalam sekejap berada di atas paha Nandin untuk menyelimuti bagian bawah kakinya. "Terimakasih sayang." ucap Nandin, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.


Film romantis yang sedang diputar pun, begitu sangat dinikmati mereka berdua.


***


***


Dua jam berlalu film pun selesai ditonton, pasangan itu keluar dan memutuskan mengakhiri kencan romantis mereka dan kembali ke kamar hotel.


Setelah keduanya sampai, Nandin melupakan telepon genggam yang ia gunakan. Melihat Aditya yang tampak kelelahan Nandin membantu membukakan jaz yang dikenakan Aditya. "Sayang aku lupa handphone ku, aku ambil dulu kebawah ya. Kamu istirahat saja tidak apa-apa." ucap Nandin.


Aditya melihat istrinya, namun rasa lelah mengalahkannya. "Kamu yakin bisa sendiri?" jawab Aditya.


"Iya, tidak apa-apa. Cuci wajah dulu ya baru istirahat sayang." lanjut Nandin.


"Okay. hati-hati ya."


Nandin mengangguk lalu berlalu meninggalkan kamar.


Aditya membasuh wajahnya, dan setelah itu langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur.


Nandin turun dari lantai kamarnya, dan langsung menuju restoran yang tadi ia kunjungi.


Sebagian lampu berubah warna, entah itu sebagian dimatikan karena sudah sangat larut malam, atau memang diubah ke mode warm.


Nandin dengan pasti melangkahkan kakinya, menuju meja kasir. ." sorry, I left my phone in the VIP room." ucap Nandin pada seorang pegawai disana.


"orders on behalf of aditya." jawab pegawai itu.


NAndin mengangguk dan pegawai itu, memberikan handphone milik Nandin.


"Thankyou." lanjut Nandin, begitu menerima handphone nya.


Nandin pun meninggalkan restoran itu. Begitu akan menuju lift Nandin menghentikan langkahnya. Seorang lelaki didepannya berdiri menatap dirinya. Lelaki yang sangat familiar.


"Mas Riko." bibir gadis itu mengucapkan nama mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Nandin!." jawab lelaki itu, yang tak kalah terpaku melihat gadis didepannya.


"Mas ko disini? bukannya kata Aditya mas pergi ke Australia?"


"Aku mengganti jadwal penerbangan ku. Aku sampai tadi pagi." jawab Dokter Riko, sambil menggaruk kepalanya.


Nandin memikirkan jawaban Dokter Riko, apa mungkin lelaki yang dilihatnya di kabin bissnis di pesawat adalah Riko, berarti mereka pergi satu pesawat.


Dokter Riko mendekat ke arah Nandin. "Aku tidak mengikutimu, aku bahkan tidak tau kamu pergi kesini." ucap Dokter Riko.


Nandin mengangguk pelan. "Iya aku tahu, aku hanya tidak menyangka Mas disini." jawab Nandin.


"Ini sudah larut malam kenapa kamu sendirian?"


"Handphone ku ketinggalan, jadi ku ambil. Aditya kecapean jadi dia tidur." jawab Nandin.


"Din, boleh tidak minta waktu mu sebentar?" tanya Dokter Riko.


Nandin melihat jam di handphone nya ini sudah sangat malam, apalagi Aditya sedang tidur. Tetapi sangat tidak enak juga jika menolah permintaan Dokter Riko pikir gadis itu.


Akhirnya Nandi mengangguk, setelah memikirkan beberapa saat. "Tapi jangan lama ya Mas, aku takut Aditya khawatir." ucap Nandin.


Dokter Riko pun menyambut dengan senang. "Iya hanya sebentar." jawab Dokter Riko meyakinkan.


Dokter Riko, memilih ruangan VVIP untuk digunakannya. Nandin merasa tidak nyaman karena ruangan itu cukup tertutup.


Tapi mengingat Dokter Riko hanya akan mengajaknya sebentar, maka Nandin pun kembali memasuki ruangan yang digunakannya pula tadi bersama Aditya.


"mau makan apa?" tanya Dokter Riko.


