LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
AUSTRALIA ???


__ADS_3

Nandin tidak bisa tidur. Bahkan ia menatap layar handphone nya berkali kali. hanya menyentuh touch screen nya berkali kali lalu menghidup dan mematikan On Off nya. "Haruskah aku pergi? harus kah aku mendatangi Mas Riko? Tapi Tama bagaimana?." Pertanyaan berkumpul di otak nya seketika. Lelah nya badan dan pikiran tampak nya tidak membuat Nandin tertidur meskipun membaringkan diri di kasur nya yang nyaman itu.


Terlelap dalam gundah untuk yang kesekian kalinya, adalah istirahat yang singkat dan sakit yang tetap. Seperti layaknya obat bius yang menahan rasa sakit nya sebentar.


Hujan terdengar riuh berbunyi ditambah tetesan nya yang menjatuhi genting dan tanah bertambah riuh besar terdengar, membuat udara malam semakin dingin.


Nandin menarik selimut nya dan mulai terlelap. Pagi hari nya ia terbangun dengan mata sembab. Tanpa disadari ia memang menangis sebelum tidur tapi ada kejadian dimana ia menangis saat tertidur dan terbawa ke kenyataan. Mimpi, mimpi buruk yang memporak-porandakan isi hatinya membuat bulir bening air mata itu mau tidak mau menetes. Nandin memimpikan kejadian diluar nalar seorang lelaki berbaju putih membelakanginya berjalan selangkah demi selangkah semakin jauh, ia tidak bisa melangkahkan kaki nya karena lemas, mulutnya terus berteriak memanggil pemuda itu, tangan nya terjulur ke depan dan air matanya semakin menjadi. Setelah pemuda itu pergi tanpa terlihat suara tangis nya semakin kecil hanya sampai tak terdengar ia menepuk beluk dadanya, tapi tidak ada yang berubah rasa sakitnya masih tetap terasa sama. Itu lah mimpi yang membuat Nandin menangis saat tertidur.


Menyadari bantal nya basah, Nandin membuka jendelanya dan menaruh bantal itu di jendela untuk dijemur. Tidak ada lagi yang harus dipertanyakan Nandin gundah gulana akibat mimpinya. Sudah wajar jika bahkan ada orang yang tiba tiba diam akibat dia mengalami mimpi yang buruk. Atau yang tidak bisa diterima akal, ataupun sesuatu yang menyedihkan. Mimpi memang mengambil alih sikap manusia keesokan harinya.


Rumah yang minimalis itu tampak rapih karena Nandin dan Tama tipikal anak yang rapih sekali. Meskipun mereka tinggal berdua tetapi rumah mereka tampak terawat. "Kak, kak ada tamu." Tama berteriak dari depan pintu kamar Nandin.


"Siapa dek?."


"Kak Aditya."


"Hah?." Suara jawaban Nandin membalas sautan Tama lagi.


Tama pergi berlalu tanpa menunggu kakak nya membuka pintu kamar nya. Dengan langkah gesit Nandin bergegas ke kamar mandi membersihkan diri dengan kilat sebelum melangkah kan kaki nya dengan gontai menuju ruang tamu menemui Aditya.


Mendapati Aditya yang duduk di ruang tamu dan sedang memainkan jam tangan nya Nandin langsung menyapa. "Hai Dit?." Ucap Nandin lalu mendudukan diri di atas kursi.


"Hai, baru bangun ya?." Jawab Aditya, melihat mata Nandin yang merah sembab, ia tahu Nandin pasti menangis semalaman tapi dia lebih memilih bertanya hal lain.


"Iya. Kenapa Dit ada apa tumben datang pagi pagi sekali?"


"Ada yang mau aku omongin."


Tiba tiba Tama menyela karena akan berangkat sekolah. "Kak aku berangkat ya." Ucap Tama sebari menyalami tangan Nandin dan Aditya.

__ADS_1


Tama berangkat sekolah dan membiarkan pintu depan tetap terbuka, maklum lah di dalam sedang ada tamu dan Nandin hanya sendirian, Tama pun mengerti untuk membiarkan pintu tetap terbuka.


"Din?."


"Iya?." Nandin menjawab pertanyaan Aditya, mendapat tatapan dari Aditya membuat Nandin sedikit salah tingkah.


