LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
BENTAKAN ADITYA.


__ADS_3

Rasa shock pada seseorang dapat membuat pikiran dan pendengaran nya tidak konsen. Nandin menyipit kan matanya setiap menerima jawaban demi jawaban dari Ayah Dokter Riko. Tidak ada sedikitpun pikiran nya bahwa kejadian selama ini disebab kan karena kenyataan seperti ini.


Lalu apakah Dokter Riko pantas memperlakukan Nandin seperti ini. Lantas apakah Nandin juga sudah benar bertingkah seperti ini selama ini pada Aditya. Pikiran-pikiran itu mulai hinggap di pikiran Nandin di sela-sela ucapan Ayah Dokter Riko.


Rasa yang belum pernah di alami Nandin kini menyergap perasaan nya.


Setelah Ayah Dokter Riko selesai menjelaskan Nandin pulang membawa sejuta rasa yang bahkan susah sekali untuk di uraikan dan bagaimana cara mengungkapkan nya.


Nandin berjalan dari area komplek rumah Dokter Riko sampai ke jalan raya dan hanya duduk di tempat pemberhentian busway, memegangi tali kecil tas nya dengan kedua tangan, menggigit bibir bawah nya lalu akhirnya bulir air mata menetes tepat membasahi kedua pipinya ia hanya menangis sesenggukan lalu terduduk di kursi menutup kedua mata nya dengan tangan nya.


Seseorang menghentikan mobil nya dan membunyikan klakson. Membuat gadis itu mengangkat wajah nya. Pemilik mobil itu menurun kan jendela mobilnya. "Din, hei mau kemana ayo aku antar." Senyum lelaki itu mengembang.


Nandin menatap lekat lekat pada wajah yang dilihat nya, bagaimana mungkin dia menyembunyikan hal ini serapat mungkin. "Hai Dit." jawab nya singkat.


"Aku menyediakan tumpangan ayo masuk."


Biasanya Nandin bukan orang yang gampang di ajak begitu saja, tetapi hari ini dia masuk begitu saja ke mobil lelaki itu. Gadis itu membuka pintu mobil lalu duduk di kursi depan sebelah Aditya, memasang seat belt lalu kembali memegangi tali tas kecil nya itu.


Aditya mulai menginjak gas mobil nya setelah memastikan gadis itu sudah duduk dengan nyaman. "Dari mana Din?"


"Dari rumah Mas Riko Dit."


"Oh, ketemu Tante sama Om ya?"


"Enggak, Mama lagi pergi ke Australia jenguk Mas Riko."


"Tante ke Australia?." Aditya tampak kaget mendengar ucapan Nandin.


"Iya."


Nandin memperhatikan Aditya yang tampak panik, menyetir saja dengan satu tangan sedangkan tangan satu nya di sandarkan ke mobil dan dia menggigiti kuku ibu jari nya. Sikap itu hanya sikap yang ditunjukan saat seseorang panik atau takut.


"Dit, boleh tanya tidak?


Aditya melirik Nandin dan mengangguk.

__ADS_1


Nandin tampak menggigit bibir bawah nya, memalingkan pandangannya ke atas dan menarik nafas dalam dalam.


Mendapati Nandin yang penuh tekanan dalam sikap nya membuat Aditya mengernyitkan dahi nya penuh pertanyaan.


"Kamu kenapa baik sama aku, padahal sikap ku ke kamu tidak dalam kategori wajar."


Aditya sekali lagi melirik gadis itu. tapi langsung fokus kembali dengan setir nya. "Kamu memang kenapa sikap mu baik baik ajah ko."


Giliran Nandin melirik lelaki di samping nya. "Dit?,"


"Iya Bey."


Ucapan Aditya membuat keduanya saling memandang. Aditya yang menyadari ucapan nya langsung salah tingkah. "Din maaf aku ..."


Nandin langsung memotong ucapan Aditya. "Enggak apa-apa Dit."


Mendengar jawaban Nandin Aditya tersenyum. "Kamu mau tanya apa?."


"Apa kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?."


Aditya tiba-tiba memelankan mobilnya. melirik kembali ke gadis itu dan mendapati gadis itu juga menatap nya. Suasana menjadi sedikit canggung. "Sesuatu apa?."


