LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
KEMARAHAN TAMA!


__ADS_3

 Aditya keluar dari kamar mandi, dan mendapati Nandin dan juga Tama sedang makan. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati mereka,''Pagi Tam?'' sapa Aditya.


 Tama hanya melirik Aditya dan menaikan alisnya, lalu mendelikan matanya ke arah Nandin. Memberi isyarat pada Aditya, membuat Nandin kebingungan. Aditya pun bertindak malu-malu merasa Tama benar-benar menggertaknya.


 ''Sayang! Ada yang mau aku omongin,'' ucap Aditya, membuat Nandin menatapnya dengan seksama. Juga Tama yang tidak sabar, melihat Aditya mengucapkan kata-kata semalam yang sudah disepakati mereka.


 Nandin hanya memberi tatapan serius pada Aditya!, ''Aku memutuskan untuk menikahimu, aku sebenarnya igin melamarmu dengan pantas. Tapi ada suatu kendala yang membuatku harus melamar sesederhana ini, padahal aku bisa saja menyewa hotel bahkan pulau untuk mengistimewakan ini,'' Aditya mengacak rambutnya dan menatap Tama, dia merasa calon adik iparnya itu meruntuhkan harga dirinya, padahal bayangannya ingin sekali melamar Nandin di tempat yang akan selalu dikenang gadis itu.


 Nandin mematung, matanya terbelalak tajam. Bulir airmatanya mengalir dipipinya yang tirus, kecantikan alaminya berkilau karena tersiram air mata bahagia! ''Dit, aku gak nyangka, aku benar-benar memimpikan kamu akan memintaku di depan waliku, karena ayah sudah tidak ada, sudah pasti aku ingin kamu melamarku didepan Tama. Aku tidak peduli bahkan jika kamu melamarku dimanapun, aku sungguh bahagia.'' Nandin mengelap air matanya.


 Aditya tidak menyangka, gadis itu akan sebahagia ini karena lamarannya yang tiba-tiba bahkan tdak ada persiapan. Dan bahkan ia hanya memakai piama. Sebelumnya Aditya memang melamar Nandin dirumah sakit, tetapi ia berencana memintanya menjadi istri dengan resmi, tetapi ia juga tidak menyangka jika harus melamar resmi menggunakan piama.

__ADS_1


 ''Aku sungguh akan menjagamu, aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi. Aku berjanji akan melindungimu, Sungguh!.'' ujar Aditya.


 Tama membelalakan matanya, tidak menyangka bahwa dalam posisi seperti ini, kakaknya masih melibatkannya dalam urusan asmara. Tama tahu bahwa kakaknya itu tidak seperti perempuan lain, yang mungkin akan meminta acara lamaran mewah karena memiliki pacar yang kaya raya. Tetapi berbeda dengan Nandin, ia akan menyukai hal sederhana sekalipun, meskipun itu sekali dalam hidupnya.


 Nandin menutup wajahnya, tidak menyangka akan merasa sebahagia ini, diminta sebagai istri oleh laki-laki yang dicintainya.


 Suara ketukan didepan pintu rumah, membuat Nandin berlari ke arah pintu untuk melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi sekali.


 ''Pake nanya lagi, kamu nyimpen laki-laki kan didalem rumah?'' ucap ibu-ibu itu, sedikit bernada tinggi.


 Suara ribut itu membuat Aditya bangkit dari duduknya, juga Tama yang mengikuti langkahnya.

__ADS_1


 ''Ada apa ini,'' ujar Aditya begitu keluar dari rumah Nandin.


 Tatap bapak dan ibu itu, berubah menjadi curiga. Begitu melihat Aditya keluar dari dalam rumah Nandin, menggunakan piama.


 ''Tuhkan pak bener, saya udah curiga Nandin memang memasukan laki-laki kedalam rumahnya. Dia kan tidak punya pekerjaan, mungkin begini lah caranya dia bisa menyekolahkan si Tama,'' ucapan ibu itu, membuat Nandin berderai airmata.


 Aditya tidak tahan dengan ucapan ibu itu yang menyudutkan kekasihnya, juga Tama yang mengepalkan tangan, karena tidak terima mendengar ucapan tetangganya itu kepada kakaknya.


 Nandin memegangi menahan Aditya yang seperti ingin mengamuk, juga memegang tangan Adiknya yang wajahnya sudah memerah. ''Sudah puas sampai sini? sudah plong hati anda mengucapkan kata-kata itu untuk kakak saya? bukankah, sebagai tetangga harus membantu ketika ada tetangganya yang kesusahan, kakak saya membesarkan saya dengan jerih payahnya. Uang yang dia hasilkan murni dari keringatnya, kalian dimana saat ada dua anak hidup kesusahan dilingkungan kalian, bukankah jika ada kesalahpahaman kalian harus menanyakannya terlebih dahulu, mengingat kalian tidak peduli kepada kami sebelumnya?'' Tama mengeluarkan semua unek-uneknya.


 Rasa sakit hatinya terhadap ucapan ibu-ibu itu, membuat anak SMA ini mengambil langkah membela kakak semata wayangnya. Manusia bisa sakit bukan karena di terluka diuar, tapi bisa juga karena ucapan, dari tajamnya lidah yang menyayat hati.

__ADS_1


 Mereka mungkin bisa memaafkan, tapi beum tentu melupakan.


__ADS_2