LELAKI IMPIAN

LELAKI IMPIAN
PELUKAN DI DERAS HUJAN.


__ADS_3

Riko dan Aditya keluar bersamaan dari kamar Nandin. Tama yang melihat pemandangan itu sudah mencium bau tidak beres, ditambah tatapan kakak nya dengan mata yang sembab.


"Dek, kakak ke rumah sakit dulu ya, Mama mas Riko sakit." ucap Nandin, pada Tama.


"Sakit apa kak, apa adek boleh ikut?" jawab Tama dengan raut wajah khawatir.


"kamu di rumah saja ya, nanti kalau sudah membaik baru kita kesana " jelas Nandin!


Tama membalas ucapan kakaknya dengan anggukan. Baru saja Nandin melangkahkan kakinya, tangannya yang terkulai disamping tubuh ditahan Aditya. "Bisakah kamu pergi bersamaku?" tatap Aditya memancarkan kecemburuan.


Dokter Riko yang melihat kejadian itu langsung mematung."Din, kamu berangkat sama Aditya, aku duluan" ujar Riko, seraya melangkahkan kakinya keluar rumah itu.


"apa kamu cemburu?" Nandin bertanya dan kemudian menyentuh tangan Aditya yang sedang mencengkram nya.


"tentu, aku tidak bisa lagi menahan ini." Aditya menundukkan kepalanya.


Nandin tersenyuum melihat lelaki itu takut kehilangannya. "Ayo kita berangkat bersama, aku tidak akan meninggalkanmu lagi" jawab Nandin.


Aditya mengangkat wajahnya."benarkah?" segurat senyum terpancar dari wajahnya.


Nandin mengangguk, lalu keluar rumah dengan menggenggam tangan Aditya.


***


***


Sesampainya di rumah sakit, ibu Dokter Riko sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Nandin memasuki area rumah sakit dengan menggenggam tangan Aditya. Riko tahu apa yang terjadi dibelakangnya, namun ia memilih tetap fokus kedepan, menahan hatinya yang pilu.


Nandin sampai di depan pintu ruangan ibu Dokter Riko, ia melirik Aditya. Meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Nandin pun melepaskan genggamannya dan memasuki ruangan itu. Aditya hanya terpaku menatap punggung gadis tercintanya.


Riko duduk dikursi tunggu, sesuai perintah karena ibunya belum mau bertemu. Aditya pun duduk di kursi itu, kursi yang sebenarnya bisa di duduki lima orang kini Aditya dan Riko berada di bagian ujung masing-masing kursi itu.


Begitu Nandin masuk, ternyata ada ayah dokter Riko. Nandin pun menyalaminya. "Nak, kamu sudah dayangy, mama mau bicara. Ayah, tinggal dulu ya?" ucap ayah Dokter Riko.


Nandin mengangguk, begitu pintu terdengar tertutup karena ayah Dokter Riko keluar ruangan. Nandin menarik kursi dan duduk disamping ranjang pasien.


Disentuhnya tangan wanita paruh baya, yang sudah ia anggap ibunya itu. "Ma, ada apa, kenapa bisa begini?" Nandin memastikan menahan air matanya.

__ADS_1


Ibu Dokter Riko yang menangis, "Nak, Mama rindu sekali. Bagaimana, kabarmu?." tanya ibu Dokter Riko, disela tangisnya.


Nandin mengangguk,"Nandin baik-baik saja Ma,"


"Maafkan mama nak, maafkan Riko" tangannya kini menggenggam tangan Nandin kuat-kuat.


Nandin rupanya tak bisa lagi menahan airmatanya. "Ma, ini bukan kesalahan mama, Nandin tidak apa-apa" Lirih Nandin.


"Mama tahu ini kesalahan yang fatal, mama masih berharap kamu bisa memaafkan Riko, dan menjadi menantu mama" Ibu Dokter Riko, berharap Nandin menjawab.


Nandin tersentak mendengar pertanyaan itu, air matanya menetesi pipinya dengan pasti. Pertanyaan yang memberikan tekanan yang berat untuk pikirannya.


"Ma, mama harus sehat dulu ya. Nandin akan kemari sampai mama sehat ya.Jangan pikirkan hal apapun, Nandin tidak akan pernah lupakan mama" Nandin menjawab pertanyaan ibu dokter Riko dengan pasti, tanpa menyinggung mau atau tidak.


Nandin menepuk-nepuk tangan ibu Dokter Riko sampai ia terlelap, lalu keluar dari ruangan itu.


Begitu keluar dari ruangan, Nandin mencari Aditya ke semua penjuru lorong rumah sakit itu. Namun hanya mendapati Riko yang sedang menatapnya. "nyari Aditya?" tanya Riko.