"Bukan kah seharus nya kamu tidak harus tahu apa-apa lagi tentang ku, kamu harus belajar berhenti mencari tahu sesuatu yang mungkin tidak bagus untukmu." Aditya menjawab dengan nada dingin dan mata yang fokus dengan kemudi nya.


Nandin yang menyadari perubahan itu langsung mengerti arah bicara Aditya.


"Kata Ayah Mas Riko kamu sakit Dit.?


Aditya langsung masih meluruskan pandangan nya dan berteriak. "Cukup Din, aku bilang berhenti mencari tahu apa pun yang tidak penting."


Nandin terkejut mendapat jawaban dengan nada keras Aditya. membuat nya mematung menghadap Aditya.


"Maaf Dit." Nandin menangis dan menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.


"Tolong Din, jangan mencari lebih jauh, gunakan tangan mu untuk menutup mata mu agar tidak melihat yang tidak ingin kau lihat, dan tutup telinga mu agar tidak mendengar sesuatu yang menggangu mu." Aditya mengucapkan nya dengan mencengkeram setir nya dengan erat.

__ADS_1


Suasana hati keduanya tampak tidak bagus.


Mendapati Nandin yang masih menangis disebelah nya membuat Aditya meminggirkan mobil nya. berhenti di pinggir jalan.


"Maaf Din, aku gak bermaksud bentak kamu."


Nandin mengangkat wajah nya melirik kepada Aditya. "Apa aku bener bener gak berhak tahu Dit?."


Melihat gadis itu berlinang air mata Aditya tak kuat menahan emosi nya. "Din berhenti nangis depan aku, aku gak bisa lihat kamu sedih gara gara hal kaya gini." Aditya kembali berucap dengan nada keras.


"Kenapa Dit? kamu ingin aku tidak memikirkan mu tapi kamu selalu ada di sekelilingku, ikut campur semua urusan ku." Nandin berteriak tak kalah keras kepada Aditya.


"Laku aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan? aku tidak pernah lebih takut dari ini Din." Aditya menggigit bibir bawah nya dan memegangi dahi nya.


Nandin replek mengulurkan tangan nya dan menepuk pundak Aditya. Suasana di dalam mobil menjadi haru.


"Aku bahkan belum bisa mencerna yang terjadi Dit, aku juga tidak mengerti sikap Mas Riko, dan alasan kamu bersikap begini, aku ingin mendengar nya dari kalian langsung empat mata."


"Ayo kita ke Australia."


Nandin melotot mendengar ucapan Aditya. "Ke Australia?."


Aditya mengangguk. "Kamu harus memperbaiki hubungan mu dengan Riko."


Nandin mengerutkan kening nya. Perasaan rindu nya pada Dokter Riko kini berubah menjadi netral. "Aku harus memikirkan nya Dit." Nandin kembali membenahi posisi duduk nya.


Aditya kembali mengendarai mobil nya setelah menarik nafas dalam-dalam. Suasana menjadi canggung tanpa kata. Nandin mengalihkan pandangan nya keluar mobil. Aditya fokus pandangan nya ke depan. Pikiran mereka berdua terbang entah kemana.


Mobil Aditya berhenti di depan rumah Nandin. "Dit makasih ya?." Nandin mengucapkan dengan lembut tak bertenaga.


Aditya menarik tangan Nandin sebelum membuka pintu mobilnya. "Din, pikirkan baik-baik, hubungan mu dengan Riko bisa diperbaiki kita harus ke Australia mengunjungi nya, Riko sedikit keras kepala tetapi di depan mu dia akan luluh."


"Aku akan memikirkannya Dit, aku bingung Tama kan di rumah sendirian."


"Tama bisa di titip di rumah ku, kan ada Bu Sari yang jaga."

__ADS_1


"Aku akan mengabari mu nanti, hati hati mengemudi nya ya kabari aku jika sudah sampai rumah."


Aditya mengangguk dan melepaskan tangan Nandin. Gadis itu memasuki rumahnya tanpa menengok kembali. Aditya menatap nya dari dalam mobil nya. "Aku tidak akan membuat mu bersedih lagi Din, aku akan mengusahakan kebahagiaan untukmu." Lirih Aditya dalam hati.


__ADS_2