
EPISODE INI MENGANDUNG EMOSI, DAN MEMBUAT DADA BERDEGUP KENCANG. PEGANG JANTUNG JANGAN SAMPAI LONCAT YA.
Langkah Nandin lambat namun ia fokus memperhatikan langkah kakinya untuk tetap menjaga keseimbangan.. Tatapnya masih samar karena bulir-bulir air mata masih keluar dari pelupuk matanya,padahal ia sudah menahannya sekuat tenaga.
***
Nandin sampai di rumahnya, ruangan kerja ayahnya adalah sasaran utama saat ia memasuki rumah, kotak-kotak keemasan di atas meja itu ia sentu, foto-fotonya beersama Aditya saat dulu beersekolah masih ada didalam kotak itu, badannya runtuh seketika begitu melihat senyuman kebahagiaan bersama lelaki yang dicintainya itu.
''Maafka aku, maafkan aku Dit'' tangis gadis itu semakin getir menggema di ruangan dengan ukuran sedang itu.
Tama menemukan kakak nya yang menangis tersedu-sedu di ruangan kerja ayahnya. Kakanya menekuk lututnya dan membenamkan wajah kedalamnya. ''Kak, ada apa?'' Tama menghampiri karena merasa ada yang tidak beres.
Nandin mengangkat wajahnya, matanya yang sembab menandakan bahwa gadis itu memang sudah menangis sejak lama.''Dek, jangan tanya kakak kenapa ya, jangan dipikirin juga. Kakak butuh waktu sendiri, besok pasti kakak akan tenang'' Jawab Nandin begitu Mengangkat wajahnya.
Merasa mengerti dengan ucapan kakaknya yang butuh waktu Tama keluar dari ruangan itu, walau sebenarnya ia sangat khawatir.
Nandin menggigit ibu jarinya untuk meredam suara tangisnya. Semua orang butuh waktu untuk menyingkirkan gundah hatinya, dan Nandin sedang butuh kesempatan berharga itu.
seharian ia habiskan didalam ruangan itu. Tama begitu khawatir dan sampai-sampai anak remaja itu tidur diruang Tamu untuk memastikan kakak nya baik-baik saja.
Pagi hari sekali bunyi-bunyian lah yang pertama menyadarkan Tama dari tidurnya. Mengingat kakaknya Tama langsung bangkit dari tidurnya dan hampir terguling dari kursi ruang tamu.
Kakak tercintanya rupanya sedang memaskan di dapur, Tama menghampiri kakaknya itu. ''Kak, kakak sudah baik-baik saja?'' Ucap Tama hati-hati.
''Kakak baik-baik saja kok'' Jawab Nandin dengan wajah biasa-biasa saja, sebari menaruh nasi goreng diatas piring.
Tama terkejut melihat kakaknya yang langsung baik-baik saja, mengingat kejadian kemarin yang membuatnya tidak tenang.
''Sana cuci muka, terus kita makan bareng'' Lanjut Nandin.
Tama menuruti perintah kakaknya. Lalu ia kembali ke meja makan untuk sarapan bersama. Tidak ada yang aneh memang, seolah semua berjalan lancar. Tama memperhatikan kakaknya lekat-lekat memastikan dia benar-benar baik-baik saja.
''Dek, hari ini kakak mau menemui Mas Riko.'' Ucap Nandin sekaligus mengagetkan Tama.
''Oh iya kak,'' Jawab Tama
Nandin menghembuskan napas panjang, membuat Tama menatap kakaknya lagi.
Seusai makan Nandin membereskan semua bekas makan mereka, dan segera bersiap-siap untuk mengunjungi Riko di rumah sakitnya,
Nandin mengenakan sweater berbahan rajut, cuaca diluar sangat dingin tapi ia bahkan tidak mengenakan jaket lagi. Cuaca memprediksi hari ini akan hujan.
Nandin memesan ojek online untuk pergi kesana, setelah ia memesan ia kembali mengecek riasan wajahnya yang sederhana namun menarik dan cantik. Suara klakson di depan rumahnya membuatnya tergesa gesa dan segera berlari ke arah luar sebari berteriak pada Adiknya bahwa dia akan pergi.''Tam kakak berangkat ya, jaga rumah''
Tama keheranan melihat kakaknya yang tergesa-gesa, padahal si tukang ojek online juga pasti mau untuk menunggunya sebentar.
