LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
TAMA KECELAKAAN !


__ADS_3

Semalaman Nandin memikirkan apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini,sikap Aditya sepertinya ia merasa sudah dekat.


Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Nandin hanya memikirkan Zain, sekarang ada seorang Pria yang ia pikirkan! Seketika itu juga jantungnya berdetak lebih kencang, "Astaga sadar sadar ini salah Nandin." Rutuk gadis itu dalam hati.


Pagi sudah datang menyapa, suasana yang dingin menusuk kulit gadis itu, memaksanya membuka mata. Syukurlah semalam cuaca hujan, sehingga membuatnya terlelap lebih cepat.


Ia berjalan menuju kamar mandi, Setelah menyelesaikan urusannya ia langsung pergi ke dapur. Memasakan kesukaan Tama ,telur dadar dan sup kacang merah. Kemandirian memaksa Nandin harus bisa segalanya, ditambah ibu mereka yang tidak pernah mampir. Apalagi memasak untuknya.


Pukul 07.30, Tama akan berangkat sekolah sedangkan Nandin akan berangkat setengah jam kemudian.


Nandin merasa gundah, Perasaannya tidak karuan. "Mungkin karena kemarin kehujanan, atau karena terlalu banyak pekerjaan" pikirnya.


Saat perjalanan menuju kantornya, Nandin terjebak lampu merah. Ia terpaksa memberhentikan kendaraannya, karena memakai motor ia leluasa melihat kendaraan lain disekitarnya. Mobil berwarna merah, mencuri perhatiannya.


Mobil yang berhenti tepat disampingnya itu membuka jendelanya. Pengemudinya adalah Zain, air mata Nandin mengalir tanpa permisi. Ia benar-benar menyalahkan kelemahan dirinya, mengapa tidak bisa menahan airmatanya itu. Untunglah kejadian itu tidak memakan waktu lama, lampu jalan itu segera berganti warna.


***


Sesampainya dikantor, Nandin langsung mengambil absen, dan duduk di meja kerjanya. Ada sebuah bingkisan berisi roti, juga kertas catatan. "Jangan lupa sarapan, baik untuk otak. Aditya" isi dalam selembar catatan itu.


Tidak Lama Kemudian Nandin mendapat notifikasi SMS bertuliskan Pak Aditya


_-From Aditya,


 


Selamat bekerja Bey..


 


Nandin membalas. Juga tidak lupa berterimakasih atas makanannya.


Nandin merasa sikap Aditya sangat manis.


Nandin pun memulai bekerja, dengan fokus tapi perasaan nya gundah gulana entah kenapa.

__ADS_1


Sore telah tiba dan ini waktunya pulang,Aditya menghampiri gadis itu dan mengajaknya untuk pulang bersama.


"Din pulang bareng yuk,"ucap Aditya, yang langsung menghampirinya.


"saya bawa motor pak,kan semalem sudah di antar Supir bapak," jawab Nandin, tanpa menyembunyikan kecemasannya.


"Nanti hujan loh Din" Lanjut Aditya, masih pada usahanya.


"tidak apa apa pak," Nandin menjawab karna kurang nyaman, juga melihat keluar ini terang benderang.


"Baik lah kalo begitu,hati hati di jalan yah?" ucap Aditya.


"baik pak terimakasih,bapak juga hati hati." Balas Nandin.


Merekapun menukar senyum masing-masing.


Aditya berjalan keluar kantor duluan, sedangkan Nandin masih membereskan tasnya.


"Heh,Lo di ajak balik lagi sama bos?",celetuk Tika saat baru menghampiri.


"terus kalo Lo gak bawa motor Lo mau pulang sama dia?" balas Tika nyolot.


"kamu kenapa sih Tik?"


"Gapapa, jawab Tika"


Lalu Tika meninggalkan Nandin dengan muka ketus nya, mereka bekerja di ruangan yang sama tapi dia paling bossy di sini ,


Nandin juga mendengar dia ingin menjadi sekretaris pak Aditya. Mu gkin hal itulah yang membuatnya, menganggap Nandin seperti ancaman.


Nandin pulang dengan selamat, tanpa hujan. Kasur adalah sasaran utamanya setelah membersihkan diri. Bahkan handphonenya pun tidak di charge sama sekali.


Di rumah Tama belum pulang. "Tumben anak itu Lama sekali tidak seperti biasanya." Nandin berbicara sendiri, ketika mendapati adiknya belum ada di rumah.


Tidak lama, suara ketukan membuyarkan pikirannya, Nandin kira itu Tama. Dia adalah Zain, hampir saja rasa sakit hatinya mencuat. Pikir Nandin Zain datang, untuk mengkonfirmasi pernikahannya.

__ADS_1


"Din, kamu baru sampai rumah?" tanya Zain.


Dia masih berdiri di depan pintu bahkan tidak Nandin persilahkan masuk.


"iya,kenapa kamu kesini?"jawab Nandin ketus.


"Cepat Ganti baju,Tama di rumasakit. Handphone mu tidak aktip" Jelas Zain!


"apa maksud mu? Tama kenapa Zain?"Suara Nandin berubah panik.


"Cepat ganti baju nanti kita bahas dijalan."


Nandin berganti baju, ia memutuskan memakai motor agar lebih cepat. Dan mobil Zain diparkir didepan rumahnya.


Setelah Sampai di RS.Platinum Nandin dengan gemetar turun dan mengikuti langkah Zain, lalu Zain bicara pada suster yang berjaga untuk informasi. Pikiran Nandin sudah tidak karuan. Langkahnya gontay.


Zain menghampiri Nandin dan mengajaknya kesebuah ruangan, sebelum gadis itu membuka pintu seorang Dokter menghampiri mereka.


Siapa wali pasien kamar ini,"Saya Dok," Nandinpun menjawab,


"Saya pak ,saya kakak pasien ini namanya Tama Heriawan,"jawab Nandin lebih pasti, dengan gemetar.


"Baiklah,kami menelpon semua kontak di telepon genggam pasien untuk menghubungi walinya agar bisa cepat di ambil tindakan,


untunglah kontak atas nama Kak Zain menjawab dan kami langsung melakukan prosedur,jadi adik anda bisa langsung di ambil tindakan,tapi dia masih koma dan belum siuman. Kita harus ber do'a untuk sekarang, semoga pasien bisa melewati masa kritis."ucap dokter, bagi siapapun ini mungkin seperti pukulan uang menghantam tepat didada, dan membuat sesak pendengarnya.


Nandin tidak menjawab perkataan Dokter itu, mulutnya tidak mampu terbuka. Hanya tangisnya menggambarkan lukanya.


Nandin melangkahkan kaki memasuki ruangan itu."De kamu pasti kuat, kamu bisa jangan tinggal kan kakak seperti ayah,siapa yang akan menemani kakak dek, kakak hidup karna kamu dek, kakak mohon." Nandin memegang tangan adiknya itu. "Tama ku yang malang," Nandin sungguh tidak kuat, kali ini kejadian ini sangat menyakitkan baginya.


***Jangan lupa like, komen dan vote ya.


aku mencintai kalian guys.


Andini_818***

__ADS_1


__ADS_2