
Sesampainya di rumah, Nandin langsung membersihkan diri, lalu berganti pakaian tidur dan membaringkan badan nya di atas kasur nya. Begitupun Tama yang rupa nya kelelahan dan langsung tidur di kamarnya.
Diraih nya sebuah buku dari dalam tas nya, yang sedari tadi menggelitik pikiran nya karena penasaran apa yang di tulis seorang Dokter tampan di sebuah buku, bukan kah jarang seorang lelaki memiliki buku diary, membuat Nandin ingin tau lebih bagaimana kekasih nya mencintainya. Nandin tampak memposisikan diri dengan menumpuk kedua bantal menjadi satu sehingga posisi tidur nya agak tinggi.
Dibuka lah kembali buku yang di dalam nya terdapat namanya itu. R A I N setiap mengulang kata katanya membuat Nandin memejamkan matanya, merasakan banyak cinta dari rangkaian kata itu.
Di bukalah buku coklat itu sampai halaman 2, Nandin adalah penulis freelance sudah wajar jika kemungkinan dia akan menyelesaikan bacaan nya dalam sekejap karena dia juga rajin membaca. Bukan seorang penulis jika dia tidak suka membaca karya orang lain, padahal ia juga menulis untuk memberi bahan bacaan untuk orang lain.
Februari 2014
Hari ini adalah hari dimana aku bertemu seorang pasien yang lugu, ia masih remaja, beda 5-6 tahunan dengan ku, namanya Nandin, senyum nya manis sekali. Awalnya tidak ada ketertarikan sama sekali selain antara Dokter dan pasien nya. Tapi pagi ini dia menangis histeris, lari dari bangsal Rumah Sakit. Semua suster yang menanganinya dibuat pusing karena tingkah nya, karena merasa tanggung jawab ku sebagai dokter nya akhirnya aku yang turun tangan sendiri menenangkan nya. Dia berlari ke arah taman belakang Rumah Sakit. Aku kira dia akan diam dan berbalik karena saat itu turun hujan. Ternyata dia melanjutkan langkah kakinya mengangkat dagu nya sehingga wajah nya menengadah, menerima tetes demi tetes hujan yang turun. Karena khawatir akhirnya aku putuskan juga mendekatinya walau hujan membuat baju ku juga basah kuyup. "Kamu kenapa hujan-hujanan nanti tambah sakit." Kataku.
"Aku suka hujan, semua yang tercium saat hujan begitu menenangkan, bukan begitu Dokter" Ucap nya membuat ku terheran-heran.
Tiba-tiba cahaya kilat menyala beberapa kali, gadis itu berhambur memeluku, aku sungguh terheran-heran. "Kamu kenapa?" Suara petir cukup keras membuatnya lebih erat memeluku.
Aku mengelus rambut panjang nya yang terurai lurus karena sudah basah kuyup. "Kamu takut petir tapi kamu tetap menyukai hujan?" Tanyaku.
Dia hanya mengangguk, masih dalam posisi memeluku dia lalu menjawab. "Bukan kah meskipun kita takut sesuatu kita tidak bisa jika tidak menyukai yang kita suka, itu semangat ku dalam hidup."
__ADS_1
"Maksudmu?."
"Aku ingin menikmati hujan karena aku suka, walau aku tahu petir pasti akan ada."
Jawaban dari gadis itu menusuk dalam ke jantungku. Aku menemukan semangat hidupku darinya, setelah aku berniat menyerah sebelum nya. Selain itu gadis ini membuat ku jatuh cinta pandangan pertama.
Nandin tersenyum membaca bait demi bait tulisan di diary kekasih nya itu. Dan memutuskan membuka halaman halaman selanjutnya.
Hari ini aku memotret gadis itu, dia tampak gembira karena akan pulang dari Rumah Sakit. Dia sembuh tapi dadaku yang sakit. melepas keceriaan nya selama ini yang menghidupkan jiwaku. Aku memutuskan mencuci hasil fotoku dan menaruh nya di kamar. Sehingga setiap pagi aku bisa melihat senyum indah dan mata coklatnya.