''Rumah sakit yah pak'' Ucap Nandin pada Driver ojek online itu.
''Baik neng, ini helm nya'' Driver itu menyodorkan sebuah helm dengan logo perusahaannya,
__ADS_1
***
Sesampainya dirumahsakit Nandin merogoh kantong kecilnya, tetapi ia kebingungan karena tidak menemukan benda yang di carinya. Ia ingat bahwa handphone nya ketinggalan di rumah saat tadi ia buru-buru keluar rumah.
Akhirnya Nandin menuju ke meja staff yang berada didepan ruangan Dokter Riko,''Sus, Dokter Riko nya ada?'' Ucap Nandin pada Staff yang berjaga.
''Ada, tapi beliau sedang ada tamu, mau saya sampaikan?'' Jawabnya.
''Oh begitu, tidak usah nanti saya tunggu sampai selesai saja.''
Nandin menunggu di kursi tunggu depan pintu ruangan Dokter Riko. Satu jam berlalu tapi tamu di ruangan Dokter Riko tak kunjung selesai juga. Nandin mau bertanya kembali kepada staff yang berjaga namun rupanya staff itu sedang istirahat.
Nandin berpikir mungkin saja Tamunya sudah pergi sedari tadi, tetapi ia tidak menyadarinya. Nandin memberanikan diri membuka ruangan kerja Dokter Riko, terkejut bukan kepalang. Seorang perempuan sedang mencium lelaki pemilik ruangan itu. Nandin terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
''Mas Riko'' Ucap Nandin, membuat dua orang didalam sana segera melepaskan ciuman mereka,
''Nandin,'' Dokter Riko kaget bukan kepalang. Dan mendorong wanita yang sedang menciumnya itu hingga ia meringis.
Dokter Riko bangkit dari duduknya, ''Bukan seperti yang kamu lihat Din, aku bisa jelaskan.'' Riko meraih tangan Nandin, namun gadis itu mengibaskannya.
''Aku pulang dulu Mas.'' Nandin mengambil langkah mundur setelah menyuruh Riko tidak menyentuhnya.
''Din, aku mohon dengarkan dulu'' DSokter Riko berbicara dengan nada tinggi.
''Bukankah dia wanita yang kemarin kerumahku, pantas saja kamu khawatir dan langsung menjemputnya'' Ucap Nandin.
Seila hanya termangu di ujung meja kerja Dokter Riko setelah di dorong Dokter Riko.
Dokter Riko panik ia melirik Seila,''Puas kamu sekarang hah?'' Dokter Riko berteriak pada Seila dan mengambil kunci mobilnya lalu ikut berlari keluar mengejar Nandin,
Baru saja ia keluar dari ruangannya, Staffnya langsung menyapa. ''Dok, tadi ada yang menunggu. Sudah satu jam lebih dia menunggu, tapi sekarang entah kemana,'' Ucap staaf karyawan didepannya.
''Dia menunggu satu jam?'' Tanya Dokter Riko.
''Iya betul Dok. tapi dia meminta tidak menghubungi Dokter karena takut mengganggu''
''Apa yang akan dia pikirkan selama satu jam menungguku setelah melihat kesalahpahaman ini'' Lirih Dokter Riko sebari menjambak rambutnya.
Dokter Riko keluar dari rumah sakit dan langsung mengendarai mobilnya, ia berpikir Nandin sudah pulan ke rumahnya. Diperjalanan Dokter Riko melihat ke arah trotoar seorang gadis yang dikenalnya sedang duduj di sebuah halte bus yang rimbun dengan pepohonan.
Dokter Riko segera memarkirkan mobilnya, turun dan berlari menghampiri gadis itu. ia sedang tersedu-sedu menangis. ''Din'' Ucap Dokter Riko, ia masih memakai jas Dokternya. Tidak sempat dilepas karena khawatir pada Nandin.
Nandin mengangkat wajahnya melihat lelaki yang berdiri didepannya. ***''Aku seharunya tidak sakit hati, mengingat aku juga pernah bersama Aditya. Tapi yang membuat ku kecewa, aku melepasnya hanya untuk ini, apakah ini karma?'' ***Lirih Nandin didalam hati seraya airmatanya deras sekali mengalir.
