
Sesampainya di rumah Dokter Riko langsung menuju kamarnya, lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air dari shower membasahi kepalanya, sedikit membantu merilekskan pikiranya.
Seusai mandi dan berganti pakaian ia tak langsung tidur, padahal sudah jelas badan dan pikirannya lelah. Ia berselonjor di depan kasurnya duduk di lantai, menghadap foto gadis yang meluluh lantahkan hatinya.
Tatapan penuh cinta tetapi membuat hatinya terluka, luka yang hanya baru ia saja yang merasakannya. "Aku tak sanggup kehilanganmy, karena itu aku belum bisa jujur padamu." Lirih Dokter Riko di dalam hati.
***
Pagi menyapa, Nandin terbangun dari tidurnya, tanpa sadar senyumnya tersungging. Ia melirik kesamping ya dan langsung kaget mendapati Tama memandanginya. " Astaga, apa kau dek?" Nandin kaget mendapati adiknya yang memperhatikannya.
"Mimpi apa kamu kak?" Tama menatap, taktik intimidasi pada kakak nya yang tersenyum padahal baru bangun tidur.
"Mimpi indah" Jawab Nandin yang bersikap imut sekali.
"Sudah baikan kak? adek udah masak, ayo makan" Lanjut Tama.
"Uh adiku berubah jadi sangat perhatian setelah penganiayaan kepada kakaknya"
Tama langsung memberikan tatapan tajam pada kakaknya. Lalu keluar dari kamar kakaknya.
Nandin bangun dari kasurnya, menurunkan kaki nya dalam keadaan duduk di kasur,lalu meregangkan tubuhnya. "Akhirnya aku bangun dari kasur ku, aku rindu sekali" Ucap Nandin pada dirinya sendiri.
Lalu berjalan untuk mencuci muka, dan langsung menghampiri Tama untuk sarapan.
Nandin dan Tama kembali ceria setelah melewati kejadian berat, mereka akhirnya bis saling tertawa kembali dan makan bersama.
Tuk... tuk... tuk... suara ketukan pintu membuat Tama dan Nandin saling melirik, Tama berinisiatif langsung menghampiri pintu depan rumahnya.
Tama terkejut begitu membuka pintu, seorang wanita cantik bak model, rambut coklat dan mata hitam pekat, memakai pakaian musim dingin di cuaca yang sedikit panas. "Maaf cari siapa?" Ucap Tama, karena merasa tidak mengenali wanita itu, dan berpikir wanita cantik itu salah rumah.
"Hallo, aku Seila. Benar ini rumah Nandin?" Jawab wanita itu.
Mendengar namanya disebutkan, Nandin menghampiri sumber suara.
"Iya betul, saya Nandin" Ucap Nandin begitu menemui orang yang mencarinya itu.
Seila menatap Nandin dari atas hingga bawah, Nandin tinggi tapi tidak setinggi Seila. wajah nya juga tak kalah cantik dengan Seila walau tidak mengenakan riasan.
"Hai aku Seila. Teman Riko"
Menyadarinya seperti pernah tahu nama itu, Nandin mengingat nya. Orang yang menelpon Riko di rumah sakit.
__ADS_1
"Oh begitu, silahkan masuk" Nandin mempersilahkan masuk tamunya itu. Sedangkan Tama penasaran apa yang terjadi.
"Kak, adek bawakan minum dulu ya" Ucap Tama, dan berlalu menuju dapur.
Tidak lama setelah Nandin dan Seila duduk, handphone Seila berdering.
"Hallo, aku sedang di rumah Nandin" ucapnya dan langsung mematikan telponnya.
Nandin tidak mengerti siapa yang menelpon gadis itu, dan mengapa harus membawa namanya.
"Kamu tinggal disini berdua?" Tanya Seila.
"Iya, dengan adiku" Jawab Nandin.
"Rumah yang menyenangkan" lirih Seila begitu melihat foto keluarga Nandin.
"Maaf kalau boleh tahu, ada perlu apa denganku kak?" Nandin memanggil gadis itu kakak, karena dari wajahnya seperti lebih dewasa darinya.
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana pacar Riko" Jawab gadis itu membuat Nandin terperangah.
"Maaf?"Jawab Nandin.
"Oh begitu, baru pulang dari Australia juga" Ucap Nandin, mengapa mereka pulang bersama, pikiran itu hinggap dikepalanya.
"Aku dulu pernah ditembak Riko, tapi aku menolaknya. Dan aku baru sadar sekarang, bahwa dia lelaki yang baik" Ucap Seila.
