LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
KEIKHLASAN!


__ADS_3

Hening di rumah sakit, menambah iba Nandin kepada ibu Dokter Riko. Karena merasa bersalah akan pernikahan putranya, ibunya itu bahkan tidak memasuki kamar dimana Dokter Riko dirawat.


Aditya pulang karena ada urusan yang harus ia kerjakan, Nandin memutuskan memasuki kamar Dokter Riko, karena sampai sore pun, Seila yang resmi sebagai istrinya, bahkan tidak menunjukan batang hidung.


Langkah gadis itu mulai mendekat, saat itu Dokter Riko sudah siuman, dan duduk di atas ranjangnya.


Tatapnya tercuri pada wanita yang berjalan mendekatinya. "Hai Mas, gimana sudah baikan?" tanya Nandin, masih berdiri di ujung ranjang.


Dokter Riko kini menatap gadis itu penuh arti. "Mengapa masih disini, Aditya tidak marah?," jawab dokter Riko.


"Aku sudah minta izin tadi, untuk menemani Mama. Dia bahkan tidak mau masuk karena merasa bersalah pada pernikahan Mas," Nandin menjelaskan.


Dokter Riko menundukkan pandangannya.


"Din, apa aku tidak berhak bahagia?," tanya Dokter Riko, membuat Nandin menaikan alisnya.


Masih dalam posisi berdiri, kini Nandin mencengkram ujung ranjang itu. "Kenapa Mas bicara begitu?"


"Aku hanya berpikir, semuanya tidak berjalan seperti keinginanku," lirih Dokter Riko.


"Mas, tidak semua yang kita mau akan baik-baik saja, atu akan seindah yang Mas kira. Bukankah kita juga menikmati hal indah lainnya, jangan terlalu fokus dan bilang hidup tidak indah, hanya karena masalah ini. Ini tidak adil bagi kebahagiaan Mas yang lain," Jelas Nandin! Panjang lebar.


"Kebahagiaanku hilang, kebahagiaanku kamu," Lirih Dokter Riko dalam hati.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja Mas. Percayalah!" Lanjut Nandin.


Dokter Riko mengangguk pelan,


"Mau makan mas, saatnya minum obat," ucap Nandin.


Tanpa aba-aba Nandin langsung mengambil jatah makan Dokter Riko, menyuapinya tanpa bertanya dahulu. Perasaan Nandin memang hanya sekedar menolong saja, tidak lebih dari itu.


Berbeda dengan Dokter Riko, yang masih menaruh rasa pada gadis itu. Dia senang berada di dekat Nandin, dan juga senang karena Nandin memperhatikan nya.


"Lebih baik aku sakit terus, asal kamu disini,didekatku," lagi-lagi Dokter Riko berbicara didalam hati.


Nandin memberikan makan dan juga obat pada Dokter Riko, setelah itu dia izin pulang.


Nandin juga izin pada ibu Dokter Riko untuk pulang, karena teringat Tama, ibu Dokter Riko juga mengizinkan Nandin pulang, karena tidak punya hak atas gadis itu. Ibu Dokter Riko juga berusaha mengikhlaskan.


Jaga lah selagi ada, dan biarkan yang mau pergi biarkan dia pergi, semakin kamu menggenggamnya, jika hatinya bukan untukmu, percuma saja.


Hatimu akan luka, dan hatinya akan hampa.


Melepaskan bukan karena kamu membencinya, ataupun kamu sudah tidak mencintainya. Mengikhlaskan adalah pondasi pertama, agar kita mampu menerima, dan memulai sesuatu yang baru.


Petik hikmahnya, dan jadikan pelajaran untukmu kedepannya.

__ADS_1


Baru saja kaki Nandin akan melangkah keluar lobby rumah sakit, Aditya berlari ke arah gadis itu.


"Sayang, sudah mau pulang?" tanya Aditya dengan setengah berlari menghampirinya.


"Iya, kamu kok disini, katanya ada urusan," jawab Nandin.


"Urusanku yang pertama adalah, memastikan kekasihku baik-baik saja," Aditya menggoda kekasihnya itu.


"Dasar, ngomong ajah kamu takut aku lama-lama sama Riko kan?"


Pertanyaan Nandin sepertinya tepat sasaran, melihat Aditya diam tak bergeming.


"Sayang, apa cemburuku terlalu kelihatan? tanya Aditya, membuat Nandin tertawa terbahak-bahak.


Akhirnya kedua insan yang dimabuk cinta itupun, melangkahkan kakinya meninggalkan area rumah sakit menuju parkiran, dan pulang bersama karena Aditya menjemputnya.


"Hari ini aku lelah sekali," lirih Nandin begitu menyandarkan badannya di jok mobil.


"Em Kasian, kamu juga belum makan ya, kita makan di rumah ku saja ya. Bu Sari masak makanan kesukaan mu," tawar Aditya.


Mendengar ucapan Aditya, membuat Nandin hampir mengeces karena membayangkan masakan Bu Sari.


"Kalau kamu yang maksa, yasudah aku bisa apa," ucap Nandin.

__ADS_1


Aditya hanya tersenyum melihat betapa menggemaskannya gadis nya itu, lalu melajukan mobilnya menuju rumahnya.


__ADS_2