
Dokter Riko dan ibunya memasuki kabin pesawat lalu duduk dengan nyaman di kursi pesawat kelas satu. Dokter Riko menengadahkan wajah nya dan menarik napas panjang, perjalanan pulang nya akan memakan waktu lebih panjang, selain menghabiskan waktu perjalanan 1 hari lebih dari Melbourne Australia ke Indonesia, hati nya lebih dulu sampai tak bisa menunggu lagi untuk segera bertemu gadis pujaan nya.
***
Nandin bangun dari tidur nya dan mendapati Tama sudah menggantikan Aditya menjaganya. "Dek kak Adit kemana?"
"Pulang dulu Kak katanya, nanti kesini lagi"
"Oh gitu." Jawab Nandin lesu.
"Kenapa kakak kangen ya?" Ejek Tama pada Kakak nya.
"Tidak." Jawab Nandin ketus menarik selimut nya menutupi wajah nya lalu mengubah posisi menjadi miring ke samping.
Baru saja Nandin berbalik posisi. Plastik obat di atas meja depan sofa menarik perhatian nya. "Dek itu obat ya?." Tanya Nandin.
"Iya kak. Bukan punya kakak kaya nya."
"Iya bukan. Tadi kakak liat kak Adit taro disituh, tolong dong Kakak mau lihat." Pinta Nandin.
Tama berjalan dan meraih plastik obat di atas meja lalu memberikannya pada Kakak nya yang sedang berbaring di atas kasur pasien. "Nih kak." Ucap Tama saat menyodorkan.
Nandin merogoh bagian dalam plastik itu dan menarik keluar isi di dalam nya, hanya obat tetapi menarik perhatian Nandin karena belum pernah melihat obat dengan merk ini. "Isosorbide Dinitrate" Ucap Nandin membaca tulisan di bungkus obat itu.
"Obat apa kak?" Ucap Tama.
"Entahlah dek, kakak juga baru lihat."
Pintu kamar bergeser dan seorang suster masuk mendorong sebuah troli berisi makanan. "Selamat siang, saya kirim makan dan obat yang harus diminum ya jam 1 saya akan kembali untuk chek makanan dan obat nya."
"Terimakasih Sus," Jawab Nandin.
Suster itu mengangguk pelan sambil tersenyum. Dan kembali mendorong troli nya.
"Eh Sus," panggil Nandin membuat Suster itu berbalik.
"Iya." Jawab Suster.
"Saya mau tanya ini obat apa ya?." Nandin menyodorkan obat yang sedari tadi di genggamannya.
"Suster itu meraih obat tersebut." Ini obat jantung, wajib dibawa bagi penderita jantung Aritmia karena kemungkinan mereka akan merasa sesak atau tiba tiba pingsan menahan sakit."
__ADS_1
"Jantung sus?" Jawab Nandin kaget.
"Iya betul, ada yang bisa saya bantu lagi?
"Tidak sus terimakasih."
"Baik kalau begitu saya pamit ya." Suster itu kembali mendorong troli dan keluar dari ruangan Nandin.
"Kak, kak Adit sakit jantung?." Tama bertanya pada kakak nya yang juga sedang terpaku kaget.
"Entahlah dek, kakak kira dia hanya sakit biasa, waktu itu kakak diberi tahu oleh Ayah Mas Riko lalu kakak bertanya pada Aditya tapi dia bilang itu bukan masalah besar." Nandin memandang jauh pandangan nya sebari berbicara pada Tama.
"Padahal sedari pagi kak Adit jagain kakak, bahkan datang pagi-pagi sekali saat adek kabari kakak terluka." Ucap Tama menyesal.
Nandin tampak gusar. "Dek tolong Handphone kakak."
"Iya kak." Tama memberikan benda persegi itu kepada kakak nya.
Nandin masih termangu tetapi akhirnya tangan nya membuka pola kunci di layar handphone nya dan mengklik kontak laku mengetik nama Aditya, bukan chat yang dia lakukan tapi telpon. Suara deringan telpon pun langsung terdengar setelah Nandin mengklik gambar telpon itu.
"Hallo" Suara telpon berdering sudah terganti dengan suara seseorang menjawab telpon nya.
"Iya kenapa Din?"
