
Nandin menapaki anak tangga turun ke ruang makan, niatnya menyiapkan makanan untuk suami tercintanya. Tetapi melihat bu Sari sudah menyediakan makan, Nandin memilih menghargainya.
Sebari menunggu Aditya menyelesaikan mandinya Nandin memainkan gadgetnya, menekan nama Tama pada layar Hp nya itu. Suara deringan tidak berlangsung lama, suara adik kesayangannya itu langsung menyapa.
''Hallo kak, udah bangun pengantin baru?'' goda Tama, pada kakaknya yang barum enikah itu!
''Hem sudah makan kamu dek?'' tanya Nandin, mengkhawatirkan adiknya itu.
''Kak, kakak sudah menikah. Adek bisa hidup kok, adek juga sekuat kakak. Terimakasih sudah membesarkan Tama dengan baik, jangan sampai adek jadi beban lagi untuk kakak, fokus lah dengan kebahagiaan kakak sekarang.'' Jelas Tama panjang lebar.
Air mata Nandin menetes, mendengar kata demi kata dari mulut adik yang dibesarkannya itu.''Kakak sakit sekali mendengarnya, kakak berasa meninggalkanmu.'' isak tangis gadis itu membuat kata-katanya terbata-bata.
Nandin menutup telepon genggamnya itu, karena tak kuat menahan air mata. Tanpa ia sadari Aditya memperhatikan istrinya, yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja makan.
Dengan hati-hati Aditya menghampiri lalu memegang pundak istrinya itu. ''Sayang,'' ucap Aditya.
Nandin mengangkat wajahnya dan menatap suaminya itu. ''Jangan nangis, aku gak mau kamu banyak pikiran saat kita baru saja memulai hidup bersama,'' Aditya kembali berucap, kini ia menekuk lututnya, bersimpuh di hadapan istrinya.
Nandin menatap suaminya, kini semua keputusan yang ia akan ambil harus seizin Aditya.
''Mari ajak Tama tinggal disini, jangan terpisah jauh ya. Aku gak sanggup liat kamu kaya gini, mengingat ini baru saja sehari.'' Aditya seakan mengerti maksud hati Nandin yang gundah,
''Sayang.'' Nandin menatap pasti wajah suaminya.
__ADS_1
Aditya mengangguk, masih dalam posisi bersimpuh, Nandin memeluk kekasihnya itu. ''Terimakasih, terimakasih karena sudah menjadi suamiku. Aku bersyukur memiliki laki-laki baik sepertimu.'' Nandin menepuk-nepuk punggung suaminya itu.
Aditya mengelus rambut Nandin,''Sudah ya, jangan nangis lagi. Nanti pak Asep akan jemput Tama. Okay?'' Aditya menenangkan istrinya penuh perasaan.
Nandin pun mengangguk. Dan mereka makan bersama di meja makan, seperti biasa, Aditya tidak mau makan di ganggu. Dan kini ia tidak mau ada kesalahan karena pernah terjadi tragedi tak menyenangkan, saat makan dengan wanita kesayangannya itu.
''Sayang, aku sudah selesai makan.'' ucap Aditya.
''Aku juga.'' jawab Nandin.
''Aku mau cek pekerjaan sebenar di ruangan kerjaku, mau temani aku?'' Tawar Aditya.
''Dengan senang hati,'' Nandin tersenyum.
Aditya mengulurkan tangannya dan Nandin menyambut tangan itu. Dari ruang makan Aditya langsung masuk ke ruangan kerjanya yang berada di lantai satu, Nandin mengekor tanpa melepaskan tangan suaminya.
''Sayang, ini tujuh tahun lalu?'' tanya Nandin.
''Yap, betul. Aku membuat foto ini begitu aku tinggal disini. Aku selalu berharap kamu akan mengingatku waktu itu,hampir setiap malam saat di amerika pun, aku selalu memandang foto ini. Hari dimana aku menyatakan perasaanku, dengan mawar putih berlambang cinta suci,'' jelas Aditya sambil memandang foto itu.
''Kenapa mawar putih?'' tanya Nandin.
Aditya menatap mata istrinya, ''Aku mencintaimu dengan tulus, bukan sekedar nafsu. Aku juga memutuskan memilikimu saat itu. Keputusanku ternyata benar, setelah menunggu aku mendapatkanmu sebagai hadiah terbaik.'' jawab Aditya!
__ADS_1
Nandin mengeratkan pegangan pada tangan suaminya itu, hatinya sakit. Aditya menderita selama bertahun-tahun menantikannya, yang bahkan goyah oleh lelaki lain.
''Mendengarmu mengucap sukur karena memilikiku, membuat ku merasa akulah lelaki paling beruntung di dunia karena mendapatkanmu.
''Aku lah yang beruntung. kamu Lelaki impian. Aku mencintaimu, sungguh.'' Nandin mengucap denganj penuh keyakinan.
''Aku tahu, tetaplah seperti ini. Aku akan membahagiakanmu, aku juga mencintaimu.'' jelas Aditya!
Aditya melangkahkan kaki menuju meja krjanya, sedangkan Nandin duduk di sofa di depan meja kerja Aditya. Membuka majalah-majalah perusahaan Aditya, dan Aditya mulai fokus didepan laptopnya. Nandin menatap suaminya, yang tetap profesional walau memantau dari rumah.
Aditya memegang tenggorokannya, Nandin yang melihatnya pun langsung mengambilkan minum untuk suaminya itu. Aditya jatuh hati berkai-kali, tidak menyangka memiliki wanita yang sudah lama di idamkannya itu. ''Terimakasih istriku,'' ucap Aditya.
Pipi Nandin berubah menjadi merah, ''Sama-sama suamiku.'' jawab Nandin, dan kembali ketempat duduknya semula, dengan rasa bahagia.
''Aku akan menemanimu sebentar lagi, setelah aku menyelesaikan pekerjaan ku,okay!'' Seru Aditya.
Nandin mengangguk. Aditya pun kembali fokus pada layar
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Aditya berucap.''Sayang aku sudah selesai,'' Namn tidak ada sautan dari istrinya.
Aditya pun menutup laptopnya. Istrinya tertidur dengan kepala yang disangga bantal sofa, dan tangan yang masih memegangi majalah.
Aditya menghampiri istrinya. ''Kamu mudah nyaman dimanapun ternyata, gadis baik!'' ucap Aditya. Lalu menggendong tubuh istrinya itu, keluar dari ruangan kerjanya.
__ADS_1
Pemandangan yang lagi-lagi membuat bu Sari dan Asistennya yang lain menatap pasti. Aditya dengan tubuhnya yang bagus, menggendong istri kesayangannya, membawanya kelantai dua. Dimana kamar mereka berada.
Sepertinya menggendong sang istri akan menjadi rutinitas baru Aditya, dan dia sangat menyukainya.