LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
KEPUTUSAN PALING SAKIT


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, KOMEN NYA YA GUYS JUGA KALAU BERKENAN VOTE NYA. AUTHOR SANGAT BERTERIMAKASIH PADA KALIAN YANG MENDUKUNG. ILOVEYOU.


Nandin memikirkan hal-hal yang membuat nafsu makan dan tidurnya tidak nyaman. Dia tahu apa yang dilakukannya dibelakang Dokter Riko pasti menyakitinya,itulah yang mengganggu pikirannya.


Nandin mengambil handphone nya lalu menghubungi Aditya dengan mengiriminya pesan teks untuk bertemu di sebuat kedai kopi. ia bersiap dan tidak lupa membawa tas kecilnya.


Kedai kopi yang dimaksud adalah sebuah cafe bernuansa vintage di tengah ibukota, tempat ngopi yang masuk kedalam kedai kopi cukup terkenal dan waralaba. Nandin lebih suka menyebut itu kedai kopi karena saking seringnya dia membeli kopi dari sana.


Nandin sampai di kedai kopi itu setelah memesan, ia duduk di meja kayu berbahan jati, menghadap jendela besar kayu nan tinggi. Pemandangannya langsung disuguhkan kebagian dalam mall. Seorang barista menghampiri tempat duduk gadis itu memberikan pesanannya segelas coffe dengan creame dan lelehan coklat tampak di dalam gelas yang terdapat merk kopi itu juga namanya.


Seorang lelaki terlihat berjalan menuju kedai kopi itu menggunakan jas, lelaki yang sungguh enak dipandang. Senyumnya mengembang begitu melihat gadis yang menuggunya.


Aditya melambaikan tangan pada gadis itu, senyumnya tersungging sepanjang jalan, sampai dia duduk didepan gadis itu.


''Sudah lama menunggu?'' Aditya menaruh satu tangan nya di atas meja, kakinya yang jenjang tampak menapak sejajar di bawah meja.


''tidak, baru saja sampai'' Nandin menjawab pertanyaan Aditya, dengan sejuta kebingungan yang akan dihadapinya,


''Aku pesan dulu ya'' Ucap Aditya.


Nandin mengangguk, sedangkan Aditya memesan kopinya. Nandin memperhatikan Aditya yang sedang memesan kopi. Hatinya sungguh amat bimbang.


''Habis ngopi mau makan?'' Tanya Aditya sebari menaruh secangkir kopi dengan varian lebih kecil bertuliskan expresso, tapi yang menarik perhatian Nandin adalah tulisan di bawahnya, jika biasanya orang akan menulis nama mereka, Aditya menulis nya dengan kata kata sudah ada yang punya.


''Kenapa tulisannya begitu'' Tanya nandin, rupanya ia tertarik mengetahui alasannya.


''karena aku sudah ada yang punya, aku tidak tahan dilihat para barista perempuan itu'' Jawab Aditya.


Nandin tertawa kecil mendengar ucapan Aditya,


''Aku mau bicara sesuatu,ini penting sekali'' Ucap Nandin.

__ADS_1


Aditya mengangguk, tatapannya langsung fokus kepada gadis itu. Siap mendengar apa yang akan dikatakannya.


''Dit, aku memikirkan beberapa hal yang membuatku menjadi susah tidur, sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi.'' Lanjut Nandin, membuat Aditya mengernyitkan dahinya.


''Kamu tahu,aku berstatus kekasih mas Riko, kita berada di jalan dan takdir yang salah, aku tidak mau begini'' Nandin terhenti memenggal ucapannya..


''Okay jadi kapan kamu mau bilang ke Riko dan menyudahi hubungan kalian?'' Ucap Aditya, kini giliran Nandin mengernyitkan keningnya.


Nandin mengambil nafas dalam-dalam, lalu menyeruput kopi didepannya, melirik jendela besar dihadapannya. Lalu kembali fokus pada Aditya. ''Bukan aku dan Riko, Dit. Kita yang seharusnya menyudahi hubungan kita. Aku tidak ingin ada hubungan di dalam hubungan'' Jawab Nandin.


Aditya menatap gadis dihadapannya, yang sedang dengan lantang berbicara padanya. Aditya menarik nafas lalu membuangnya keudara, tangannya dikepalkan diatas meja. ''Din, kita bisa menghadapi ini, jangan gegabah mengambil keputusan,''


''Aku sudah memikirkannya Dit,''


''Bagaimana denganku Din?'' Aditya kini menggenggam tangan gadis itu, menatapnya memberi keyakinan.


''Tatap mataku? kamu tega ninggalin aku?'' Lanjut Aditya.