Nandin mengangguk pelan, merasa tidak enak. akhirnya ia duduk di kursi tunggu. Duduk dengan posisi sama dengan Aditya, di ujung masing-masing kursi tunggu.


"Aditya lagi di ajak ayah makan" Lanjut Riko.


Nandin memainkan kukunya, seraya mengangguk. Riko bangkit dari duduknya, berdiri didepan gadis itu. Nandin mendongak karena kaget. "Din," ucap Riko.


"Mas, berdiri tidak enak dilihat orang. Nanti lututmu memar" Nandin menghiraukan ucapan Riko.


Dokter Riko meraih tangan gadis itu, dan mendongakan kepalanya menatap mata gadis itu. "bisa kah kamu jawab pertanyaanku?"


Nandin tidak menjawab, juga tidak menarik tangannya yang dipegang kuat-kuat oleh Riko.


"Pernahkah kamu menganggap ku sebagai lelaki?" Riko menundukkan kepalanya, airmatanya menetes dengan pasti.


"Tentu, aku pernah memberikan kepercayaanku seutuhnya terhadapmu Mas, tapi maafkan aku" ucap Nandin tersengal karena tangisnya. "aku kini mencintai lelaki lain, dengannya aku merasa berarti, dia tidak pernah pergi meskipun aku jelas-jelas aku memperlakukannya dengan tidak baik."


Riko mengangguk. "Aditya adalah lelaki yang baik, dia pantas mendapatkan mu. Maafkan keegoisanku yang malah membuatmu bingung memutuskan" Lirih Riko.


"Terimakasih Mas." Nandin menangis tetapi lukanya yang menganga kini mulai menutup, karena perasaan leganya.


***

__ADS_1


Aditya datang dari arah lain, melihat Nandin yang sedang disentuh tangannya oleh Riko. Ia tertegun cukup lama, namun Riko belum juga melepaskan tangan Nandin. Hal itu membuatnya berpikir bahwa Nandin berubah pikiran untuk tidak akan meninggalkannya.


Nandin melirik ke arah Aditya berdiri, ia langsung menarik tangannya yang membuat Riko juga tersentak kaget, dan melihat ke arah yang sama dengan pandangan Nandin.


Aditya mundur beberapa langkah, sebelum akhirnya ia membalikan tubuhnya dan berlari menjauh.


Nandin berlari mengejar Aditya, ia sudah tahu pasti Aditya salah paham atas yang dilihatnya. Nandin begitu frustasi saat ia sampai di lobby, ternyata hujan deras dan waktu sudah malam.


Ia sangat khawatir dengan Aditya.


Aditya berlari ke arah luar rumah sakit, dan menyusuri trotoar jalan dalam keadaan basah kuyup. Apa yang dia lihat membuatnya frustasi.


"Aku harus bagaimana lagi, apa yang harus aku lakukan lagi untuk meyakinkan dirimu Nandin. Aku tidak mampu pergi" Teriak Aditya.


Suaranya teredam air hujan yang deras, ia menjambak rambutnya dan menangis sejadi-jadinya.


Beberapa penyebab tangis adalah, luka, emosi, hilangnya kesempatan tersenyum.


Nandin menembus hujan deras itu, karena melihat mobil Aditya yang terparkir di depan rumah sakit, dan Aditya tidak ada disana.


Ia melihat lelakinya yang berlutut di bawah derasnya air hujan, ia dengan gontai menghampirinya. "Itu tidak seperti yang kamu lihat" Nandin menjelaskan, seraya memegang kedua pundak lelaki itu.


Aditya mengangkat wajahnya,"kenapa kamu kesini?"


"Aku khawatir kamu salah paham" jawab Nandin.


"Aku tidak salah paham, maafkan aku."


Nandin semakin bingung mendapati sikap kekasihnya itu.


"Aku percaya kepadamu, aku hanya mudah cemburu dan takut kamu akan berubah pikiran" Lanjut Aditya.


Masih dalam keadaan berlutut, Nandin menatap lelaki didepannya, yang sedang menundukkan wajah. Ia sekarang mengerti betapa Aditya takut kehilangannya. Dengan pasti, Nandin memeluk laki-lakinya.


Pelukan ini mungkin sudah jelas tidak akan menghangatkan, karena mereka berpelukan dibawah derasnya hujan. Tetapi pelukan ini menenangkan.


Aditya membalas peluk gadis itu.


JANGAN LUPA LIKE, JOMEN , VOTE YA GUYS. DUKUNG AUTHOR TERUS YA :)

__ADS_1


TERIMAKASIH



__ADS_2