
Mobil dengan bunga indah itu pun, terparkir tepat didepan rumah Aditya. Yuni dan Rani rupanya ada dirumah karena menjaga rumah, sedangkan Bu Sari memang ada diacara tadi.
Dua asisten rumah tangga itu saling melirik karena Tuan mudanya sudah tiba lebih cepat dari perkiraan, bersama nyonya muda nya yang baru sah itu.
Nandin kembali digendong Aditya memasuki rumah, yang pintunya sudah terbuka lebar dibuka oleh Rani dan Yuni.
"Selamat datang Tuan muda, nyonya muda! Selamat atas pernikahannya ucap mereka bebarengan.
"Terimakasih ya, Yun, Ran." Jawab Aditya, ini pertama kali Aditya memanggil nama kedua asistennya yang masih muda itu. Membuat Rani dan Yuni saling menatap.
Aditya menaiki tangga rumahnya, sebari terus menatap wajah istrinya, tetapi dengan langkah pasti.
"Aku bahagia sekali, kini aku tak harus malu menginap di rumahmu." lirih Nandin, begitu Aditya membuka pintu kamarnya, lalu meletakan Nandin di atas kasur nya yang lebar itu.
Aditya menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Memastikan arena tempurnya tidak di ganggu siapapun. Lalu kembali menghampiri istrinya yang tergeletak itu.
Aditya duduk disamping tubuh istrinya. Membelai pipinya adalah langkah pertama yang dilakukan, kecupan pun langsung mendarat dikening, turun kebawah menuju bibir merah gadis itu.
Ciuman itu dilakukan atas dasar cinta, dengan penuh perasaan Aditya melakukannya dengan lembut. Tangannya sengaja diletakan dibagian perut Nandin yang rata, ciuman itu semakin tak berbalas, Aditya merasa aneh.
Lelaki itu menarik badannya, dan membelalakan mata. "Astaga," Aditya menepuk jidatnya! Istrinya sudah tidur. Pantas saja ciumannya hambar.
Aditya padahal sudah membayangkan akan pertempuran penuh gairah di atas ranjangnya itu, tetapi melihat istrinya tertidur, membuatnya tidak tega.
"Tapi Nandin belum ganti baju," lirih Aditya.
Aditya pun kebingungan, mengingat Bu Sari masih ada di acara pesta. Dan belum terbiasa langsung menyuruh asisten rumah tangga nya yang lain.
"Apa aku saja yang lakukan, aku kan sekarang suami sah nya. Jadi sudah halal dan diperbolehkan," Aditya kembali membenarkan jiwa kelaki-lakiannya.
Kini ia memberanikan diri melepas gaun pengantin istrinya itu, Nandin sepertinya benar-benar kelelahan, sampai tidak bergerak sama sekali begitu suaminya membuka gaunnya.
"Ah, pantas kamu lelah sekali, baju ini sangat berat sayang." ucap Aditya begitu membuka gaun istrinya.
Kini didepan matanya pemandangan indah memanjakan penglihatannya. Tubuh istrinya yang mempesona tidak bisa membendung hasrat laki-lakinya.
"Astaga Nandin, bagaimana bisa seindah ini." Aditya menggerutu sebari meremas kepalanya.
__ADS_1
Kemudian laki-laki itu membuka jas hitamnya dilempar lah ke arah antah berantah tanpa dilihat. Badan Nandin yang hanya dibalut oleh kemben putih dan celana pendek pun disentuh lelaki itu.
Kaitan kembennya kini dibuka kaitannya, dengan cekatan oleh tangan seorang Aditya Sakseno. Tanpa aba-aba kemben itupun menyusul perginya si jas.
Pemandangan yang sungguh tidak bisa ditolak mata seorang lelaki, Aditya membuka dua kancing kemeja atasnya. Menyentuh tubuh perempuan yang tertidur pulas didepannya.
Kini rambut perempuan itu, Aditya buka setiap hiasan yang menghiasi rambut istrinya.
"Sayang, bangun. Ayo kita..." Aditya tidak melanjutkan ucapannya.
Tangannya kini berada di atas kedua buah persik istrinya. setelah itu kini Aditya menurunkan posisi wajahnya dan membenamkan nya disana.