"Jadi gimana?."


"Apa kak?"


"Mau tidak ke Australia? aku sudah ambil cuti karena memang sedang tidak banyak perkerjaan." Ucap Aditya. Mata nya menatap Nandin dengan intens. Berusaha meyakinkan Nandin.


"Kak aku bahkan belum bicara pada Tama. Semalam saja aku tidak berhenti memikirkan ini. Kenapa kamu berusaha sekali mau mengajakku bertemu Mas Riko?."


"Kamu harus memperbaiki apa yang harus di perbaiki, selama itu masih bisa diperbaiki." Aditya berucap dengan penekanan di setiap kata kata nya.


Nandin hanya menatap tatapan kosong , mendengarkan perkataan Aditya, tetapi pikiran nya melambung entah kemana.


"Kenapa kamu berpikir bgtu Din?."


""Tidak apa-apa Dit." Nandin memboikot ucapan nya, agar tidak membahas Dokter Riko lebih panjang.


"Din, pernahkah kamu mencintaiku?." Kata kata itu keluar dari mulut Aditya yang sekaligus membuat Nandin mencerna pendengaran nya berkali-kali.


"Apa maksud mu Dit?."


"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja."


"Tidak semua pertanyaan bisa kamu tanyakan Dit dan tidak semua bisa dijawab dengan logis."

__ADS_1


"Apa pertanyaan ku terlalu sulit? aku hanya ingin mendengar jawaban mu saja Din."


"bisakah kita tidak membahas ini?."


Aditya menatap Nandin lekat lekat, memastikan ucapan gadis itu dan mengiyakannya. Tatapan Aditya sungguh sangat dalam, sedikit membuat Nandin risih.


"Besok akan aku atur iya atau pun tanpa persetujuan kamu, Tama biar di titip di rumah ku ada Bu Sari." Ucap Aditya, memalingkan pandangan nya, membuat lingkaran di atas jam tangan nya dengan telunjuknya.


Nandin mengernyitkan keningnya mendengar pernyataan Aditya. Tanpa mendapat jawaban dari Nandin, Aditya langsung keluar rumah Nandin dan mengemudikan mobilnya.


Nandin yang menyadari kepergian Aditya begitu tiba tiba, dengan sikap nya yang aneh lagi lagi membuat kepalanya dipenuhi pertanyaan. "Kenapa Dia?." Lirih Nandin dalam hati. Setelah kepergian Aditya Nandin membereskan semua bagian rumah nya, menyapu, pel, mencuci dan lain lain.


Dibenaknya masih tentang Riko, apapun yang dilakukan tetap ada Riko di dalamnya. "Sejauh itu Nandin mencintainya? tapi bagaimana dengan Riko? lagi lagi lirih dalam hati kecil nya mencuat."


Tama pulang sekolah tepat jam 3 dan di panggil oleh Nandin, untuk bertanya. "Dek, apa kamu gak masalah kakak tinggal ke luar negri sebentar?


"Kemana kak, kak jangan adek gak ikhlas kalo kakak harus jadi TKI sesusah susah nya kita jangan kak." Ucap Tama dengan muka melas nya.


Ucapan Tama membuat Nandin tertawa terpingkal-pingkal. Sampai memegangi perutnya karena tidak kuat menahan tawa. "Enggak lah dek, kakak mau pergi sama kak Aditya menemui Mas Riko ke Australia, tapi butuh waktu seminggu disana."


"Adek gimana kak?."


"Kak Adit nawarin buat tinggal di rumah nya, biar ada yang ngurusin kamu, ada asisten rumah tangga disana banyak jadi kakak tidak khawatir."


"Kak?." Ucap Tama menarik nafas dalam-dalam.


"Hem." Jawab Nandin singkat menatap Tama .


"Pergilah kak, Usahakan apa yang membuat kakak bahagia, jangan terus terusan mikirin adek, adek udah gede setelah lulus adek juga bakal kerja kaya kakak." Jawab Tama.

__ADS_1


Mendengar penuturan Tama membuat Nandin meneteskan air matanya. "Dek kakak bingung, di dalam kondisi ini kakak merasa seebasalah.


Bahkan hanya untuk menanyakan penyakit apa yang di derita Aditya pun, Nandin tidak cukup berani.


__ADS_2