"Aku tadi sudah makan Mas, terimakasih. Minum saja." jawab Nandin.


lalu Dokter Riko memesankan dua gelas minuman, yang harganya saja bisa seharga handphone dengan ram 2 GB pada umumnya.


Melihat Nandin yang gusar, karena memandang terus handphone nya. Dokter Riko langsun ke intinya.


"Din, Aditya sudah cerita?" ujar Dokter Riko.


"Cerita apa Mas? tentang Mas sekolah lagi di Australia?" tanya Nandin.


Dokter Riko mengerti, dari jawaban Nandin. Tidak mungkin Aditya memberikannya kejujuran. "Oh iya." jawab Riko.

__ADS_1


"Iya Mas kemarin cerita. Oyah Mas, pergi sama Seila?" tanya Nandin.


Sorot mata Dokter Riko berubah agak masam. "Bagaimana bisa kamu menanyakan wanita lain, ketika di mataku hanya ada kamu." Lirih Dokter Riko dalam hati.


"Aku tidak bersama Seila lagi." jawab Dokter Riko.


Jawaban itu sontak membuat Nandin bergidik, mengingat pernikahan mereka hanya berbeda seminggu. "Mas, jangan becanda." ucap Nandin.


"Aku serius." lanjut Riko.


"Why?" tanya Nandin. Dengan sorot mata penuh ketulusan.


"Apa kamu akan dengar pernyataan ku?" jawab Riko.


"of course." jawab Nandin.


Dokter Riko menyela nafas panjang. Lalu mengambil kata demi kata. Menceritakan penghianatan dan kebohongan Seila, juga jebakannya. Nandin mwnyaring semua ucapan Dokter Riko, apakah ini iya atau tidak. Lalu bagaimana mungkin Seila melakukan ini pada lelaki itu.


Sorot mata juga ucapan Dokter Riko, membuat Nandin bergidik. Dan juga percaya. Rasa bersalahnya, juga tidak percayanya dulu kepada lelaki itu, membuat Nandin merasa bersalah.


"Aku percaya, sama Mas." jawab Nandin.


Tatap Dokter Riko lalu terangkat. "Lalu kenapa dulu kamu tidak memberiku kepercayaan ini?. Aku menginginkan ini saat itu Din!." ucap Dokter Riko.


Nandin menatap sedikit kekecewaan di mata lelaki dihadapannya. Dokter Riko bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba dan sesikit paksaan, ia melesatkan ciumannya di bibir gadis itu.


Nandin dengan reflek mendorong tubuh dokter Riko. "Mas!." Nandin berteriak, begitu mendorong tubuh lelaki itu.


Tatapan kaget bercampur marah. Nandin langsung melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan itu.


Dokter riko tersadar, dan menyentuh bibirnya. Lalu melihat Nandin yang sudah pergi dari hadapannya. "Astaga, apa yang telah aku lakukan." Dokter Riko, menyadari apa yang telah dilakukannya pada Nandin.



Kini ia hanya mampu menyilangkan tangannya, dengan sejuta pikiran yang menyergap. Tentang Nandin, yang mungkin mulai besok akan membencinya.


Tidak besok! Nandin mungkin mulai membencinya mulai detik ini. Bagaimana jika Nandin bercerita pada Aditya tentang ini. Lagi-lagi itu menjadi pikiran Dokter Riko.


Sulit sekali mengontrol emosinya tadi. Sehingga tubuh tidak konsentrasi dan reflek melakukan kemauannya.


Nandin kembali kedalam kamarnya. Menaruh handphone yang baru diambilnya itu di meja samping ranjang. Melihat suaminya tertidur pulas, membuat Nandin sangat sakit kepala memikirkan apa yang telah dilakukan Dokter Riko.

__ADS_1


Kamar mandi menjadi sasarannya, membuka gaun yang digunakannya, lalu berkaca dan menggosok bibirnya dengan air mengalir di kran.


Nandin tidak habis pikir, tentang apa yang dilakukan Dokter Riko. Bagaimana mungkin lelaki yang sangat dihormatinya itu, kehilangan akal sehatnya. Nandin sekarang adalah istri Aditya yang tidak lain adalah sepupunya!


__ADS_2