"Maafkan aku, aku bisa jelaskan ini, ayo kita pulang dulu dan bicarakan dalam keadaan kepala dingin'' Lanjut Dokter Riko meraih tangan gadis itu, tetapi ia sama sekali tidak bergeming.
'
Apanya yang mau dibahas dengan kepala dingi, bahkan sekarang perasaanya sudah kebas luar biasa.
__ADS_1
Sebuah taxi berhenti didepan mereka, seorang wanita turun dan langsung menghampiri. ''Aku tidak bisa l;agi menahan dan menunggumu Rik,'' Ucap wanita itu,
''Apa maksudmu Seil, jangan menambah masalah sana pergi'' Jawab Dokter Riko dengan tegas.
''Aku sudah tidur dengan Riko, dan aku ingin dia bertanggung jawab Din.'' Ucapnya membuat Nandin menatap wajah wanita yang ia anggap cantik itu, hari ini topengnya terbuka, tanpa malu ia berteriak Aibnya,
''Mas?'' Lirih Nandin, berharap ini tidak nyata.
Riko mematung dan masih menggenggam tangan Nandin, Melihat Dokter Riko yang tidak bergeming membuat Nandin seperti di sambar petir. Riko butuh waktu lebih dari dua menit hanya untuk menjawab iya atau tidak.
Nandin menarik tangannya dari genggaman Dokter Riko. Kedua tangannya menutupi wajahnya menyembunyikan kekecewaannya yang berbuah tangisan. Nandin berdiri dan dibarengi hujan turun, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Dokter Riko dan Seila.
Ia berlari di tengah hujan. Riko menjambak rambutnya melihat gadis itu ditempa air hujan, bayangan pertama kali dia jatuh hati padanya adalah ketika Nandin hujan-hujanan di rumah sakit, dan kini ia melihat gadis itu menangis dibawah hujan karena dilukai olehnya,
Nandin berjalan cukup jauh, hingga akhirnya dinginnya angin membuat jalannya gontai dan tubuhnya runtuh, lukanya baru saja sembuh tetapi luka baru menimpanya, ia menatap jalan trotoar yang dilaluinya, ia memaksakan diri berjalan karena handphonenya tertinggal di rumah.
''Adit, Adityaaaaaa'' Lirih Nandin dengan badan menggigil dibawah terpaan air hujan.
Nandin merasa badannya tidak tertetesi air hujan lagi, padahal dia memandang jauh air hujan masih turun. Ia kemudian mendongakan kepalanya, Seseorang berdiri dengan stelan jas nya membawa sebuah payung dan memayunginya. ''Adit'' Lirih nandin dengan bibir bergetar.
Aditya mengambil posisi berjongkok sejajar dengan Nandin, kini mereka berada di payung yang sama,''Aku disini'' ucap Aditya menatap bibir gadis itu yang menggigil
''Maaf aku lama,'' Lanjut Aditya.
Tangis Nandin kembali terdengar,'' Maafkan aku'' Gadis itu membenamkan wajahnya didada Aditya.
Aditya menyentuh bagian belakang kepala gadis itu, yang total sudah basah semua. Sedangkan tangan satunya memegangi payung.
Nandin mengangkat wajahnya,''Maaf kamu jadi basah,''
''Tidak apa-apa. Ayo, kita pulang'' Ajak Aditya!
''Aku basah, tidak mau.!'' Tolak Nandin.
Aditya sudah paham sikap gadis itu, ia membuang payungnya sehingga ia juga basah kuyup karena hujan,
''Kenapa payungnya di buang, kamu jadi basah''
''Biar kita sama-sama basah, dan kamu mau pulang bersamaku'' Ucap Aditya.
Aditya menggendong Nandin tanpa aba-aba, membuat gadis itu reflek mengaitkan satu tangannya di leher lelaki itu. Aditya menggendongnya dibawah terpaan hujan dan memasukannya ke dalam mobilnya.
''Kenapa kamu bisa tahu aku disini?'' Tanya Nandin begitu aditya meletakan tubuhnya di mobilnya,
''Koneksi, bukan orang dalam, tapi koneksi hati dibagian tubuhmu.'' Jawab Aditya menyunggingkan senyumnya.
Aditya selalu tahu saat sesuatu terjadi pada Nandin, hatinya seperti sudah terkoneksi pada gadis itu.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA GUYS
__ADS_1
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA
ANDINI_818