
Tama kembali ke ruangan Nandin, dan melihat keseluruh area dan tidak mendapatkan seseorang yang dicarinya. "Kak, kak Adit kemana?"
"Udah pulang dia, kenapa?" Jawab Nandin.
"Oh tidak apa-apa."
Malam pun menyapa dan Tama tidur duluan karena besok ia harus berangkat pagi ke sekolah. Sedangkan Nandin menghabiskan waktu nya untuk menatap layar handphone nya sebari tersenyum. Dua pesan masuk bersamaan di handphone nya dari Dokter Riko juga dari Aditya.
"kamu tidur gih, sudah malam, kan harus istirahat juga" , isi pesan Aditya.
Menyadari bahwa Aditya memang harus berangkat pagi juga Nandin memutuskan menyudahi chat nya bersama lelaki itu. "*Iya kamu juga istirahat ya" Balas Nandin
"Ok, mimpi indah yah Bey, i love you💕*" Balas Aditya tidak lupa dengan emoticon hati di akhirnya.
"I love you to💕" ,Senyuman tersungging di bibir gadis itu bebarengan pesannya terkirim.
Chat kedua insan yang sedang jatuh cinta itu pun berakhir. Suara handphone Nandin berbunyi lagi, kali ini chat dari Aditya yang sedari tadi di balas singkat oleh Nandin.
"Kamu tidur gih, biar besok bisa pulang, istirahat nomor satu." Isi pesan Dokter Riko.
"iya Mas, baik" Balas Nandin lagi-lagi singkat tanpa embel-embel lainnya.
Nandin pun meletakan handphonenya. Dan pergi ke alam mimpi dengan sejuta perasaan indah yang memenuhi hatinya.
Pagi sudah tiba, Tama sudah rapih dengan pakaian sekolahnya, setelah membenahi semua barang milik Kakak nya dan memasukannya ke dalam koper. "Kak adek berangkat dulu ya, nanti adek langsung pulang ke rumah kan?"
"Iya Dek, gak usah kesini lagi kakak kan dijemput Mas Riko pukul satu siang. Jadi kamu langsung pulang ke rumah saja." Ucap Nandin.
"Baiklah kalau begitu, adek berangkat ya kak" Ucap Tama lalu mencium punggung tangan Kakak nya.
Tama meninggalkan ruangan kakak nya untuk pergi ke sekolah. Nandin menatap Handphone nya berkali-kali lalu terdapat notifikasi yang membuatnya tersenyum.
Satu pesan diterima
Aditya
"*Aku sudah sampai Yogjakarta, hampir saja aku ketinggalan pesawat karena ternyata penerbangan nya jam 05.30 tapi Tika menyuruhku datang pukul 05.00"
"syukurlah, untunglah penerbangan nya lancar, kamu sudah di tempat meeting*?," Balas Nandin.
"belum aku baru saja landing, ini masih di area bandara" Balas Aditya.
Nandin tersenyum membaca balasan pesan dari Aditya yang buru-buru menghubungi padahal dia baru sampai di Yogjakarta. Penerbangan Jakarta ke Yogyakarta hanya membutuhkan penerbangan sekitar 1 jam saja Aditya berharap meeting nya cepat selesai dan bisa kembali ke Jakarta secepat mungkin.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu, semoga lancar ya fighting 💕" balas Nandin dengan emoticon love.
"Thankyou💕" Balas Aditya dengan emoticon love juga.
Suster datang ke ruangan Nandin untuk mencabut infusnya. "Siang mba hari ini sudah bisa pulang ya pukul satu siang ya, karena harus ambil darah dulu untuk test terakhir" Ucap Suster.
Test yang akan dijalani Nandin mungkin hanya test wajib atau formalitas untuk memastikan pasien baik-baik saja, walau pun Nandin hanya menderita luka di atas kepalanya.
Nandin hanya mengangguk membiarkan Suster itu melakukan prosedurnya, lalu ia berganti pakaian karena akan siap-siap di jemput Dokter Riko.
"ah aku rindu sekali memakai baju biasa,setelah berhari-hari memakai baju pasien itu" Lirih Nandin dalam hati seraya mengganti pakaiannya.
*** Jam di dinding sudah menunjukan pukul 12.30.
Nandin mengambil telepon genggam nya untuk menghubungi Dokter Riko. Tetapi operator yang menjawab bahwa nomor sedang tidak bisa dihubungi.
Nandin berpikir positif bahwa mungkin Dokter Riko sudah dijalan. Waktu semakin berputar sehingga seharunya Dokter Riko sudah menjemputnya tetapi bahkan pukul 13.20 Dokter Riko belum bisa dihubungi.