Aku kira hari itu adalah hari terakhir aku melihat nya. ternyata Aditya memintaku menjaga dan merawat nya. Aditya sepupuku pacar dari gadis yang ku sukai. Dia memintaku memberi tahu tentang apa yang menimpa gadis itu sedikit demi sedikit, tetapi aku tidak melakukan nya aku egois sekali memang karena aku juga menyayangi nya.
Tetapi jauh dari itu juga sebagai Dokternya aku tetap mendahulukan perawatan medis, dimana penderita Amnesia DISOSIATIF tidak boleh dipaksa untuk mengingat kenangan yang membuat nya trauma.
Diary itu berakhir di 2015 awal. Kemudian Nandin membenahi posisi membacanya menjadi duduk. Dia mulai membuka buka buku diary itu banyak halaman kosong tetapi di bagian tengah terdapat penyekat dan menarik perhatian nya. Ia lalu menarik penyekat itu dan membuka bagian tengah nya, dan ternyata terdapat tulisan lagi.
HARI INI AKU BAHAGIA SEKALI DO'A KU BEBERAPA TAHUN LALU TERKABUL. Gadis hujan ku kini menjadi kekasihku. Aku sungguh bahagia memiliki penguat di samping ku saat keadaan ku sangat rapuh.
Nandin membaca berulang kali tulisan itu, dan tidak menemukan titik temu akan artinya. akhirnya ia memutuskan membuka lagi halaman berikutnya.
__ADS_1
Aku marah pada diriku, aku mencintainya. Tapi aku tidak mungkin membuat nya meratapi ku dan sakit ku. Aku akan mulai menjauhinya biarlah dia sakit sedikit daripada harus berlarut larut sakit nantinya. Aku ingin melihat nya bahagia, beban hidup nya sungguh terlalu besar untuk gadis ini.
Nandin mulai kebingungan membaca bait demi bait di diary terakhir itu. yang membuat nya bingung diary itu ditulis 1 Minggu kemarin. tepat sebelum Dokter Riko berubah sikap nya.
Nandin berusaha mencari halaman demi halaman lain berharap menemukan tulisan lain yang bisa memberikan penjelasan kepadanya. Tapi nihil. Tidak ada sama sekali tulisan lain di dalam buku itu.
Dorongan dari hati nya semakin kuat untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tapi pada siapa, apakah Aditya atau Ibu dokter Riko. Tapi siapa yang akan dia tanyai malam malam begini. Ia memutuskan menunda ke ingin tahuan nya esok hari saja. Semalaman dia hanya mengguling gulingkan diri di atas kasur nya.
Matanya sudah berusaha dipejamkan namun pikiran nya tidak henti menggelitik sekali.
Dilihat nya Hp yang sedari tadi disamping nya itu. Lalu dibuka pesan chat siapa tahu ada yang bisa iya hubungi. Tetapi matanya tetap tertuju pada chat teratas ya itu chat kekasihnya. Riko masih online jam segini tetapi bahkan tidak menghubungi Nandin sama sekali, tapi wajarlah dia sedang berada di luar negri susah untuk menyamakan jam dengan di Indonesia, disini siang disana malam. "Tapi bukan kah tidak akan mengganggu jika dia menghubungi nya sekarang bukan kah disana sedang siang" Lirih Nandin dalam hati.
Di klik nya gambar telpon hijau di bagian chat itu, lalu suara telpon pun mulai berdering...
"Halo." jawaban dari balik telpon hampir saja membuat Nandin melompat dari kasur nya.
"Halo Mas, kenapa tidak membalas pesan ku?"
"Mas rindu, rindu sekali."
__ADS_1
"Aku juga." Jawab Nandin dan air mata bahagia nya mengalir lagi.
Tetapi hanya itu percakapan mereka. Percakapan pun ditutup oleh Riko. Menyisakan tanya yang dalam untuk Nandin. Ia berusaha menghubungi kembali nomor kekasih nya itu tapi nihil, panggilannya tidak terhubung.