Nandin diam sejenak memikirkan yang terjadi dan kenyataan yang mengagetkan nya. Nandin berpikir kembali untuk tidak menanyakan tentang penyakit Aditya dan berusaha mencari alasan untuk menyembunyikan rasa panik nya. "Dit kamu kan yang jadi wali aku. Bisa enggak aku pulang saja hari ini aku bosan di Rumah Sakit." Jawab Nandin keluar dari jalur yang sebelumnya ingin mencari kebenaran rasa penasarannya.
"Loh kenapa begitu Din. Perban kamu saja belum dilepas kamu saja baru siuman."
"Aku bosan di Rumah Sakit Dit. Aku di rumah saja."
"Kamu mikirin biyaya ya? jangan khawatir aku sudah bayar kok tadi pagi." Jawab Aditya.
"Bukan itu Dit." Gumam Nandin dalam hati.
"kamu bosan ya? nanti aku sebentar lagi kesitu ya?" Lanjut Aditya.
"Kamu istirahat aja enggak apa-apa, aku kan ada Tama." Jawab Nandin, karena menghawatirkan keadaan Aditya.
"aku lagi enggak ada kerjaan kok. Biar kamu gak bosen juga." Jawab Aditya.
"Kamu hati hati ya jangan lupa makan juga." Nandin memberikan perhatian langsung dibalik telpon untuk pertama kalinya kepada Aditya.
__ADS_1
"Makasih ya, kamu juga."
Telpon pun di tutup. Aditya yang sangat senang mendapat perhatian dari Nandin sampai mengguling gulingkan diri di atas kasur nya yang lebar saking bahagianya.
***
Nandin menyimpan kembali telepon nya. Lalu melirik obat dan juga jatah makan siang nya. Melihat itu membuat Nandin teringat kejadian tadi pagi saat dia susah sekali meminum obat dan dibantu oleh Aditya.
Nandin tersenyum sendiri sebari menyantap makanannya.
"Dek. tolong remukan obat dong kakak mau minum obat." Panggil Nandin pada Tama yang duduk di sofa pojok ruangannya.
"Kaya anak kecil ajah kak." Jawab Tama tetapi tetap melakukan yang diminta Kakak nya.
Nandin mengambil posisi memegangi hidung nya dan memasukan sendok berisi obat yang sudah di remukan Tama dan ditambah sedikit air. Setelah obat nya lancar masuk ke tenggorokan nya Nandin langsung meminum air putih dan merasa senang karena berhasil meminum obatnya.
***
Jam sudah berputar dan menunjukan pukul 13.00 Aditya belum juga datang. Padahal jelas jelas Nandin berbicara agar Aditya istirahat saja tetapi nyatanya dia menunggu kedatangan nya juga.
Pintu kamar kembali tergeser tatapan Nandin langsung pada pintu itu dan berharap orang yang ditunggu nya datang. "Siang, saya ambil bekas makan nya ya." Suster yang memberikan makanan tadi rupanya kembali untuk mengecek dan mengambil piring bekas makan.
Nandin mengangguk tetapi tersirat kekecewaan di wajahnya.
"Kak adek tidur bentar ya. kalau mau apa-apa bangunin ajah." Ucap Tama sebari meregangkan tubuhnya lalu membaringkan diri di atas sofa panjang.
"Tidur terus, kakak bosan dek." Jawab Nandin.
"Adek cape kak, kakak istirahat saja biar cepet pulang." Jawab Tama.
"Ini juga gara gara siapa kakak disini."
"Ya maaf kak." Tama membalikan badan nya menghadap tembok dan melanjutkan tidur.
Nandin yang berada di posisi duduk menyandarkan badan nya. Hanya melirik dan melirik lagi pintu ruangan nya berharap tergeser dan mendapati Aditya memasuki ruangan nya.
Handphone nya kembali dia raih dan mengecek barangkali ada pesan atau telpon dari Aditya tetapi tidak mendapatkan nya.
Entah mengapa perasaan Nandin terpaku tentang segalanya menjadi tentang Aditya, entah perasaannya yang berubah atau karena Riko yang terlalu mengabaikannya.
Nandin bahkan untuk pertama kalinya melewatkan rutinitas nya untuk memberi kabar kepada Dokter Riko, juga tidak memberitahukan tentang keadaannya.
__ADS_1