Nandin memutuskan pulang sendiri menggunakan Taxi saja. Dia berjalan ke luar dari ruangannya membawa koper berisi pakaiannya selama di rumah sakit. "Mba sudah mau pulang ya?" Ucap suster yang berjaga melihat Nandin keluar.
"Iya Sus, terimakasih telah merawat saya" Jawab Nandin.
"Sudah di jemput?" Tanya Suster itu.
Karena rupanya Aditya membayar semua perawatan Nandin kemarin, jadi Nandin bisa langsung pulang tanpa kendala.
Gadis itu keluar dari rumah sakit dan menunggu tadi di depan lobby tapi rupanya rumah sakit itu terlalu luas, dan tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk memanggilkan Taxi dari gerbang depan. Akhirnya Nandin berjalan ke pinggir jalan raya untuk mendapatkan tadi dengan menggeret kopernya juga.
Kepalanya terasa berat karena sinar matahari yang menyengat . Lalu ia duduk di halte depan rumah sakit itu. Berkali-kali mencoba menghubungi Dokter Riko tapi tetap tidak mendapat jawaban. Nandin menelpon Tama karena tidak tahan dengan sakit kepalanya.
"*Dek, kamu sudah di rumah?" Tanya Nandin begitu telpon kepada adiknya tersambung.
"adek ada feat kak mengejar ketinggalan kemarin, jadi pulang telat. kakak sudah sampai*?" Jawab Tama mengira kakak nya sudah sampai di rumah.
"*Mas, Riko belum jemput kakak, kakak di depan rumah sakit dek panas sekali , kepala kakak pusing" Lanjut Nandin.
"Kakak sudah telpon mas Riko?"
"Sudah, tapi tidak aktip handphone nya"
"Jadi kakak gimana, adek khawatir*" Tama mulai kesal.
"Tidak apa-apa, kakak lagi nunggu Taxi ko. kamu belajar saja yang benar ok." Jawab Nandin takut adiknya tidak fokus.
__ADS_1
Tama tetap tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya kepada kakak nya, ia berusaha menghubungi Dokter Riko tetapi nihil, akhirnya Ia menghubungi Aditya.
"Hallo, kak Adit?" Ucap Tama begitu telpon tersambung.
"iya Tam, ada apa?" Jawab Aditya.
Tama baru ingat bahwa Aditya sedang pergi ke Yogjakarta. "*eh maaf kak aku lupa kalau kakak di luar kota"
"Kakak sudah di Jakarta lagi dek, sekarang di bandara baru saja tiba. Urusan kakak selesai dengan cepat makanya kakak segera terbang lagi"
"Oh begitu kak*," jawab Tama, merasa tak enak hati jika merepotkan.
"Ada apa Tam?" Tanya Aditya
Tama sebenarnya tidak enak hati meminta tolong Aditya, barangkali ia cape karena baru tiba dari luar kota. Tetapi rasa khawatir pada Kakak nya membuatnya tidak bisa berpikir lagi. "Kak, boleh minta tolong?" Ucap Tama,
"Tentu saja Tam, minta tolong apa?" Jawab Aditya.
"Kak Nandin belum ada yang jemput, dia sendirian di halte depan rumah sakit, adek masih disekolah ada test gak bisa ditinggalin." Ucap Tama.
Aditya melotot mendengar ucapan Tama, dengan Nada panik dia langsung berbicara nada tinggi juga di telpon itu. "*Riko gak jemput kakak?"
"nomor mas Riko tidak bisa dihubungi,"
"Ya udah, kak Adit langsung jemput kakak ya." **Dengan nada panik Aditya mematikan telponnya***.
Aditya berlari di bandara menuju mobil jemputan nya.
"Siang pak, langsung pulang ke rumah?" Ucap supir yang menjemput Aditya.
"Tidak pak, langsung ke rumah sakit." Aditya berbicara panik sebari membuka pintu mobilnya.
Supirnya langsung mengambil koper yang dibawa Aditya dan memasukannya ke dalam bagasi mobil sedan keluaran dari Eropa itu.
"Lebih cepat yah pak," Ucap Aditya begitu mobil melaju.
"Baik pak," Jawab supirnya dan langsung menginjak pedal gas.
Mobil itu melaju kencang, syukurlah jalanan tidak terlalu ramai, tetapi matahari bersinar sangat terik. Sehingga Aditya tidak berhenti memikirkan apa yang terjadi pada Nandin.
**Hay guys ketemu lagi sama Author ya , jangan lupa like dan koment ya buat dukung cerita ini berkembang.
jangan lupa vote untuk pastisipasinya.
__ADS_1
Author menyayangimu. *Andini_818***