Mendengar jawaban Seila, Nandin semakin bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan wanita ini.
Tama datang membawa dua gelas air minum, tanpa berbicara ia langsung ikut duduk disamping kakaknya.
"Kamu sayang sama Riko?" Tanya Seila.
Nandin mengerutkan kening, merasa bahwa wanita ini memiliki tujuan lain.
Suara pintu terdengar di gebrak kacanya, membuat semua orang kaget terhentak. "Mas Riko" Ucap Tama.
"Kamu ngapain kesini" Riko langsung menarik pergelangan tangan Seila yang sedang duduk, membuat wanita itu berdiri tergeret.
Nandin memperhatikan Riko yang menarik tangan wanita lain selain dia. Tama melirik wajah Nandin dengan sama kagetnya.
Baru saja langkahnya akan keluar dari ambang pintu, Dokter Riko kembali berbalik dan melepaskan tangan Seila. Ia berjalan menghampiri Nandin yang sedang duduk disamping Tama. "Aku akan kembali dan menjelaskannya ya sayang" Ucap Dokter Riko sebari memegangi pipi gadis itu.
__ADS_1
Pemandangan itu sukses membuat amarah Seila tersulut, terlihat dari wajahnya yang masam.
Dokter Riko langsung berdiri dan melanjutkan langkahnya. "Ayo pergi" Ucap Dokter Riko tanpa memegangi tangan Seila.
Seila yang sudah terbakar emosi pun hanya mengekor mengikuti lelaki itu.
Kedua insan itu memasuki mobil Dokter Riko. Kendaraan itu melaju dengan kencang hingga akhirnya berhenti di pinggir lahan yang penuh ilalang. "Apa maksud mu menemui Nandin" Ucap Dokter Riko langsung tanpa aba-aba.
"Aku hanya silaturrahmi" Jawab Seila.
"Ada orang silaturahmi pada orang yang tidak pernah dia kenal?"
Pertanyaan Dokter Riko membuat wanita itu diam seketika.
"Kamu benar-benar keterlaluan Seil" Lanjut Dokter Riko.
Seila hanya menahan gemuruh api cemburu dan emosi yang membuat wajahnya semakin merah.
"Aku tidak siap harus jujur pada Nandin, aku sangat mencintainya. Berikan aku waktu agar aku saja yang bilang padanya, kamu jangan ikut campur. Nandin terlalu polos untuk menerima hal yang tidak masuk akal" Ucap Dokter Riko.
Mendengar ucapan Dokter Riko Seila mengerti betapa lelaki itu menyayanginya. Kamu sayang banget sama dia Ko?" Tanya Seila.
"Ya, dia unik, siapapun pasti nyaman bersama gadis itu. Dia kuat Seil, beban hidupnya sudah amat berat, aku berjanji pada almarhum ayahnya untuk menjaganya" Lanjut Dokter Riko dengan suara lirih.
"Aku juga tidak bisa membiarkanmu lama-lama dengannya" Ucap Seila.
Ucapan Seila membuat Dokter Riko mengernyitkan dahinya. Dia kira Seila akan mengerti posisinya, tetapi nyatanya salah, Seila perempuan yang tidak sabar.
"Kenapa kamu menekanku? padahal aku tidak ingat apa yang kita lakukan Seil?, bahkan bisa saja aku pergi dan tidak mengakui itu bukan?" Dokter Riko menjawab dengan penuh ketegasan setiap ucapannya.
Mendengar jawaban Dokter Riko, Seila sedikit gentar. ia kira Dokter Riko akan mudah diruntukan karena pernah menyukainya, nyatanya tidak sama sekali.
"Jangan pernah berbuat hal bodoh, apalagi menyakiti Nandin. Atau aku akan benar-benar tidak peduli padamu" Sekali lagi Dokter Riko memperingati Seila.
Seila hanya terdiam mendengar ucapan Riko, sampai Riko menginjak pedal gas nya dan mengantar Seila ke apartemennya.
Seila turun dari mobil Riko, dan Dokter Riko langsung pergi tanpa pamit setelah Seila turun. Seila memperhatikan mobil Riko yang melaju menjauh darinya.
"*Riko Riko rupanya kamu cukup keras kepala juga" **Lirih Seila di dalam hati, seraya menyunggingkan senyum sinis nya.
Guys jangan lupa like dan vote ya. aku sungguh senang mendapat dukungan dari kalian 💙💕🤲***
__ADS_1