Masih dengan posisi itu cukup lama, pegangannya melonggar, dan begitu ia mengangkat wajah dari sana, stempel merah terdapat di atas dada istrinya.
"Ah sayang, aku akan menahannya sampai besok. Bagaimana bisa aku melampiaskannya saat tidak ada perlawanan," Aditya bangkit dari posisinya dengan putus asa.
Mengambil baju tidur dan menggantikan baju istrinya dengan baju tidur, lalu ia membersihkan diri.
Bahkan sampai dikamar mandi pun, bayangan tubuh Nandin menempel dikepalanya. Sekuat tenaga Aditya menahan diri.
Setelah itu mereka akhirnya tidur, setelah kelelahan seharian, dan Aditya kelelahan menahan gairah tak terlampiaskan ya.
Tidur dalam posisi memeluk perempuan itu, Nandin pun menggeser tubuhnya mendekat, tanpa membuka matanya. Aditya sudah berharap bahwa istrinya akan bangun, tapi ternyata sia-sia. Dia hanya mengigau.
Pelukan pun didapatkan Nandin dari suaminya itu, tanpa sepengetahuannya. Aditya mendekap Nandin di dadanya, dengan penuh kasih.
Elusan tangannya dikepala Nandin, membuat Nandin semakin nyaman dalam nyenyak tidurnya. Sampai Aditya pun mengantuk dan menyusul mimpi istrinya.
Aditya juga tidak mampu menahan ngantuknya walau masih sore, mau bagaimana lagi. Lelahnya tubuh membuatnya kalah untuk tetap membuka mata.
***
***
Dokter Riko memutuskan pulang sebelum acara usai. Ia mengunjungi kembali peristirahatan ayah Nandin.
Terdapat bucket bunga cantik, sepertinya dari Aditya dan Nandin saat meminta izin.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ayah, Riko datang hari ini." Ucapan Dokter Riko, tersengal Isakan tangisnya.
Kakinya tidak mampu menahan bobot tubuhnya, lututnya menyentuh tanah sejajar, terkulai. "Ayah, Riko sebenarnya tidak rela melepas Nandin, tapi Riko melihat kebahagiaan yang tidak pernah Riko lihat Dimata Nandin." ucap Dokter Riko.
"Kini Riko melepaskan janji tanggung jawab Riko, Aditya juga lelaki yang baik. Riko yakin, bahkan dia akan mau mengorbankan nyawanya untuk Nandin, ayah juga tak perlu khawatir finansial nya cukup untuk menopang Tama juga. Maafkan Riko ayah," Isakan tangis Dokter Riko semakin samar.
Luka di dadanya yang membuat sesak sepertinya mengalahkan keberanian bicaranya.
Langit menunjukan warna kemilau emasnya, haripun sudah mulai sore.
Matahari sepertinya sudah tak ingin berlama-lama bergandengan dengan siang, bulan sudah meronta ingin keluar dari peradabannya.
Dokter Riko menyelesaikan tangisannya yang pilu, lalu meminta izin pulang didepan pusara Ayah dari perempuan yang sangat dicintainya itu.
***
***
Bu Sari kembali kerumah tuan mudanya itu. "Kemana tuan muda?" tanya Bu Sari, pada Yuni dan Rani.
"Sudah masuk kemarnya, dengan nyonya muda," jawab Rani.
Bu Sari hanya menggelengkan kepalanya, mendengar kelakuan tuan mudanya, yang dirawatnya sedari kecil. Kini sudah berani mengikat janji untuk hidup bersama perempuan yang dicintainya.
segurat senyuman tersirat diwajah Bu Sari.
"Yasudah, jangan ada yang naik ke atas, kecuali tuan muda menelpon ya," ujar Bu Sari, mengetahui bahwa tuan mudanya itu sangat bersemangat saat pulang dari acara tadi.
Rani dan Yuni pun hanya mengangguk saja, mengerti posisi pengantin baru di lantai dua ituh.
Ah mereka sudah berpikir tidak-tidak. Padahal Aditya pusing sekali karena tidak tersalurkan.
Bu Sari langsung ke kamarnya, juga untuk istirahat setelah menghadiri pesta itu.
Sedangkan Rani dan Yuni, tidak habis terus menerka-nerka yang sedang dilakukan tuan mudanya yang tampan itu.
Membuat mereka cekikikan tidak berhenti.
__ADS_1