Nandin tidak tahan lagi menahan emosi jiwanya, ia pergi meninggalkan Aditya. Aditya sama sekali tidak mengejar gadis itu, ia tahu Nandin dan dirinya sama-sama butuh waktu. ''Din, kopi pahitku belum ku tenggak, tapi sesuatu yang lebih pahit sudah masuk dan mendarah daging dibagian dadaku,'' Aditya berbicara sendiri menatap gelas kopi expresso miliknya sebari memukul dadanya.


Nandin keluar dari tempat itu, berlari menjemput udara segar diluar sana, berharap akan meringankan sesak di dadanya. Rupanya angin yang berhembus malah membuat bulir-bulir air terjatuh mengalir di pipinya. Langkahnya gontai, perasaanya menyiratkan luka yang berat.


Ia menghentikan sebuah taxi, lalu membuka pintu kendaraan itu dan langsung menyandarkan badannya, meskipun sudah menengadahkan wajahnya rupanya lukanya tetap terasa, hatinya lebih hancur dari sebelumnya.


''Mau kemana non?'' Ucap supir taxi itu.


''TPU Platinum pak'' jawab Nandin.


''Baik non'' Jawab supir taxi itu dan langsung mengemudikan mobilnya.


Nandin tak tahan menahan tangisannya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya,suara tangisnya sampai tersedu-sedu. Mendengar tangisan gadis jok belakang kendaraannya membuat si supit taxi berpikir bahwa keluarganya baru saja meninggal, mengingat ia akan pergi ke pemakaman umum.

__ADS_1


Nandin sampai di tempat peristirahatan terakhir ayahnya, ia membayar taxi dan segera turun. tidak lupa membeli bunga di pintu masuk TPU itu.


''Bunga siapa ini?'' Lirih Nandin melihat sebuah bucket bunga di atas pusara ayahnya.


Nandin berpikir apakah Aditya datang kesini?, ia pun menaruh bucket yang dibawanya di atas pusara ayahnya,


Nandin memanjatkan do'a untuk ayahnya, sampai pada akhirnya sesi curhatnya dimulai. ''Ayah, aku datang. Maaf butuh waktu cukup lama mengunjungimu, kemarin kakak sakit, tapi hari ini sudah sembuh'' Ucap Nandin mengelus batu nisan dan pusara yang dipenuhi rumput jepang itu,


''Ayah,'' Ucapan Nandin terpenggal, airmatanya mendahului ucapannya.


''Aku tidak selalu baik-baik saja seperti yang aku lakukan, aku mengunjungimu bukan karena aku tidak menceritakan semua masalahku pada Alloh, aku hanya terbiasa memiliki bahumu untuk bercerita, aku tidak pernah cerita pada Tama, aku tidak ingin membebaninya.'' Air mata Nandin semakin deras mengalir, tangannya menutupi wajahnya lagi.


''Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku tidak ingin membuat orang lain terluka, aku menyelamatkan satu hati tapi melukai hati yang lain'' Lirih Nandin.


''Ayah, aku seharusnya tidak menceritakan kesedihanku pada ayah, maafkan aku, aku akn menceritakan hal lain'' Nandin berusaha menghampus airmatanya dan tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.


''Ayah, Tama sudah dewasa ia sudah bisa memasak, kemarin Mama juga datang, tapi Tama belum bisa memaafkannya. Sebenarnya aku juga belum bisa menerima seolah semuanya baik-baik saja, tapi bayangan bagaimana dia meninggalkan kami selalu membuat hatiku ciut'' Ucap Nandin bercerita di depan pusara itu.


''Ayah, aku tahu kamu ingin anak-anakmu hidup bahagia, aku akan hidup bahagia mulai sekarang. Aku akan menjauhi sesuatu yang membuatku terluka.'' Ucap Nandin.


Bercerita adalah salah satu cara mengurangi stres dan beban perasaan, Nandin tidak percaya oranglain, untuk itu dia selalu bercerita pada ayahnya, walau tidak akan mendapat nasihat solusi karena ayahnya sudah berada di dunia berbeda, tapi itu meringankan rasa gundah perasaannya.


Nandin pamit pulang pada lelaki kesayangannya itu, tidak lupa salam dan senyuman dia sunggingkan dan berjanji akan sering berkunjung, juga lain kali akan mengajak Tama.


sedikit bebannya berkurang karena dicurahkan dan tidak semua dipendam, walau pada akhirnya kenyataan akan membuatnya andil dalam mengambil keputusan hidup.


Semua orang bisa hidup, tapi berdampingan dengan masalah dan segala konsekuensinya. Jika hidupmumu ingin aman, tidak mengambil keputusan bukanlah jalannya. Percayalah pada suatu masalah yang mendewasakan itu membuatmu lebih baik.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN , VOTE YA GUYS.


AUTHOR SANGAT BERTERIMAKASIH PADA KALIAN, DAN AKAN SELALU BERUSAHA MEMBUAT YANG LEBIH BAIK.

__ADS_1


ANDINI_818


__ADS_2